Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Perjalanan ke desa


__ADS_3

"Lama sekali sih dia?" gerutu Agra yang kembali melihat arloji di tangannya. Dia dan sekretaris Ezwar kini sedang berada di depan perusahaannya. Tepatnya di parkiran.


"Sabar tuan, mungkin di jalanan sedang macet." Sekretaris Ezwar yang berada di sampingnya mencoba menenangkan. Agra kembali emosi. Dan dengan sabar sekretaris Ezwar menenangkan tuannya yang sedang menunggu kedatangan Agina.


"Ah sudahlah, kau telpon saja dia." titah Agra. Sekretaris Ezwar menepuk dahinya. Kenapa tidak dari tadi saja ia lakukan. Segera sekretaris Ezwar melakukan panggilan.


"Kau ada di mana?" tanya sekretaris Ezwar. Tidak ada bahasa formal karena ini sedang tidak bekerja. Sekretaris Ezwar memspiker ponselnya agar tuannya mendengar pembicaraan mereka.


"Bukan nya kau tau aku harus pergi ke kampung." sahut Agina yang saat ini sedang mengendarai motornya.


"Iya aku tau, maka nya saat ini kami sedang menunggumu di depan perusahaan." Melirik tuan nya yang hanya diam.


"Kami?"


"Ya aku dan tuan Agra."


"Untuk apa kalian menungguku? Aku kan tidak pergi ke perusahaan hari ini."


"Apa! Jadi kau tidak pergi ke perusahaan hari ini?" teriak sekretaris Ezwar sembari melirik tuan nya. Agra yang mendengarnya jadi emosi. Di rebutnya ponsel sekretarisnya.


"Dimana kau sekarang?" Dengan nada membentak.


"Dalam perjalanan menuju kampung Asri." Menjawab santai. Walaupun telinga nya berdenyut mendengar teriakan Agra.


"Apa! Berani sekali kau ya. Kami menunggu selama satu jam di sini. Dan dengan santai nya kau mengatakan sedang menuju kesana. Benar benar karyawan tidak tau diri!" maki Agra dengan dada nya yang naik turun. Sekretaris Ezwar hanya terlonjak kaget.


"Pelankan suara anda, telinga saya sakit mendengar nya." Agina menahan rasa panas di telinga nya. Telinga nya pasti merah sekarang. "Lagi pula saya tidak menyuruh anda menunggu saya. Dan juga saya tidak tau kalau anda akan ikut."


"Masih berani kau menjawab!" sentak Agra.


"Tidak perlu berdebat! Kalau anda memang mau datang, datanglah." malas meladeni, Agina mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku.


Agra menghembuskan nafasnya kasar. Ia meremukkan ponsel sekretaris Ezwar sebagai pelampiasan kemarahannya. Sekretaris Ezwar menatap malang ponselnya yang sudah retak.


"Aku titipkan perusahaan padamu." ucap Agra sambil menyerahkan ponsel ke pemiliknya tanpa rasa bersalah sedikitpun. Sekretaris Ezwar menerima dan menatap tragis ponselnya.


"Iya tuan." Menjawab dengan tidak semangat.


Agra masuk kedalam mobilnya. Ia menyusul Agina. Butuh waktu setengah jam untuk sampai di sana. Untung saja dia membawa mobil biasa jadi tidak masalah jika jalannya tidak ada aspal. Memakirkan mobilnya di tempat yang sudah di sediakan di kampung itu. Turun dari mobilnya dan menghampiri gadis yang berdiri dengan wajah menatapnya datar.

__ADS_1


Aku akan memberimu pelajaran hari ini. Agra menggertakkan giginya.


"Sudah bisa berangkat sekarang?" tanya Agina saat Agra tepat berdiri di hadapan nya.


"Kau berjalan di depan." Menatap tajam gadis di depan nya. Agina berjalan sesuai perkataan Agra.


Agra menyuruh Agina di depan karena ia pikir Agina pasti jijik dengan suasana di desa, apalagi kemarin turun hujan dan pastinya meninggalkan genangan air. Wanita selalu saja berlebihan itu menurutnya. Namun pemikiran itu langsung di tepis oleh Agina yang berjalan santai melewati becek dengan sepatu snakensnya. Mereka harus melewati hutan untuk bisa sampai ke desa. Banyak pepohonan tinggi tumbuh di pinggiran jalan yang kecil ini sehingga jadi terlihat menyeramkan.


"Hei tunggu aku!" teriak Agra karena malah dia yang kesusahan berjalan. Agina berhenti dan menoleh ke belakang.


