
Seperti yang disarankan dokter Satrio, kami menebus resep obat yang dia berikan. Ternyata, jenis obat itu hanya berupa vitamin dan penguat rahim. Aku mencoba testpack dan menunggu beberapa menit, memang muncul dua garis merah, tanda positif hamil.
"Bang, memang benar aku hamil," seruku begitu keluar dari kamar mandi. Dion yang ternyata sudah menungguku, tidak sabar mau melihat hasil testpack.
"Mana dek?" ucapnya dengan wajah berbinar. Aku memberikan benda pipih itu. Begitu dia melihat hasilnya, serta merta aku dipeluk dan diciuminya dengan lembut.
"Maksih ya sayang, kamu harus jaga dia sebaik mungkin. Kamu harus harus begini, begitu, bla bla bla,"entah apa saja yang disebut suamiku aku sudah tak jelas mendengarnya. Tak kusangka dia mendadak begitu cerewet begitu dia tau aku hamil.
Tapi bagiku itu tidak apa-apa karena semua itu demi kebaikanku.
"Bagaimana, apa kita akan kasih tau khabar gembira ini pada anak-anak dan mama?"
"Nanti sajalah, bang, setelah kita pulang. Lagian usianya masih beberapa minggu. Kita beri kejutan buat mereka." saranku.
"Boleh juga idemu, dek. Tapi, bagaimana rencana kepulangan kita. Apa tidak berbahaya nanti, kalau kita langsung pulang mengingat usia janinnya?"
"Sebaiknya kita minta saran dokter saja, bang, atau kita tunda saja kepulangan kita,"ucapku. Kami sudah dua minggu berada di Bali. Bulan madu yang telat kami laksanakan karena banyak pekerjaan yang perlu kami bereskan dulu, supaya tidak mengganggu acara bulan madu kami
"Sebaiknya kita minta saja dulu saran dokter, dek. Oh, ya, bukankah dokter bilang kita datang lagi setelah test ini?"
"Baiklah, bang, kita pergi saja sekarang."
"Oke, aku telepon dulu buat janji. Siapa tau dokternya sibuk." Dion menelepon dokter yang kami temui tadi malam. Mereka berbincang beberapa saat. Aku melihat Dion mengangguk-angguk. Entah apa yang mereka bicarakan.
"Bagaimana, bang?" ucapku penasaran.
"Oke, dokter Satrio menunggu kita di klinik,"
"Ketempat kita semalam, bang?
"Gak, dek. Itu kediaman dokter. Sekarang dia di klinik. Dekat kok dari sini, bisa jalan kaki malah."
__ADS_1
"Oh, iyalah, bang. Bentar ya, aku bersiap dulu." Aku beranjak masuk kamar untuk salin pakaian. Lalu kami pergi, benar saja klinik itu hanya berjarak 500 meter dari penginapan kami.
"Titttttttt" suara klakson mobil yang dibunyikan Dion, mengejutkanku. Hampir saja, Dion menabrak seseorang kalau saja Dion tidak mengerem mobil.
"Hati-hati nyetirnya, bang," teriakku terkejut.
"Maaf, dek. Abang nyetir udah cukup pelan kok. Dia saja yang muncul tiba- tiba."
Dion memang benar, Dion menyetir cukup santai, hanya saja seseorang itu yang muncul tiba-tiba dari gang. Sepertinya dia habis lari pagi karena masih mengenakan pakaian trening.
Coba kalau, Dion menyetir seperti biasanya, pasti seseorang itu yang ternyata laki-laki setelah dia melepas topi hoodienya.
Dion bergegas turun dari mobil untuk memastikan kalau lelaki iti tidak apa- apa. Aku juga ikutan turun, dan sangat terkejut saat melihat lelaki itu lebih jelas.
"Arby!" teriakku kaget. Karena lelaki itu sangat mirip dengan adikku Arby yang telah dinyatakan meninggal oleh bibi Elis.
Dion juga terkejut saat mendengar teriakanku. Lelaki itu jadi kebingungan melihat kami.
"Arby! Kamu masih hidup ya, darimana saja kamu selama ini. Tega kamu ya, tidak memberi kami kabar. Padahal kami kira kamu benar-benar sudah meninggal," cecarku terbawa emosi.
