Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Malam harinya


__ADS_3

Hari yang sangat melelahkan sekaligus menyebalkan bagi Agina. Padahal dirinya tidak bekerja hari ini. Tapi kehadiran Agra yang selalu mengikutinya di tambah Olivia yang terus memakinya karena merasa terabaikan oleh kekasihnya. Cukup membuatnya emosi.


Kalau di ingat kembali, kejadian seperti ini juga pernah terjadi.


Berendam jadi pilihannya untuk menghilangkan lelahnya sembari merenung kejadian yang terjadi hari ini.


"Sepertinya Agra mulai penasaran terhadap diriku." Menghela nafas. "Meskipun itu bagus untuk Agra, tapi tidak bagiku. Aku tidak mau mengulang kembali kisah rumit di masa lalu."


Cukup lama di kamar mandi sekitar satu jam. Agina keluar dengan lilitan handuk di tubuhnya. Mengambil piyama tidurnya dan memakainya. Perhatiannya teralihkan saat mendengar dering ponsel miliknya yang berada di atas nakas. Di ambilnya dan melihat layar yang menunjukkan nomor tidak di kenal.


Sesaat keningnya mengeryit sebelum akhirnya menghela nafas panjang. Mengangkat panggilannya.


"Ada masalah apa sehingga anda menghubungi saya?" Langsung pada intinya. Agina duduk di atas pinggiran kasur.


"Dari perkataanmu sepertinya kau sudah tau siapa aku." Orang di seberang sana menyeringai.


"Tidak perlu berbasa basi, katakan kenapa anda menghubungi saya tuan Agra?"


"Kau memang tidak bisa di ajak berbicara santai," Agra berjalan ke arah balkon kamarnya. "Simpan nomorku, aku tau kau memerlukannya."


"Tidak!"


"Hei harusnya kau berterima kasih kepadaku. Banyak orang di dunia ini yang menginginkan nomorku, dan kau beruntung aku memberikannya untukmu." Jadi emosi sendirikan.

__ADS_1


Agina mengeryitkan keningnya bingung. Sejak kapan Agra jadi narsis seperti ini, biasanyakan dia tidak peduli. Batinnya.


"Kau masih di sana?" tanya Agra.


"Baiklah, saya akan menyimpan nomor anda sampai proyek pembangunannya selesai. Setelah itu kita kembali ke awal yaitu tidak pernah bertemu dan tidak saling mengenal." jelas Agina.


"Kau itu tidak ada sopan santunnya pada atasanmu." ujar Agra menggelengkan kepalanya. "Kau tidak boleh memblokir nomorku, kita harus saling berkomunikasi agar bisa bekerja sama dengan baik."


"Tidak! nomor anda hanya akan ada di ponsel saya ada sampai proyek pembangunannya selesai. Setelah itu tidak akan ada lagi." Memutuskan sambungannya. Tidak peduli pada atasannya yang terus memaki maki namanya dan melampiaskan kekesalannya dengan sedikit membentur kepalanya ke dinding.


Di carinya kontak orang yang telah memberikan nomornya kepada tuan Agra. Dan segera melakukan panggilan kepada orang tersebut.


"Gajimu di potong dua puluh persen karena telah memberikan nomorku kepada tuan Agra." Langsung mematikan panggilannya begitu panggilan tersambung. Sekretaris Ezwar yang bahkan belum mengetahui siapa yang menelponnya langsung membeku di tempat dengan ponsel yang terjatuh ke lantai.


Agina meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Membaringkan tubuhnya di kasur dan menarik selimut hingga menutupi sampai lehernya. Memeluk guling yang selalu menjadi kebiasaannya sadari kecil.


Agina menumpu kepalanya di atas guling. Ia kembali melamun memikirkan hal yang terjadi beberapa hari belakangan ini. Dari pertemuannya kembali dengan Agra. Sudah akan menunjukkan jelas sebentar lagi identitasnya akan terbongkar. Dan itu tidak bisa ia biarkan sebelum rencana nya terlaksanakan.


"Waktu bermain sudah dekat." Agina pun tertidur lelap.


......................


Suara ketukan membuyarkan lamunan Agra. Membalikkan badannya memasuki kamarnya kembali. Di lihatnya para pelayan yang mengatur makanan dengan berbagai menu di meja.

__ADS_1


"Apa ada lagi yang anda butuhkan tuan muda?" tanya pak Wil. Dia adalah kepala pelayan di mesionnya. Namanya panjangnya Williem. Keren kan.


"Tidak, kalian boleh pergi sekarang." titahnya dengan mengibas tangannya. Semua pelayan langsung keluar dari kamar. Agra duduk sambil menyantap makanan miliknya. Sesekali ia merenung. Memikirkan hal yang terjadi pada dirinya beberapa hari ini. Tentang Agina, gadis yang kelihatannya di takuti semua orang.


"Agina, gadis itu membuatku penasaran setengah mati." Mengunyah makanannya. "Bagaimana bisa semua orang menunduk terhadapnya, bahkan dia lebih di takuti dari pada diriku." Mengambil jus yang sudah di sediakan pelayannya dan meminumnya. "Atau hanya karena auranya yang mencekam, membuat semua orang enggan berurusan dengannya. Ezwar pun terlihat takut kepadanya." Agra menghabiskan makanannya. Bangkit dari duduknya dan menghampiri kasur.


Membaringkan tubuhnya di sana. Menatap langit langit kamar. Agra terkekeh. "Tapi aku tidak bisa menyalahkan Ezwar, karena aku sendiri merasa merinding jika berada di dekatnya." Menggeleng tidak percaya akan apa yang barusan di katakannya. Tapi itulah kenyataannya, dirinya memang sesekali merasa merinding saat berada di samping gadis itu. Tapi gengsi bila mengakuinya.


"Aku merasa kita bukan orang asing. Rasa ini, aku pernah merasakannya dulu." Meletakkan tangannya di dada bagian detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Ini memang yang ia rasakan akhir - akhir ini, itupun hanya dengan gadis itu. Agra tidak bisa mengelak perasaan aneh ini. Tapi yang ia tau, dirinya selalu ingin dekat dengan gadis itu. Mungkin karena perasaan hangat dan nyaman yang selalu di rasakannya saat bersama seorang Agina.


Di tariknya selimut sampai lehernya. Agra tertidur dengan senyum di wajahnya.


Pak Wil muncul di balik pintu setelah merasa tuannya tertidur. Beberapa pelayan masuk dan membereskan mejanya dan membawa piring kotor ke dapur. Pak Wil menatap tuan Agra yang sudah tertidur pulas.


Betapa beruntungnya menjadi seorang Agra Pratama yang selalu di lindungi di balik layar. Bahkan seseorang rela mati hanya untuk melindungi tuannya. Dan dengan rasa kepercayaan yang tinggi, Agra bahkan tidak menyadari kalau sedang dalam bahaya. Tapi tuannya tetap tidak bisa di salahkan. Akibat penjagaan yang ketat secara sembunyi - sembunyi membuatnya selalu merasa aman di mana saja. Tanpa pengawal di sampingnya.


Pak Wil menatap datar tuan Agra. Sebuah senyuman miring tercetak di wajahnya. Pak keluar setelah semua pelayan membereskan semua sisa makanan di meja.


......................


Kalau suka jangan lupa like ya karena itu sangat berharga buatku.


TERIMA KASIH SUDAH BACA.

__ADS_1


__ADS_2