Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 91


__ADS_3

"Ada apa, Arby?" ucap papa tenang seolah tidak ada yang terjadi. Mantap, papa sudah bisa mengatur sikapnya berhadapan dengan Arby alias Luke. Kupikir tadi papa akan terpicu emosinya begitu melihat, Luke.


"Ini, Pa, ada beberapa berkas yang butuh tanda tangan, Papa." Luke menyerahkan map berisi berkas.


"Oh, nanti akan Papa, periksa." Papa menerima berkas itu.


"Iya, Pa, sebaiknya Papa segera memeriksanya. Karena, Arby , akan mengirim berkas itu untuk pengajuan tender," jelas Luke.


"Hem, akan Papa periksa bentar lagi," sahut papa dingin. Membuat Luke menaikkan alisnya sebelah, heran melihat reaksi papa.


Aku mengamati terus setiap perubahan mimik, Luke. Sepertinya dia melihat kejanggalan dari sikap papa.


"Kalau begitu, aku pergi dulu, Pa. Masih banyak hal yang mau aku bereskan. Oh, ya kak, selamat ya atas restunya dari Papa."


"Terimakasih, By," ucapku agak kaget. Apa Luke mendengar pembicaraan kami yang lain? Sejak kapan Luke menguping, apakah dia telah mendengar semua yang kami bicarakan tadi? Aku memandang Dion, menatapnya penuh tanya. Dion hanya diam mengunci tatapanku.


Saat Luke sudah diambang pintu, papa menegur Luke.


"Arby, bentar!" panggil papa


"Ada apa, Pa?"


"Papa hanya hendak mengundang, ayah dan ibumu untuk makan malam. Jadi tolong kamu sampaikan undangan, Papa." jelas terlihat rasa kaget di mata Luke. Aku juga heran mendengar ucapan papa yang tiba-tiba. Apa papa punya sebuah rencana?


Aku memandang papa, tapi papa hanya melengos.


"Baik, Pa, akan aku sampaikan pada ibu," ucapnya. Semakin terlihat kejanggalan Luke. Harusnya dia bertanya dan menolak undangan papa, karena Arby akan melakukan itu. Sebab hubungannya dengan ibu kandungnya buruk.


Tapi Luke tanpa sadar atau lupa akan sandiwara yang ia perankan. Dia lupa kalau yang dia perankan adalah pribadi Arby, bukan dirinya sendiri.


Luke terjebak dengan undangan papa!


Setelah Luke pergi, kami bertiga saling berpandangan.


"Papa sengaja ya, menjebak Luke?" ucapku.


"Iya, aku ingin mendengar jawaban spontannya. Sekarang aku makin percaya kalau dia bukan Arby."

__ADS_1


"Tapi itu akan membuatnya curiga, Pa?"


"Itu setimpal dengan resikonya dia hendak menipu papa. Jika dia sadar, mereka akan kasak kusuk menyelamatkan diri. Opsi lain, mungkin rencana itu akan mereka batalkan. Tara tolong selidiki perusahaan Fajar Coy itu. Dan berikan mereka hantaman, karena berani mencoba bermain- main dengan kita." ucap papa tegas.


"Baik, Pak. Tapi, bagaimana Dengan Arby, Pak. Keberadaannya sampai sekarang belum diketahui."


"Akan aku tanyakan hal itu nanti pada Elis. Kita lihat saja apa jawaban mereka saat makan malam nanti."


*****


Sepertinya bibi Elis tidak curiga dengan undangan papa. Dengan senyum merekah, seolah semua sedang baik- baik saja. Bibi Elis dan paman datang memenuhi undangan papa. Papa menyambutnya biasa saja.


"Mari kita berdoa, sebelum menikmati makanan ini," ajak papa saat kami semua sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan.


"Eits, tunggu dulu Handoko, sebelum kita mulai makan, jelaskan dulu apa maksudmu mengundang kami makan malam disini?"


"Tidakkah lebih baik jika kita makan dulu sebelum lanjut membicarakan yang lain?" tukas papa dingin.


"Sebenarnya ada apa ini?" tanya mama yang mulai curiga, karena merasakan ada yang tidak beres dalam acara makan bersama malam ini.


"Justru saya yang bingung, tumben kami diundang makan malam bersama, tapi tidak ada kejelasan apapun soal undangan itu." sahut bibi Elis menanggapi ucapan mama.


Bibi Elis akhirnya manut saja. Setelah Papa selesai memimpin doa acara makan malam pun dimulai. Suasana serasa hening, semua sibuk dengan pikiran masing-masing atau memang tak berani membuka suara. Jadinya ketegangan mendominasi suasana malam itu.


Baru juga setengah jalan bibi Elis yang sedari tadi sudah dililit rasa penasaran, akhirnya tak tahan juga untuk tidak memulai percakapan. Mungkin karena suasana tegang, makanan sulit masuk sehingga bi Elis memecah keheningan itu.