"Maaf, kalian siapa ya?"
"Arby, ini kakak, Reny. Saudari kamu." Aku mengguncang lengannya tapi ditepisnya perlahan.
"Maaf, saya tidak kenal kalian. Saya permisi," ucapnya berlalu. Aku mengejar Arby. Karena aku yakin sekali itu pasti Arby saudaraku. Yang dinyatakan bibi Elis telah meninggal.
Namun, bagaimana ia bisa sampai ke Bali ini, juga masih sebuah misteri, tapi naluriku sepertinya berkata kalau dia adalah Arby. Tahi lalat di atas alis kirinya itu yang meyakinkan aku.
Seorang perempuan dari arah berlawanan datang menghampirinya. Mereka berbicara, dan perempuan itu memandang ke arah kami. Aku dan Dion saling tatap. Merasa aneh juga.
Lalu, perempuan itu datang menghampiri kami.
__ADS_1
"Maaf, mbak, apa mbak kenal sama dia?" ucapnya penuh selidik.
"Maaf, mungkin saya memang salah orang," sahutku karena takut telah terjadi kesalah pahaman.
"Bukan begitu, mbak. Aku serius mau nanya. Tadi Devan bilang kalian memanggilnya, Arby. Apa benar namanya, Arby. Soalnya dia kehilangan ingatannya, mbak. Tidak seorang pun yang mengenalnya. Kami sudah berusaha mengobatinya. Tapi semua itu butuh proses."
Aku dan Dion sangat terkejut mendengar penjelasan perempuan itu.
"Dia mirip dengan adik saya. Namanya Arby. Dia menghilang beberapa bulan lalu. Ada yang mengatakan dia sudah meninggal, tapi mayatnya tidak pernah ditemukan. Dia sangat mirip sekali, makanya saya menegurnya. Sayang, dia tak kenal kami."
"Kalau boleh tau, mbak asalnya dari mana. Kenalkan, mbak, saya Sisca. Saya pemilik klinik "Bunda"," ucapnya memperkenalkan diri.
"Saya Reny, ini suami saya. Kami adalalh wisatawan di sini. Asal kami dari Medan." ucapku memperkenalkan diri dan suamiku Dion.
"Oh, jadi mbak orang Sumatera, ya. Kebetulan sekali, beberapa bulan lalu kami sedang berkunjung ke Sumatera juga. Disanalah kami bertemu dengan Devan. Dia seperti orang linglung. Papa saya tanpa sengaja menabraknya. Lalu kami merawatnya. Ternyata dia gak ingat siapa dirinya. Dia hanya tau namanya saja, sedang siapa keluarga dan dari mana asalnya dia tidak ingat sama sekali."
"Dia menyebut namanya, Devan? Itu adalah nama anak saya, keponakannya sendiri."
"Owh, jadi mbak benar-benar yakin kalau dia saudara, mbak?"
"Iya, tahi lalat di atas alis kirinya itu. Juga dia kidal, saat membuka topi hoodienya."
"Ya, Tuhan, semoga apa yang mbak bilang itu, benar. Ayo, mbak, mampir dulu ke klinikku. Itu di seberang," ucap Sisca mengundang kami.
"Kebetulan kami juga mau ke sana," timpal Dion. Membuat kaget Sisca.
"Oh, ya. Mbaknya mau berobat?"
"Iya, kami sudah janji dengan dokter Satrio. Kami di suruh ke klinik Bunda."
"Serba kebetulan sekali, dokter Satrio adalah papa saya. Kebetulan papa memang dokter pendamping di klinik saya. Ayo, mbak." Sisca berjalan duluan, menghampiri Arby yang masih berdiri menunggunya di bawah pohon akasia.
__ADS_1
Sisca nampak berbicara sesuatu, lalu dia melambaikan tangannya ke arah kami supaya mengikuti kami. Aku dan Dion segera masuk ke dalam mobil, menyusul mereka, yang sudah menyeberangi jalan menuju klinik.
Tidak sampai lima menit kami telah menyusul mereka, yang telah menuggu kami di pintu gerbang. Kami beriringan masuk ke klinik yang juga sekaligus tempat tinggal. Klinik berada di lantai dasar, sedang rumah tinggal di lantai dua. *****