
Lisa mengejar langkah sang suami. Sesaat setelah ia mematikan kompor. Seperti anak kecil yang tidak terima diejek. Hubungan yang semalam panas dingin, di pagi hari yang cuaca sedang dingin karena rintikan hujan dari semalam justru malah membuat suasana hati sepasang suami istri ini menghangat. Seperti inilah hubungan yang seharusnya. Ada kemarahan tapi juga ada candaan.
Lisa membuka pintu kamar tapi di setiap sudut ia tidak melihat sang suami. Bisa di pastikan kalau Sakti sedang di kamar mandi.
"Awas kau ya, mas. Akan aku balas nanti. Aku tahu kau belum mandi kan?" Ucap Lisa sambil terus menggedor pintu kamar mandi.
Sakti yang sedang siap menanggalkan pakaiannya tiba-tiba berhenti setelah mendengar teriakan Lisa. Seketika muncul ide untuk mengerjai sang istri.
Ceklek... Suara pintu kamar mandi terbuka. Hanya kepala Sakti yang menyembul keluar.
"Kenapa? Mau mandi bareng, sini masuk!" pinta Sakti.
"Idih, mas ngapain? Masuk lagi sana!" Teriak Lisa sambil menutup wajah dengan kedua tangan.
Lisa bisa membayangkan bahwa sang suami saat ini sedang tidak memakai baju. Tentu saja dirinya malu. Walaupun sudah lima bulan tidur di ranjang sama tapi belum pernah sekalipun ia melakukan hubungan layaknya suami istri.
Sakti semakin gemas dengan tingkah sang istri. Perlahan ia keluar dan mendekat ke arah Lisa. Ia singkirkan tangan sang istri. "Bukalah! Aku ini sudah sah menjadi suami mu, kau boleh melihat tubuhku, sayang."
"Aakh," teriak Lisa ia segera berbalik dan berlari ke luar.
Sakti semakin kencang tertawa. Istrinya itu polos sekali itulah yang ada di pikirannya saat ini. Ia tidak menyangka menyenangkan sekali membuat istrinya malu. Ia kembali masuk ke dalam kamar mandi dan akan melanjutkan kembali ritual mandinya.
Lisa tidak hentinya mengumpat sang suami. Sungguh ia baru tahu ada sisi jail dari Sakti yang selama ini terlihat cuek dengan siapapun tapi selalu perhatian padanya. Hatinya mulai menghangat. Sepertinya pernikahan yang ia jalani akan lebih berwarna untuk hari-hari berikutnya.
* * *
__ADS_1
Berbeda lagi dengan pasangan pengantin baru yang masih betah di atas ranjang berbalut selimut tebal. Setelah aktivitas panas yang membuat keduanya kelelahan rasanya mereka enggan untuk bangkit dari atas ranjang. Gerimis di pagi hari mendukung pasangan tersebut untuk semakin berlama-lama di bawah selimut.
Senyum manis tersungging dari bibir Lala. Ia mengingat kembali percintaan dengan sang suami di saat fajar tadi. Rintikan hujan serta dingin nya udara pagi hari semakin Lala mempererat pelukannya pada sang suami.
"Selamat pagi, sayang!" Ucap Adam. Sesaat setelah membuka mata. Ia terbangun karena pelukan Lala.
"Pagi," balas Lala, disertai senyum manis. Menyambut sapaan sang suami.
Hubungan suami istri yang di dasari cinta akan lebih manis terasa seperti apa yang di jalani Lala dan Adam. Lebih bisa mengerti dan perhatian satu sama lain karena mereka sudah menjalin hubungan terlebih dulu dengan pacaran. Berbeda dengan Sakti dah Lisa akan merasa canggung diantara keduanya. Apapun itu asal ada komunikasi antar keduanya saling perhatian pasti akan terjalin hubungan yang harmonis.
Komunikasi adalah kunci utamanya. Perjodohan tidak salah karena dari awal Lisa dan Sakti menerima perjodohan. Hanya butuh waktu untuk keduanya memupuk rasa. Menumbuhkan sayang dan cinta dalam rumah tangga yang sedang mereka bina. Tidak akan terjadi pernikahan kalau di antara Lisa dan Sakti saling menolak di awal. Hubungan yang suci sudah terbina dan mereka tinggal menjalankannya. Kalau pun ada hati yang belum sepenuhnya menerima itu hanya soal waktu.
* * *
Kata seandainya selalu membuat gelisah. Menoreh luka hati kembali untuk ingin mengulang kisah yang belum di mulai. Dua hati saling cinta dalam diam. Rasa terpendam tak mampu terlukiskan. Bibit bunga tumbuh semakin tumbuh harus layu begitu saja. Harapan tinggal kenangan dan sesal terus menjerat hati. Raga tak mampu berlari mengejar dia sang pemilik hati.
Apakah boleh egois sekali saja? Ingin hati merebut Lisa dari sang suami. Mungkin Lisa tidak bahagia bersama Sakti. Pikiran buruk menari indah mengusik sepotong hati yang sepi. Ingin bahagia juga seperti mereka yang bersama pujaan hati.
"Kemarin masih dirimu, dan hari inipun begitu. Apakah besok atau lusa masih sama?" Bagas berucap pada dirinya sendiri. Seolah bayangan Lisa ada di samping dirinya yang sedang mengemudi.
Helaan napas berkali-kali. Jeritan dua sisi dari hati. Ingin merebut atau melepaskan?
* * *
"Sudah siap sarapannya ya, sayang?" tanya Sakti setelah mendudukkan tubuhnya di kursi.
__ADS_1
"Mas bisa lihat kan? Kenapa tanya?" Jawab Lisa ketus.
"Hanya basa-basi kepada istriku yang terlihat imut kalau lagi merajuk dan aku ingin mencium bibir nya yang manis."
Plak...
Pukulan Lisa layangkan di pundak sang suami. Sepertinya gara-gara semalam otak sang suami mengalami masalah. Itulah yang ada di pikiran Lisa saat ini.
" Auw, pukulan mu mantap juga sayang. Ternyata kau memiliki tenaga yang kuat juga ya?"
" Mas mau rasakan yang lebih kuat dari itu?" tanya Lisa sudah ambil ancang-ancang, ia mengepalkan tangannya.
"Ah, ide bagus ayo kita naik ke atas! Ngga seru kalau disini. Enaknya di ranjang sayang."
Lisa semakin terkejut akan jawaban Sakti. Ia berpikir Sakti hanya menginginkan tubuhnya saja. Pasti tidak ada cinta yang tulus dari sang suami.
"Makanlah, mas! Setelah itu aku minta izin untuk pergi ke rumah orang tuaku sebentar." Lisa berucap degan tegas.
"Aku hanya bercanda sayang. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Tenang! Aku mencintaimu dengan tulus. Dan aku tidak akan memaksamu lagi. Hubungan yang awalnya dari perjodohan bukan tidak mungkin akan ada cinta bukan? Dan aku sudah bilang di awal pernikahan kita. Aku akan memberikan banyak cinta dan kau cukup menerima nya saja. Dan saat kau menyadari perasaanmu kau akan bingung untuk membalasnya."
Lisa seperti ter cubit oleh perkataan Sakti. Suaminya tahu apa yang ada dalam pikirannya. Dan juga dia rela memberi. Pria dewasa yang baik dan pengertian.
"Maaf kan aku mas."
"Kau ngga salah. Dan jangan katakan maaf kalau kau tidak benar-benar tahu apa makna kata maaf itu!"
__ADS_1