Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Ingin menua bersama.


__ADS_3

*Mengenalmu bukan tujuan hidupku dan mencintaimu hal paling mudah kulakukan. Menua bersama mu adalah harapan.


- Sakti* -


Yoga dan Rima berjalan santai menuju ke rumah. Satu kantong plastik hitam berisi bubur ayam sudah mereka beli dan siap untuk jadi sarapan pagi. Sesekali menyapa tetangga yang sedang berpapasan di jalan.


"Ini makan lah suami ku!" Rima membuka bubur ayam dan menghidangkannya kepada sang suami.


"Kita seperti pengantin baru saja ya, sayang. Berdua bersama melewati hari yang bahagia. Tunggu, tapi mungkin sebentar lagi kita akan menjadi kakek dan nenek." Yoga dengan riang berucap. Membayangkan suatu saat nanti ia akan menjadi kakek.


"Benar juga ya kek, kita akan bermain dengan cucu-cucu kita nanti. Dia akan berlarian ke sana kemari dan membuat rumah kita berantakan seperti yang di lakukan Lisa dulu saat kecil." Rima ikut hanyut membayangkan akan ada cucu nanti.


Dari balik lemari pembatas antara ruang keluarga dan ruang tamu ada Lisa yang sedang mendengar pembicaraan kedua orang tuanya. Air mata tiba-tiba menetes tanpa permisi. Perasan bersalah hinggap seketika. Bagaimana ia memberi cucu, menjalankan kewajiban sebagai seorang istri sepenuhnya saja belum ia lakukan. Sementara orang tuanya sudah membayangkan kehadiran seorang cucu yang membuat rumah menjadi ramai.


Tadi setelah sarapan bersama sang suami Lisa minta di antar ke rumah orang tuanya. Karena sudah hampir seminggu Lisa tidak berkunjung ke rumah orang tuanya.


"Kenapa menangis?" Tanya Sakti yang heran melihat sang istri menghapus air matanya.


"Ngga apa-apa." Jawab Lisa.


Yoga dan Rima yang mendengar suara dari ruang keluarga segera menoleh ke arah sumber suara tersebut.


"Aku seperti mendengar suara Lisa dan Sakti." Rima bangkit dan ingin berjalan menuju ke ruang keluarga.


Belum sempat ia melangkahkan kaki. Lisa dah Sakti menyapa keduanya. "Assalamualaikum."


"Wa,alaikum salam." Jawab Rima dan Yoga bersamaan.


"Kau ngga bilang mau datang. Ibu bisa belikan bubur ayam juga buat sarapan."


"Kami sudah sarapan bu. Tadi Lisa masak pagi-pagi sekali." Ujar Sakti.


"Anak ayah ini sudah pandai memasak rupanya ya? Dulu saja jarang ke dapur."


"Ayah, aku jarang ke dapur bukan berarti aku tidak bisa memasak. Itu karena semua sudah di lakukan ibu."

__ADS_1


" Kau ini selalu saja punya seribu alasan untuk mengelak."


"Kan memang begitu kenyataannya Ayah."


"Sudah jangan debat lagi! Ada nak Sakti disini kau ngga malu ya pak tua?" tegur Rima pada sang suami.


Sakti tersenyum melihat mertuanya yang lucu. Mereka terlihat sangat saling mencintai dan juga harmonis. Seperti kedua orang tuanya. Seandainya Lisa sudah menerima dirinya pasti juga akan seperti mertuanya. Akan saling bercanda tertawa berbagi semua cerita.


Hanya perlu sedikit usaha lebih keras lagi agar meluluhkan hati sang istri. Bukankah cinta itu butuh perjuangan? Dan Sakti akan terus berjuang demi sebuah hubungan. Kemarin ia sempat lemah berjuang, saat kesadaran kembali menghampiri saat waktu terus berjalan denyut jantung masih berdecak dan saat itu pula ia tidak boleh menyerah. Menyemangati diri sendiri. Karena sejatinya Sakti sudah mendapatkan Lisa karena ada satu ikatan suci yang terikat. Hanya hati yang belum sepenuhnya menerima.


"Kenapa malu? Justru menantu kita harus lihat sisi yang seperti ini. Kita keluarga dan tidak perlu kita jaim kan? Apa adanya kita saja kan kita keluarga." Jelas Yoga.


