
"Selamat malam, Reya," aku terkejut mendengar sapaan itu terlebih dengan nama panggilan itu. Kuedarkan pandaganku ke sekitaran area parkir, mencari arah datangnya suara.
Sesosok tubuh tengah bersandar di sebuah mobil mewah. Mataku mengernyit menatap sosok itu. Kaca mata yang menutup sebagian wajahnya membuatku sulit mengenalinya. Hanya karena dia menyebut namaku dengan Reya, aku bisa menebak kalau sosok itu adalah Hans.
Aku melepaskan tanganku dari pintu mobil, dan menunggu langkah kakinya mendekat kearahku.
"Selamat malam, Reya," ucapnya seraya melepas kaca mata hitamnya.
"Selamat malam, apa yang kamu lakukan di sini?" tanyaku heran. Ada urusan apa Hans berada di area parkir ini. Dia bukan salah satu karyawan perusahaan in. Pastinya juga bukan rekanan kami.
"Aku hanya kebetulan lewat sini. Tiba-tiba teringat kalau tempat ini adalah tempat kerjamu."
"Heum, sesuatu yang patut dipertanyakan. Juga soal kiriman buket bunga itu. Tidak ada angin dan hujan, aku ketiban hadiah," sindirku. Menyoal kiriman bunga yang berakhir di keranjang sampah.
Sepertinya hadiahku itu tidak berharga, sehingga berakhir di keranjang sampah," imbuhnya.
"Pada akhirnya memang berakhir di sana, setelah layu," ucapku tak merasa bersalah. Karena memang tak seharusnya kiriman itu datang mendadak, setelah kami lost kontak bertahun yang lalu.
__ADS_1
"Sepertinya susah meminta maaf darimu ya, meski kesalahanku telah berlalu sekian tahun."
"Soal maaf, sudah lama kuberi. Masa lalu pastinya akan berlalu juga, tak guna mengungkitnya. Apalagi mendramatisirnya," ungkapku agak jengah karena Hans mengungkit tentang masa lalu kami. Aku tidak ingin membahas soal itu.
"Hem, kamu baik sekali telah memaafkan aku, sepertinya aku berhutang untuk itu." Hans, sepertinya ingin kami berbincang lebih lama tapi bagiku pertemuan ini sama sekali tidak penting bagiku dan hanya membuang waktu saja.
Belum lagi dia adalah lelaki yang meninggalkan jejak hitam dalam rekaman pertemananku.
"Tidak perlu membahas soal itu. Oh, ya, maaf aku buru-buru," ucapku seraya membuka pintu mobil. Bagiku bicara dengan Hans di tempat area parkir ini membuatku tak nyaman. Aku juga ju a tidak perlu berbasa-basi lebih dalam dengannya.
Aku sempat melihat mata Hans mengerjap kaget. Mungkin karena sikap dinginku yang kuperlihatkan.
Aku tercenung merdengar kalimat terakhir, Hans. Ucapannya mengandung misteri
Aku menatap punggung lelaki itu yang makin menjauh. Sebelum masuk ke dalam mobilnya, masih saja dia sempatkan tersenyumke arahku. Aku hanya membalasnya dengan senyum kecil. Aku juga akhirnya meninggalkan area parkir, sembari pikiramku mencoba mereka-reka arti ucapan Hans.
Aku benar-benar tak suka dengan pertemuan itu. Karena sikap Hans, seolah menyimpan sesuatu yang agak mencurigakan. Kenapa tiba-tiba saja dia muncul kembali di kehidupanku. Apakah dia tengah merencakan sesuatu. Apakah hadirnya dia kembali dalam lingkup kehidupanku kebetulan semata, atau sesuatu yang memang ia rencakan?
__ADS_1
Ah, kenapa pula aku terbebani dengan semua itu. Tak seharusnya aku curiga berlebihan seperti ini, tapi mengapa aku tidak bisa mengabaikan begitu saja. Seperrinya aku punya firasat buruk, kalau kehadiran Hans bukan tanpa tujuan.
Setidaknya, naluri naluriku memberi sinyal untuk waspada. Apapun yang ada dalam pikiran Hans, tentu tidak akan bisa aku baca, dan semoga saja hanya pikiran buruklah yang mencoba mempermainkan perasaanku.
Setiba di rumah aku mencoba bersikap santai. Aku tidak ingin mama atau papa membaca keresahan di hatiku.
"Tumben putri mama, pulang telat?" sambut mama begitu aku muncul du ruang tamu.
"Ada perkerjaan yang harus aku selesaikan, ma. Belum lagi macet, di jalan. Devan dan Mitha mana, ma?" tanyaku karena anak-anakku biasanya heboh menyambutku setiap pulang.
"Tadi Dion mampir, dan membawa mereka jalan-jalan. Mungkin bentar lagi pulang."
"Astaga, Devan dan Mitha kebangetan nyusahin, Dion. Kok, mama ngasih ijin, kebiasaan nanti."
"Raisa yang minta, sepertinya Dion gak bisa nolak kemauan putrinya. Katanya kangen sama Devan dan Mitha."
Aku terdiam mendengar pejelasan mama. Sepertinya Raisa dan kedua anakku sudah saling terikat satu sama lain. Kasih sayang diantara mereka tumbuh begitu saja. Seolah mereka saudara yang punya ikatan darah yang sama.
__ADS_1
Raisa yang sering kesepian, merasa sangat terhibur sejak kenal dengan Devan dan Mitha. Mereka begitu kompak. Aku sangat mensyukuri keadaan ini. Jika nantinya aku dan Dion berjodoh, tentu mereka tidak merasa canggung lagi karena sudah menjadi saudara. Semoga segala sesuatunya nanti bisa berjalan lancar, kami menjadi satu keluarga yang utuh, yang saling membutuhkan.*****
Para readerku yang tercinta. Maaf ya, bila beberapa hari author telat Up, karena kurang sehat. Semoga kita semua dalam keadaan sehat selalu. Selamat hari Raya Idul Fitri bagi saudaraku yang merayakannya.