Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Dua manusia es


__ADS_3

Setelah kemarin menghabiskan waktu setengah hari bersama kekasihnya. Kini Agra kembali melakukan pekerjaannya. Ia memang tidak suka membuang buang waktu,karena bagi waktu itu sangat berharga dan harus di jaga.


Seperti yang sudah di beritahu sekretarisnya. Agra harus bertemu dengan orang yang bertugas untuk mengawasi proyek perusahaan di restoran. Dan disinilah dirinya,duduk dengan kaki bertumpu dan tangan di silangkan sambil mendengar perkataan orang di depannya.


"Apa ada yang ingin anda tanyakan tuan Agra?" tanyanya takut.


"Apa jembatannya aman untuk di lalui?" Agra menatap datar.


"Sesuai dengan harga pembangunannya, itu pasti aman tuan."


"Sudah berapa persen pembangunannya?"


"Sekitar 50 persen tuan!"


"Bagus!" pujinya sembari menepuk tangan. Orang di depannya menghela nafas lega.


"Ezwar!" panggilnya pada sekretarisnya yang duduk da meja lainnya. Sekretaris Ezwar mendekat dan berdiri di samping tuannya.


"Ezwar, kau awasi langsung pembangunannya. Aku tidak ingin ada kesalahan." Titah Agra.


"Baik tuan."


"Kau boleh pergi sekarang." Agra mengibas satu tangannya seolah mengusir. Tanpa banyak bicara, orang itu menarik kursi ke belakang dan ingin bangkit.


"Tunggu!" suara mengintrupsi menghentikan orang itu. Ketiga Orang itu melihat ke asal suara. Seorang gadis berjalan ke arah mereka dan tanpa meminta izin langsung duduk di kursi samping tuan Agra. Tidak peduli dengan Agra yang menatap kaget, sekretaris Ezwar yang tercekat dan orang sudah mau pergi itu sekarang tubuhnya semakin gemetar.


'Mau apa dia disini?" batin Agra bertanya tanya. Menatap tajam gadis yang seenaknya duduk di sampingnya.


"Maaf sudah bergabung, ada yang harus saya bicarakan dengan anda tuan. Jadi silahkan duduk kembali." ucap Agina tanpa rasa bersalah sedikitpun. Orang itu kembali duduk.


"Hei, kenapa kau duduk disini?" pekik Agra menatap tajam ke arah Agina. Agina hanya melirik sebentar dan kembali menatap kedepan. Itu berhasil membuat Agra murka.


"Kenapa anda ketakutan sekali tuan? Saya tidak akan menghajar anda." Terkekeh. Kentara sekali ada maksud di balik ucapannya.


"Tuan Ezwar, lihatlah apa yang saya temukan." Agina menyerahkan map yang langsung di terima sekretaris Ezwar. Dan betapa terkejutnya sekretaris Ezwar setelah mengetahui isinya.


"Anda cukup berani juga rupanya!" Sekretaris Ezwar menyeringai. Menyerahkan kembali map itu kepada Agina. Orang itu semakin bergetar. sedangkan Agra yang tidak mengerti dengan gadis ini di tambah kelakuan aneh sekretarisnya.


"Hei, kalian berdua itu kenapa?" Agra jadi kesal.


"Saya tidak menyangka, anda melakukan ini." ucap Agina dengan penuh penekanan. Tidak peduli dengan pertanyaan Agra.


"Sepertinya anda tidak takut dengan akibatnya." ikut mengabaikan tuannya.


Agra benar benar di buat kesal dengan kedua orang di sampingnya. Dengan berkali kali menghela nafas, dirinya berusaha untuk tidak emosi dan memilih untuk diam mendengarkan.

__ADS_1


"Sa, saya," Bahkan orang yang sedang di tatap tajam itu, tidak berani mengeluarkan suaranya.


"Kau di pecat!" sentak serempak antara Agina dan sekretaris Ezwar. Agra tersentak.


"Ta, tapi," Wajah orang itu sudah pucat pasi.


"Tidak ada tapi tapian! Sekarang angkat kakimu dari sini!" Agina memukul meja dengan kepalan tangan kanannya. Segera orang itu lari terbirit birit. Sekretaris Ezwar tersenyum puas tapi Agina tetap berwajah datar.


"Apa ada yang harus kalian jelaskan disini?" Sahut Agra ketus. Agina menyerahkan map tadi kepada tuan Agra. Agra mengambilnya dan reaksinya sama dengan sekretaris Ezwar. Memalingkan wajahnya ke arah Agina.


"Dia mengorupsi uang pembangunan?" Tanya Agra setelah mengetahui isi map tersebut.


"Seperti yang sudah anda baca." jawab Agina.


"Bagaimana bisa kau mengetahuinya?"


