
Bagas menikmati roti hangat yang sudah di sajikan pramusaji tako. Sambil melihat lalu lalang kendaraan di jalan lewat sebuah kaca.
"Enak juga ini rotinya. Aku akan sering kemari untuk menikmati roti hangat dan secangkir kopi pahit disini."
"Nah, apa saya bilang roti ini enak. Pasti mas akan ketagihan untuk kemari lagi. Ngga nyesel kan nerima rekomendasi dari saya?" Ucap Dina tiba-tiba membawa secangkir jahe hangat pesanan Bagas.
"Kayak jelangkung aja mbak, datang tak diminta pergi tanpa sebab." Ujar Bagas.
"Itu mantan mas yang datang tanpa di minta dan pergi tanpa sebab. Kalau jelangkung datang di undang perginya di usir." Timpal Dina.
"Di usir karena takut ketempelan ya?"
"Di usir karena takut nyaman saya mas. Setan itu menakutkan tapi ngga bikin sakit. Kalau laki-laki ngga menakutkan tapi bikin sakit."
"Curhat ya, mbak?"
"Anggap aja iya mas. Apalagi kalau udah punya uang. Gampang banget cari cewek. Tapi emang sih lalat kan suka sampah."
"Mbak ngomongin lalat atau setan?"
"Ngomongin setan lalat."
Bagas tertawa kencang. Sungguh pagi ini harinya sedikit di beri cahaya. Obrolan dengan karyawan toko roti yang ada di hadapannya saat ini mampu membuatnya tersenyum lepas.
"Ada setan lalat ya mbak? Mantannya itu setan lalat pasti. Mbak nya ngga cantik sih makanya di tinggal."
"Mas ngga tahu ya, biasanya selingkuhan itu lebih jelek dari istri sah lo mas. Kalau pun dapat yang cantik pasti permakan itu. Lagian buat apa cantik kalau menjadi perusak rumah tangga orang lain."
__ADS_1
"Korban pelakor ya mbak?" Tanya Bagas memastikan. Ia sedikit ingin tahu tentang perempuan yang ada di hadapan nya saat ini.
"Anggaplah begitu."
"Lagian mbak sih ngga jaga suami dengan baik makanya di ambil pelakor."
"Bukan saya yang ngga bisa jaga mas. Dianya yang ngga bersyukur punya saya."
"Iya kah?"
"Eh, itu tadi cerita saya nonton drakor yang lagi hits itu lo mas." Elak Dina. Ia segera diam dan menutup mulutnya. Merutuki kebodohannya yang keceplosan dari tadi.
"Iya, in aja lah mbak."
"Idih mas ngga percaya? Aku kan perempuan yang ceria dan banyak senyum mana mungkin aku ngalamin hal itu."
"Sok tahu." Dina berlalu pergi meninggalkan Bagas.
Bagas geleng-geleng kepala melihat tingkah Dina. Ia baru saja mengenal perempuan itu tapi rasanya nyaman sekali untuk diajak berbagi cerita. Sepertinya dia akan sering berkunjung ke toko roti ini.
Dina masih tidak menyangka kalau ia telah menceritakan kehidupan nya kepada laki-laki asing. Tidak biasanya ia terbuka seperti itu. Awal yang hanya menawarkan roti malah jadi obrolan yang panjang. Dan kebetulan suasana toko di pagi ini sepi. Ada banyak waktu untuk Dina mengobrol dengan pengunjung. Sesaat ia lupa kalau sedang dilanda masalah. Mungkin karena ia melupakan kekesalannya kepada Bagas tadi. Diam itu baik tapi kalau diam memendam masalah sendiri juga akan membuat kita merasa tidak nyaman. Seseorang kadang perlu untuk menjadi tempat kita bercerita dan berkeluh kesah.
Jangan malu kalau dirimu terlihat lemah di mata orang. Karena sejatinya kita tidak bisa selalu pura-pura kuat. Seperti apa yang di alami Dina selalu memendam sakit sendiri. Semua ia tutupi dengan senyum dan canda tawa. Seolah tidak terjadi apa-apa. Padahal cerianya itu untuk menutup luka.
