Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 88


__ADS_3

Pagi ini kami semua kumpul di meja makan, sarapan seperti biasanya. Saat itulah aku perhatikan kalau Luke makan dengan tangan kanan. Arby, kan apa-apa pakai tangan kiri karena dia kidal. Jadi jelaslah, kalau yang bersama kami hampir sebulan ini bukanlah Arby.


Papa dan mama memang tidak begitu menyadari semua itu. Karena dilihat dari wajah dan perawakan, Luke dan Arby mirip sekali. Memang susah untuk membedakannya. Buktinya papa dan mama yang sudah puluhan tahun hidup bersama Arby tidak curiga pada Luke. Mereka sama sekali tidak menyadari kalalu sosok yang bersama mereka bukanlah Arby yang asli.


"Sejak kapan kamu, By, kalo makan pakai tangan kanan. Bukannya kamu kidal" tanyaku memperlihatkan keherananku. Mendadak Luke serba salah. Wajahnya berubah pias. Dalam hati aku bersorak senang. Karena telah membuatnya seperti duduk di kursi listrik.


"Eh, Iya apa kamu tidak kidal lagi? Mama juga baru sadar. Perasaan mama, kemarin Arby juga makan pake tangan kanan." ungkap mama .


"Arby, sudah latihan selama di Papua, Ma. Soalnya banyak yang ngejek, kalau makan pake tangan kiri." sahut Luke enteng tanpa beban. Ekspresi kagetnya cuma sekian detik, langsung berubah normal. Aku jadi gregetan.


"Tapi om, apa gak susah tuh, latihannya. Devan sampai sekarang gak bisa-bisa juga," ucap Devan. Aku merasa sangat terwakilkan dengan pertanyaan polos Devan. Karena Devan juga kan tangan kidal. Aku melihat rona wajah Luke berubah tapi dia berusaha menetralisirnya.


"Kali aja om Arbynya, punya kembaran," sentilku spontan sambil bercanda. Tak ayal lagi, Luke tersedak, buru-buru meraih gelas dan menelan air putih hingga tandas.


"Om Arby punya kembaran?" beliak Devan seraya memandang ke Luke dan papa bergantian.


"Hush, mama kamu cuma bercanda. Mana ada kembaran om Arbymu. Sudah, saat makan jangan banyak cerita," tukas papa tegas.


"Gak ada salahnya ditanya ke bibi Elis, Pa. Yang tau 'kan cuma bibi. Kamu boleh tanyain Bi Elis, By. Soalnya kemarin itu aku liat seseorang yang mirip sama kamu?" ucapku setengah bercanda. Lagi-lagi Luke tersedak makanan. Kali ini nasi yang di mulutnya terhambur keluar.


Mampus! Teriakku dalam hati. Aku sangat menikmati posisi Luke saat ini. Persis seperti kepiting dalam penggorengan.


"Reny! Kamu jangan kelewat bicara, ya. Tidak baik bercanda terutama saat makan!" delik papa marah dan menatapku tajam.

__ADS_1


"Sory, By. Kakak cuma bercanda, kok," sahutku pura-pura menyesal. "Tapi, kok kamu sekaget itu sih, padahal kakak cuma bercanda."


"Gak papa kok. Aku kaget karena gak menduga saja, kalo candaanmu menyerempet kesana," ucapnya berusaha tenang. Padahal aku sempat melihatnya mengatupkan rahang, kesal dengan ulahku.


"Ya, iyalah. Tapi kalau gak ada kebenarannya, masak reaksimu berlebihan gitu. Sampai tersedak segala, biasa aja kali." kejarku masih berusaha memojokkannya.


"Sudah, Reny, kamu ini suka kali becandain saudaramu. Tapi tidak di meja makan say, pamali," ucap mama menatapku lembut. Berusaha menetralkan suasana.


"Iya, ma. Maaf ya, By," ucapku. Luke cuma mengendikkan bahunya. Sementara, kalau aku bercanda dengan, Arby, dia akan menyambung candaanku hingga aku mati kutu. Beda jauh dengan Luke. Ya bedalah, orangnya juga beda. Yang satu Arby satunya Luke. Kebetulan saja mereka kembar, dan tidak ada yang mengetahui karena Bi Elis menyembunyikannya selama ini.