"Tentu saja bisa, apa yang tidak bisa di lakukakan Agina." Sekretaris Ezwar mengarahkan telapak tangannya ke Agina. Agina yang mengerti pun membalasnya. Agra menatap horor kedua manusia di sampingnya.


"Kalau begitu, saya permisi." Agina bangkit dan ingin pergi tapi ada tangan yang menghentikannya. Agra memegang tangan Agina dan menariknya keluar restoran di ikuti sekretaris Ezwar. Tidak perlu membayarnya karena restoran itu milik Agra.


Agra membawa Agina ke dalam mobil. Dan Agina pun tidak protes. Mobil melaju dengan dengan sekretaris Ezwar yang menjadi supir sedangkan Agra dan Agina duduk jok belakang.


Agina melakukan panggilan dengan seseorang. "Motorku ada di restoran xxx, bawa ke apartemenku. Aku akan pulang naik taksi." Mematikan ponselnya dan menyamankan posisi duduknya.


"Apa yang ingin anda tanyakan tuan Agra?" Agina memulai bicara karena Agra dari tadi hanya diam saja. Agra menghela nafas.


"Oke,aku akan menjawabnya. Yang pertama,kenapa aku ada di sana? karena kakiku berjalan ke sana. Yang kedua,bagaimana aku tau tantang korupsi itu? Karena aku menyelidikinya. Dan yang ketiga, tidak ada hubungan apa - apa." jelas Agina panjang lebar. Agra di buat melongo dengan jawaban gadis di sampingnya ini.


"Bisakah kau menjawab dengan benar!"


"Bukan jawaban saya yang salah, tapi pertanyaan andalah yang tidak tepat." Agina melirik sinis ke arah tuan Agra yang menatapnya emosi. Sedangkan di jok depan, Sekretaris Ezwar sedang menahan tawanya mendengar percakapan dua orang di belakangnya.


'Dasar dua manusia es.' Batinnya.


Agra mengelus dadanya untuk meredakan emosinya. "Siapa namamu?" Menatap ke arah gadis yang sibuk dengan ponselnya.


"Agina."


"Kenapa kau menyelidiki tentang proyek perusahaanku?"


"Karena itulah tugasku."


"Kenapa itu menjadi tugasmu?"


"Karena aku bekerja di perusahaan anda."

__ADS_1


"Apa? Jadi kau bekerja di perusahaanku!" Pekik Agra terkejut. "Jadi kau itu bawahanku?"


"Bukan."


"Lalu apa? kau bosnya?" bertanya dengan nada mengejek.


"Iya." Satu kata yang seakan bikin Agra jantungan.


'Gadis ini mendengarnya atau tidak sih!.


"Perusahaan itu adalah milikku, Bagaimana bisa kau menjadi pemimpinnya?"


"Bisa."


Agra merebut ponsel Agina. Dirinya kesal karena ini kedua kalinya,dirinya di abaikan. Agina menatap tuan Agra datar.


"Sekarang jawab pertanyaanku dengan serius." Ujar Agra mempolototi Agina.


"Apa yang harus kujawab?" balas Agina santai. Sungguh, rasanya Agra ingin sekali mencekik leher Agina. Baru kali ini ada orang yang berani membuatnya kesal bahkan sampai ke ubun ubun.


"Kau ingat perkataanku, jika aku bertemu denganmu lagi, aku tidak akan melepaskanmu." Agra menatap tajam. Agina hanya menaikkan sebelah alisnya.


'Memang sejak kapan aku bisa lepas darimu!' Batin Agina.


"Terserah!" Tidak ingin berdebat lagi. Agina merebut ponsel kembali dan memasukkannya ke dalam celana jinsnya.


"Tuan Ezwar, hentikan mobilnya." titah Agina. Sekretaris Ezwar langsung menurutinya.


"Tidak! antarkan dia sampai perusahaan." titah Agra. Seketika itu sekretaris Ezwar jadi bingung harus menuruti yang mana.


Agina hendak membuka pintu karena mobil memang sudah berhenti, tapi tangannya di pegang Agra.


"Aku bilang, jalankan mobilnya!" ulang Agra lagi. Sekretaris Ezwar semakin bingung, Karena kalau menuruti permintaan salah satunya pasti dirinya akan sama saja.


'Potong gaji, atau rumah sakit?" Batinnya.


Karena terlalu lama. Agina memutar bola matanya jengah. Seketika di putar tangannya yang di pegang Agra sehingga menjadi dirinyalah yang memegang tangan Agra. Di hempasnya tangan Agra dan segera pergi dari sana. Sedangkan Agra membeku di tempat.


"Tunggu dulu! Kenapa kau menuruti perkataannya?" Tersadar dari lamunannya bahwa gadis itu sudah pergi.


"Maaf tuan, saya tidak ingin masuk rumah sakit." jawaban yang membuat Agra melongo tidak percaya.


 


Jangan lupa like dan komen.

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH BACA.


__ADS_2