
Pov Arby.
Berita itu sangat mengejutkanku. Ternyata, aku punya seorang kakak. Dia adalah putri kandung dari Pak Handoko dan Betty, yang nota bene adalah orang tua angkatku. Namanya Reny Theresa. Dia telah menghilang atau tepatnya hilang 30 tahun yang lalu.
Adalah sebuah mukzizat Kak Reny dipertemukan kembali dengan kedua orang tuanya. Setelah pencarian selama tiga puluh tahun yang lalu, tiba-tiba dia menghubungi sendiri. Karena orang tua angkat kak Reny melihat sebuah iklan di tabloid. Semua bukti tentang jati dirinya tidak terbantahkan. Mama dan Papa benar- benar percaya kalau Kak Reny adalah anak mereka yang hilang.
Selama ini telah banyak orang yang datang dan pergi mengaku sebagai anak yang hilang itu. Namun tidak satupun yang bisa memberi bukti yang kongkrit tentang barang bukti serta asal muasal kejadian.
Bahkan Bibi Elis juga pernah membawa seseorang yang mengaku sebagai anak kandung papa dan mama. Mereka memiliki bukti yang nyaris sempurna. Entah, karena semua itu memang sudah mereka persiapkan. Tapi mama menolak mentah-mentah! Papa juga tidak yakin kalau bukti-r bukti itu asli. Sampai papa dan bibi Elis bersitegang karena itu.
Aku jadi curiga kegigihan Bibi Elis waktu itu. Karena terlalu memaksakan pendapatnya. Sementara mama yang pasti memiliki naluri keibuannya sangat yakin kalau itu bukan putrinya.
Akhirnya mama mengajukan satu pertanyaan saja, apakah perempuan yang dibawa Bibi Elis itu memiliki tanda lahir di dada dan pahanya. Disebelah s memanjakan aku. Segala kebutuhanku dan permintaanku pasti dipenuhi. Tapi itu tidak membuatku lupa diri dan tetap menjadi anak kebanggaan papa dan mama.
Aku memang tidak pernah tau kalau dulunya aku punya saudara yang hilang karena korban penculikan. Aku mengetahuinya saat Bibi Elis, mencoba menipu papa dan mama.
Penasaran dengan sikap Om Defry dan Bibi Elis yang ngotot menyodorkan perempuan sebagai anak yang hilang dari papa dan mama. Sehingga aku melakukan penelusuran tentang siapa perempuan itu.
Hasilnya sangat mengejutkan aku. Ternyata dia masih saudara sepupu jauh. Aku mengancam Bibi Elis dan om Defry atas bukti dan hasil penelusuranku.
"Bibi dan Om jahat!" Sentakku saat mendengar pembicaraan Bibi Elis dan Om Defry. Aku yang telah berdiri hampir satu jam di balik pintu. Telah mendengar semua percakapan mereka atas kegagalan rencana busuk mereka.
"Arby!" Seru Bibi Elis bangkit dari kursi saat melihat kemunculanku yang tidak mereka duga sama sekali.
__ADS_1
"Iya, aku Arby. Kenapa, Bi? Kaget ya, karena aku telah tau semua rencana busuk Bibi dan Om sama Mama dan Papa." Dengusku, yang bèrencana akan melaporkan semuanya pada Mama dan Papa.
"Arby, dengar dulu ya, penjelasan Bibi. Kamu jangan salah paham dulu," ucap Bi Elis berusaha tenang, membujukku.
"Apalagi yang harus dijelaskan, Bi, semua sudah jelas kalau Bibi dan Om punya rencana jahat pada mama dan papa," hentakku geram, sudah jelas Bibi dan Om hendak mengambil keuntungan dari kasus hilangnya saudaraku.
"Aku akan laporkan semua bukti-bukti yang aku temukan." Ancamku tegas, seraya menunjukan rekaman pembicaraan mereka.
Wajah Bibi Elis dan Om Defry saat itu menjadi pucat pias. Mereka berusaha membujukku untuk membatalkan renacanaku itu, tapi aku menolak.
"Kamu tega, Arby. Memenjarakan orang tua kandungmu sendiri," ucapnya penuh uraian air mata. Aku tersentak kaget mendengar ucapan itu.