"Kamu juga aneh, By. Biasanya 'kan kalau kakakmu bencanda pasti kamu timpali. Buka sibuk tersedak begini, kayak gak pernah aja dicandain," tukas mama. Hem, baguslah. Kayaknya mama juga bisa menilai sikap Luke dan membandingkannya dengan Arby. Meskipun mama belum tau kalau yang didepannya bukanlah Arby yang sebenarnya.


"Tau, tuh! Bikin gak enak saja," cebikku. Biasanya, dia juga yang ngajak becanda, entah kenapa sepulang dari Papua, berubah jadi pendiam, kayak kesambet jin aja," timpalku lagi memancing air keruh. Aku memang sengaja mengerjai Luke, yang menyaru jadi Arby. Merasa nyaman saja dan enjoy membawakan diri Arby mentang-mentang karena mereka mirip sekali.


Mau memamfaatkan itu untuk menipu papa. Aneh juga, bagaimana papa bisa semudah itu tertipu.Tak menyadari kalau Luke bukan Arby. Tidak bisa membedakan keduanya. Aku juga sebenarnya gak bisa membedakan keduanya, kalau saja tidak mendengar percakapan Luke dan Bi Elis kemarin itu.


Dia pikir aksi jahatnya akan mudah dia lalsanakan, dan tidak ada yang mengendus niat buruknya itu.


"Sory, lagi galau aja, gak pas waktu becandanya. Udah, aku cabut duluan. Permisi Ma, Om," ucap Luke salah tingkah.


"Kok, malah manggil Om, sama Papa, sih. Aneh, ada-ada saja kamu, By." protes papa.


"Eh, maaf, Pa," ralat Luke nervous. Meninggalkan meja makan diiringi tatapan keheranan dari kami semua.

__ADS_1


"Gak seperti sikap, Om Arby, yang biasanya 'kan, ma?"celetuk Devan.


"Iya, semalam Om Arby, marah-marah gak jelas. Mitha sampe kena bentak. Mitha takut, ketemu om Arby, kalau gak ada nenek atau mama."


"Eh, cucu nenek gak boleh omong gitu. Mungkin saja om Arbynya ada masalah." tukas mama.


"Iya deh, Nek, tapi om Arby gak pernah seseram itu. Biasanya 'kan om suka ngajak kita main. Pokoknya om Arby udah berubah, gak sebaik dulu lagi 'kan kak Dev?" aku melongo mendengar penjelasan Mitha. Anak-anak memang paling peka merasa kalau ada sesuatu yang gak beres.


"Masak sih, om Arby kasar sama kamu, nak?" tanyaku. "Kali aja kamu nakal, bikin om kesal," tatapku lekat untuk melihat kejujurannya.


"Gak, ma. Mitha gak sengaja kok, menendang bola ke arah, Om Arby, trus Mitha di bentak," ucap Mitha.


"Kok, baru ngomong sekarang. Kenapa gak ngasih tau Nenek," sela Mama.


"Mitha takut, Nek."


"Ya, sudah. Lain kali kalau ada orang yang bersikap kasar, kasih tau Nenek atau mama, ya?" kuusap kepala Mitha.


Hem, ingin rasanya aku langsung membongkar kedok Luke yang menyaru sebagai Arby. Namun, aku belum punya bukti yang cukup kuat, untuk perlihatkan pada papa. Lagi pula, belum jelas apa rencana mereka.


Sementara ini aku simpan saja kesabaranku. Sambil mengamati pergerakan Hans dan Luke. Kalau bisa, keberadaan Arby harus aku ketahui dulu, sehingga buktinya komplit. Selain itu aku harus memastikan dulu, keselamatan Arby.


Dion sudah menyuruh seseorang menyelidikinya, jadi aku harus bertindak hati-hati juga jangan sampai Luke curiga kalau aku sudah tau penyamarannya.

__ADS_1


Untuk saat ini, biarlah aku banyak mengalah, mengikuti saja permainan mereka. Dengan begitu aku bisa dapatkan infomasi dari mereka. Jika aku bertindak sekarang, takutnya aku malah kehilangan kesempatan, untuk menelisik rencana Luke dan Hans.


Aku harus bisa mendekati Hans dan Arby. Hanya dengan dekat dengan merekalah aku bisa mencari informasi tentang keberadaan Arby. Semoga saja hingga hal itu terjadi, Arby baik-baik saja.*****


__ADS_2