***
Lisa tak hentinya tertawa bersama sang ayah. Orang bilang anak perempuan adalah kesayangan ayahnya. Sepertinya ungkapan itu benar adanya. Di ruang keluarga mereka duduk di sofa panjang yang berhadap-hadapan. Sesekali mengenang masa kecil Lisa. Sakti lebih mendengarkan ayah mertuanya bercerita. Sepertinya sang istri tumbuh dengan banyak cinta dari keluarga.
__ADS_1
Ini menjadikan Sakti ingin lebih memperhatikan sang istri dan akan memberikan cinta yang banyak untuknya.
"Kalian tidak ingin bulan madu ya?" Tanya Rima.
Sakti dan Lisa saling pandang. Bahkan tidak terbesit diantara keduanya ingin melakukan bulan madu. Bagaimana mungkin bulan madu hubungan mereka saja masih seperti itu.
"Boleh bu. Nanti aku pikirkan mau kemana kita bulan madunya. Mungkin bulan depan aku tidak terlalu sibuk. Kita bisa ke Korea atau ke Paris. Lisa nanti yang pilih tempatnya."
Sakti berpikir usul dari sang ibu mertua ada benarnya juga. Mungkin dengan begini hubungannya dengan Lisa akan menjadi lebih dekat.
" Mas ngga sibuk?"
" Ngga dong."
" Bagus itu jadi kalian bisa segera memberi kami cucu. Aku sudah tidak sabar menanti hal itu." Ujar Yoga.
Lisa mengalihkan pandangan ke tempat lain. Ia tak sanggup untuk menimpali perkataan sang Ayah. Bagaimana ia segera memberi cucu sedangkan sampai sekarang dirinya belum melakukan tugas selayaknya seorang istri. Mungkin butuh waktu sedikit lagi agar Lisa bisa menerima Sakti sepenuhnya. Iya sedikit lagi.
"Kami akan memberikan cucu yang lucu untuk ayah dan ibu. Tolong doakan kami!" Pinta Sakti. Ia merangkul pundak Lisa dengan mesra.
Senyum paksa tersungging di bibir Lisa. Hatinya seperti teriris oleh perkataan Sakti. Seperti memberi harapan palsu kepada orang tuanya.
"Kita baru saja menikah biarkan kami menikmati hari bersama. Anggaplah seperti pacaran setelah menikah." Jelas Sakti.
Lisa menoleh ke arah Sakti pandangan mereka bertemu. Wajah Sakti yang tampan hidung mancung dan alis yang tegas. Pria dewasa yang begitu baik dan pengertian. Itulah yang di pikirkan Lisa saat ini. Tapi kenapa hatinya susah tergerak. Masih ada sedikit nama Bagas di hati. Walaupun dari segi apapun mungkin Sakti di atas Bagas. Tidak ada yang bisa memaksa hati. Bagaimana menghapus nama seseorang mencintai atau membenci. Sangat sukar karena begitu banyak kenangan yang terukir bahkan tak ada kata cela sedikitpun.
Sosok pria masa lalu yang mempesona. Pria dewasa yang mandiri dan pekerja keras. Tutur kata yang lembut sifat nya juga perhatian. Sempurna itulah yang ada di pikiran Lisa. Sedikitpun tak pernah lihat Bagas mengeluh soal hidup. Semua Bagas lakukan sendiri dan hanya mengandalkan diri sendiri. Kekuatan hatinya sungguh luar biasa semakin membuat Lisa kagum. Cinta dalam diam selama hampir enam tahun. Bayang cinta di masa depan yang indah hanya tinggal harap yang semu. Belum mulai tapi sudah berakhir. Cinta dua insan manusia itu indah juga perih. Dua hal yang tidak bisa di pisahkan. Kenapa hubungan Lisa dan Bagas harus banyak perihnya? Kenapa tidak banyak yang indah? Sebagian orang beruntung bisa bersatu. Dan sebagian lagi kehilangan itulah cinta.
__ADS_1
Bukankah segala sesuatu yang terjadi di antara kita itu akan silih berganti. Seperti hari bulan dan tahun yang berlalu. Begitupun kehadiran seseorang akan ada yang singgah dan akan ada yang menetap.