"Ayah benar tidak perlu sungkan denganku. Aku kan juga anak ayah dan ibu." Sakti ikut bersua. Dia merasa sang ayah mertua tidak menganggap nya menantu tapi sudah dia ngga anak sendirian. Dan ia senang akan hal itu.


"Lihat bu! Sakti saja tidak keberatan kok. Ayo kita lanjutkan pertengkaran kita!" ajak Yoga kepada Lisa.


"Ngga." Tolak Lisa dengan nada ketus.


"Kumat ketusnya. Ngga asyik perempuan kok ketus ntar punya suami tampan dan baik lo," Yoga menggoda sang putri.


Walaupun sang putri kadang bicara ketus dan sedikit keras kepala tapi Yoga selalu mendoakan hal baik akan itu. Bukankah doa orang tua itu mustajab? Maka dari itu Yoga ataupun Rima selalu mengucapkan hal baik sekalipun mereka sedang marah.


"Aku masih jauh dari kata baik seperti apa yang di katakan ibu. Tapi, aku akan berusaha menjaga Lisa menjadi tempat bersandar, berkeluh kesah dan apapun itu aku akan selalu mencintai istriku." Sakti pandang wajah Lisa. Tidak ada keraguan sedikitpun dari ucapannya. Dia seorang pria dan akan membuktikannya dengan tindakan yang nyata.


Lisa tidak menanggapi ucapan Sakti ia mengalihkan pandangan ke arah lain menghindari tatapan sang suami. Sakti pria yang baik dan perhatian Lisa membenarkan itu semua. Tapi hatinya tidak bisa di paksa. Belum ada nama sang suami yang terukir di hati.


Bagas nama satu pria yang selalu mengusik hati dan setiap harinya. Saling cinta dalam diam dalam waktu yang lama. Tapi takdir tidak berpihak. Bahkan kisah cinta yang belum di mulai harus kandas.


"Kita tanya saja kepada Lisa. Ayah jamin Sakti adalah pria yang baik dan bertanggung jawab." Tanpa ragu Yoga berucap memuji sang menantu.


"Iya, ucapan ayah benar."


"Apa ayah bilang, nak Sakti adalah pria yang baik dan tepat untuk menjaga Lisa anak kita."


"Iya ibu percaya."

__ADS_1


*


*


Bagas berhenti di sebuah toko roti. Ia masuk ke dalam toko tersebut dan mengambil beberapa roti kesukaannya.


"Udah ini aja kak? Ini ada roti yang promo beli satu gratis satu ngga mau ambil sekalian?" Tanya kakak kasir.


"Roti coklat ya? Aku ngga terlalu suka coklat mbak." Tolak Bagas.


"Ada yang varian keju juga kalau mas mau. Sebentar saya ambilkan. Kebetulan baru matang." Seorang wanita berparas cantik menyela obrolan antara Bagas dan sang kasur tersebut.


"Boleh mbak, saya lebih suka keju."


Wanita tersebut adalah Dina. Ia salah satu pegawai di toko roti tersebut.


"Ini saya bayar sekalian sama roti keju yang di tawarkan mbak yang tadi." Bagas menyerahkan kartu debit miliknya kepada mbak kasir.


Dengan cepat Dina kembalikan dengan satu loyang penuh roti hangat yang aromanya memanjakan indra penciuman siapa saja yang menghirup aromanya.


" Sepertinya enak rotinya. Ini di minum pakai teh hangat mantap lah." Ucap Bagas.


"Makan saja di sini mas! Kan kita menyediakan minuman juga." Lagi Dina menawarkan suatu hal yang menarik buat Bagas.


"Boleh juga ide mbak, aku pesan jahe hangat ya!"


"Siap mas di tunggu ya, pesanannya!"


"Iya, mbak." Bagas senang melihat Dina yang semangat seperti itu. Usahanya menawarkan roti yang promo.


Setelah beberapa langkah Dina menoleh lalu berucap. "Mas, maaf tadi bilangnya roti keju di makan sambil minum teh hangat enak tapi, kenapa mas pesan jahe hangat?"


"Aku bilang enak di temani teh hangat. Bukan berarti aku ingin minum teh hangat saat ini bukan?"


"Hiss, dasar aneh," Dina spontan menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia menyadari kesalahannya.

__ADS_1


"Apa mbak?"


"Ngga apa-apa. Tunggu ya mas!" Dina segera berlalu meninggalkan Bagas.


__ADS_2