" Bangaimana kabarmu, Reny, sepertinya kamu hendak menikah lagi, ya?" Bibi Elis melirik ke arah Dion yang duduk berseberangan denganku. Dion menatap sekilas ke arah bibi dan melemparkan seulas senyum.


"Cepat juga kabar itu sampai kepadamu, pasti Arby yang ngasih tau?" ucap papa mendelik ke arah Luke.


"Sudah rahasia umum, keturunanmu pasti selalu jadi sorotan publik."ucap bi Elis.


"Sudah sepantasnya, biar orang-orang tau dan mengenal keluargaku. Beda dengan kamu yang selalu menutupi asal usul keluargamu. Bahkan keberadaan anakmu saja kamu tega menutupinya." sindir papa tajam.


"Maksud kamu apa Handoko! Kamu jangan terlalu mencampuri urusan keluargaku." kecam bi Elis tajam.


"Selagi ada sangkut pautnya denganku aku tidak bisa tinggal diam. Apalagi sampai mengancam keselamatan keluargaku."

__ADS_1


"Kamu makin aneh saja, memang siapa yang mengancam keluargamu? Apa, memang ada yang berani melakukan itu, mengingat kamu yang telah punya segalanya," ejek bi Elis.


"Bagi orang waras mungkin akan berpikir beberapa kali berurusan dengan keluargaku. Sayangnya, lebih banyak orang bodoh yang mencoba mengusik ketenangan keluargaku. Tanpa memikirkan kalau dia justru tengah bermain api, nantinya akan membakar hangus dirinya sendiri."


"Wow, mantap sekali. Seberapa banyak orang sinting yang mencari gara-gara itu dengan tuan Handoko yang terhormat," bibi Elis meradang juga dengan ucapan papa. Gaya mereka berantam selalu dengan kata-kata sindiran tajam.


"Sangat disayangkan, karena kamu adalah salah satunya. Aku peringatkan ke kamu Elis! Apapun rencanamu saat ini pada keluargaku, berpikirlah beratus kali sebelum bertindak. Karena kamu sendiri bilang, aku adalah manusia paling kejam yang pernah kamu kenal. Jadi silahkan mundur, jangan kemaruk akan sesuatu yang bukan hakmu!" ucap papa penuh penekanan. Tatapannya tajam menghujam ke bibi Elis.


Bibi Elis sempat terpana mendengar ucapannya itu.


"Apa maksud papa, mengatakan itu pada ibu?" sela Luke mulai terpancing.


"Kamu jangan turut campur, Arby, papa tau kamu adalah bagian dari rencana ibumu. Adalah satu kebodohan kamu mau dijadikan boneka oleh ibu kamu sendiri."


Suasana di meja makan kian memanas, aku segera mengajak Devan dan Mitha untuk pergi sebelum acara makan selesai. Kedua anakku kebingungan.


"Ayo, lanjutin makannya di kamar saja." bisikku pada mereka. Meski bingung keduanya memilih menuruti perkataanku. Kuantar keduanya ke dlam kamar. Aku pasangkan headset ketelinga Devan dan Mitha. Agar mereka tidak mendengar perang kata yang mau mulai.


"Jangan keluar sebelum, mama yang buka pintu. Ini juga jangan dilepas," tunjukku pada alat di telinga mereka. Keduanya menganguk setuju, lalu aku keluar dari kamar dan memastikan mereka aman.


"Sekarang jawab dengan jujur, Elis, apa benar Arby punya saudara kembar!" gelegar suara papa begitu membahana di ruang makan. Kemurkaanya sudah tidak bisa dia tahan lagi.


"Papa, papa jangan bicara keburu emosi, tenang dulu. Sebenarnya ini ada apa sih. Kalian hanya dua bersaudara tapi tidak pernah akur!" lerai mama.


"Bagaiamana bisa akur, dengan saudara macam iblis begini!" hardik papa lagi.


"Kamu yang ngomong tidak jelas, malah mengatai aku iblis," balas bibi Elis tak kalah keras.


"Kalau begitu jawab pertanyaanku, apa Arby punya saudara kembar, dan kau sembunyikan selama ini?"


Bukan hanya bibi Elis yang yang terlonjak kaget, Luke dan suami bibi juga! Ketiganya langsung tegang.


"Maksud papa, apa? Arby punya saudara kembar?" ucap Luke. Aku mengeluh pendek dalam hati, karena Luke masih saja ngotot meneruskan sandiwaranya.


"Tanya sendiri mama kamu, dia yang lebih tau?"


"Benarkah ma, kalau Arby punya saudara kembar?"

__ADS_1


"Ya!" kali ini aku yang jawab karena muak dengan akting mereka.*****


__ADS_2