Lalu pengakuan itupun keluar dari mulut Bibi Elis. Sebuah rahasia yang dia simpan selama ini tentang siapa aku yang sebenarnya. Dengan jujur Bibi Elis mengakui semua niat dan rencananya.
"Arby, semua ini mama lakukan untuk kebaikan mu. Mama tidak ingin kamulah satu- satunya anak Handoko."
"Mama? Apa maksud Bibi, menyebut diri Bibi, Mama. Mamanya siapa?" dengkusku antara kaget dan marah.
"Sebenarnya, Bibi adalah Mama kamu, By. Mama terpaksa melakukan itu, meletakkanmu di teras rumah agar diadopsi oleh pamanmu sendiri. Mama ingin kamu memiliki masa depan yang lebih baik. Dari pada mereka mengadopsi orang lain, mama lebih baik menyerahkan kamu saja." Bi Elis gamblang.
"Kenapa Bibi lakukan dengan licik seperti itu?"
"Karena pamanmu selalu memusuhi , mama. Mana dia mau menjadikan kamu anak adopsi."
__ADS_1
Ucapan itu ibarat palu godam menghantam dadaku. Sedemikian teganya seorang ibu membuang anaknya sendiri demi mengharapkan harta warisan kelak. Dengan cara licik pula.
Bagaimana aku bisa menerima dan mengakui bahwa mereka adalah orang tuaku. Selama ini papa dan mama memperlakukan aku seperti anak kandung mereka. Aku selalu bergelimang kasih sayang. Kenyataannya mereka bukan orangtua kandungku. Sungguh, seketika duniaku serasa runtuh.
Apalagi saat aku tahu orang tuaku semacam apa. Mereka orang tua yang serakah dengan harta, dan berupaya dengan segala cara untuk mendapatkan harta yang bukan miliknya. Bahkan itu mereka lakukan pada saudaranya sendiri.
"Om dan Bibi jahat! Jangan harap aku percaya ucapan kalian. Aku tidak akan pernah menyebut kalian atau mengakui sebagai orang tuaku. Jangan harap kalian bisa dapatkan setetes pun harta mama dan papaku. "Dan bukan masa depan yang baik akan kalian lihat di diriku. Tapi kehancuranlah yang akan kalian saksikan!" umpatku.
Aku bergegas pergi waktu itu, meninggalkan Om dan Bibi. Dengan hati yang hancur lebur. Jika benar mereka orang tuaku, bagaiman bisa mereka bersikap sekejam itu, memperalat diriku untuk mendapatkan harta.
Bagaimana kalau papa dan mama mengetahui niat busuk mereka itu. Aku tidak bisa membayangkang reaksi mereka jika tau cerita itu. Bukan tidak mungkin mereka malah akan membuangku juga, jika tau faktanya bahwa aku adalah keponakan mereka.
Karena itulah aku diam, tak pernah bertanya siapa orang tuaku kandungku. Karena aku tidak ingin papa dan mama dimamfaatkan oleh Bibi Elis. Setiap kali bertemu mereka aku acuh dan tak perduli.
Sejauh ini papa dan mama tidak tau kalau aku sudah mengetahui masa laluku. Aku yang berubah perangai tiba-tiba, tentu saja membuat mereka heran dan marah. Semua itu kulakukan, untuk membalaskan sakit hatiku pada Bibi Elis dan Om Defry, karena telah membuangku.
Setiap kali mereka datang ke rumah, aku enggan bertemu dan selalu menghindar. Papa sempat menanyakan perubahan sikapku itu, juga mama. Namun, aku tetap menutup rapat mulutku.Karena merasa serba salah, seperti memilih buah simalakama, aku juga bingung mau memulai ceritanya dari mana.
Satu hal yang pasti, aku tidsk ingin memuaskan rasa dahaga Bibi Elis dan Om Defry untuk memiliki harta mama dan papa melalui diriku.
"Arby!" seseorang menyebut namaku saat aku tengah memilih kemeja disebuah counter pakaian pria. Refleks, aku menoleh. Ternyata Nina, temanku semasa kuliah.
"Hai, Nin!" seruku merasa supraise. Gadis yang pernah akrab denganku dulu, tersenyum lembut ke arahku. Aku berpisah dengannya karena hanya karena kesalahan satu malam, yang sangat kusesali hingga hari ini.****
__ADS_1