"Cepatlah!" Seru Agina.


"Kau tidak lihat sepatuku terkena genangan air?" Menunjuk sepatu nya yang sudah kotor.


"Lalu?"


"Ya kita harus kembali ke mobilku untuk mengambil sepatu lainnya." Berdecak kesal karena gadis di depan nya tidak mengerti.


"Lalu, setelah kita mengambil sepatu anda kita jalan lagi. Terus sepatu anda kotor lagi kita kembali ke mobil anda lagi, begitu?" Agra terdiam. Semua yang di katakan Agina memang benar. "Lebih baik anda kembali saja ke kota. Jalanan seperti ini tidak akan cocok dengan orang kaya seperti anda."


Berani sekali dia menghinaku.


"Disini tidak ada sinyal, jadi anda tidak bisa menelpon," Menatap ke depan. Agina mulai melangkah kembali. "Sudahlah, jangan banyak mengeluh. kita harus segera sampai ke sana."


Agra mendengus dan kembali berjalan. baru beberapa menit.


"Aaaa, apa ini!" pekik Agra. Agina yang terkejut langsung berbalik dan mengambil ancang ancang siap menyerang. Namun yang di lihatnya.


"Singkirkan benda berwarna hijau ini dari baju ku!" teriak nya lagi. Agina memandang datar ulat yang berada di lengan Agra tanpa ada niatan untuk mengambil nya.


"Hei apa kau tidak dengar, cepat singkirkan ini?" Dengan malas Agina mengambil nya dan membuang nya. Lalu berjalan kembali. Agra mengikuti nya belakang. Perjalanan yang sangat panjang bagi Agina.


"Aaaa, ada lintah!" teriak Agra lagi karena melihat binatang melata.


"Aaaa, ular!"


"Suara apa itu!"


"Aaaa, buaya darat!"

__ADS_1


Itu biawak bodoh!' maki Agina dalam hati.


"Aaaa, predator!"


"Aaaa, kuntilanak!"


"Apa! Jadi anda mengatakan bahwa muka saya mirip kuntilanak!" Mempolototi Agra. Tentu saja Agra mengatakan karena terkejut. Wajah Agina terlihat sangat menyeramkan sekarang dengan mata melotot di tambah muka nya yang merah karena menahan emosi dan hanya ada satu jengkal jarak wajah kedua nya.


"Ma, maaf aku tidak sengaja mengatakan nya." Agra jadi ketakutan melihat wajah Agina sekarang. Agina menjauhkan wajah nya dan menghela nafas berkali kali untuk meredakan kemarahan nya. Ingin sekali Agina memaikaikan headset di telinga tapi ia juga tidak ingin mengambil resiko dengan tidak mendengar suara di sekeliling nya. Itu bisa saja membahayakan nyawa Agra.


Agina menarik tangan Agra dan menggenggam nya. "Kita berjalan beriringan." Ucap nya seraya berjalan.


Ada kehangatan di relung hati Agra mendapat perlakuan Agina. Agra membalas genggaman Agina dengan lebih erat dan mereka berjalan beriringan sampai akhir nya bisa melewati hutan.


"Selamat datang di desa kecil kami tuan Agra dan nona Agina." sambutan yang langsung di dapatkan mereka setelah keluar dari hutan. Agina melepaskan genggaman tangan mereka membuat Agra tersentak. Ada rasa tidak rela di hati nya.


Ada apa denganku?.


"Terima kasih atas penyambutan nya." ucap Agina.


"Pasti perjalanan anda tidak menyenangkan, karena harus melewati hutan terlebih dahulu." papar kepala desa dengan rasa bersalah.


"Ah tidak apa apa, nama nya juga hutan pasti tidak menyenangkan. Tapi kami senang bisa berkunjung." sahut Agra dengan datar. Beberapa wanita di sana menjerit melihat ketampanan tuan Agra.


"Apa tadi ada hambatan? Kami beberapa kali mendengar suara teriakan."


Agra berdehem mencoba menghilangkan kegugupan nya dan mengembalikan gaya cool nya. Sedangkan Agina menggeleng kepala nya.


"Tadi ada anak kecil yang suka sekali berteriak." Agina berkata tanpa melihat ke arah Agra.


Ya anak kecil yang bertubuh besar.


Agra menatap tajam ke arah Agina karena merasa tersindir. Orang orang di sana hanya menatap bingung kedua nya.


......................


Kalau suka jangan lupa like. Karena itu sangat berharga buat aku.


TERIMA KASIH SUDAH BACA.

__ADS_1


__ADS_2