Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 87


__ADS_3

Aku tengah memilih beberapap camilan untuk Devan dan Mitha di sebuah toko swalayan. Setelah merasa cukup, aku bermaksud pindah ke rak bahan makanan instan. Saat melewati rak minuman aku melihat dua sosok tengah berbincang serius. Sosok itu tak lain adalah, Arby, alias Luke, yang menyaru jadi saudara tiriku. Sedang lawan bicaranya aku tidak kenal karena posisinya membelakangiku.


Buru-buru aku kembali ketempat rak camilan. Aku penasaran apa yang mereka perbincangkan. Aku menggeser beberapa bungkus camilan, agar aku bisa melihat dan mendengar perbicaraan mereka.


Hampir saja beberapa bungkus camilan itu jatuh tersenggolku, saat aku melihat siapa lawan bicara, Luke. Dia adalah , Hans, lelaki dari masa laluku. Untunglah, mereka tidak curiga sama sekali.


Bagaimana mereka saling kenal? Ada hubungan apa diantara mereka? Apakah keduanya sudah lama saling kenal atau mereka dua sahabat yang tanpa sengaja bertemu di sini? Sejuta tanya merasuki pikiranku. Rasa penasaranku melebihi kewarasanku.


Aku segera merekam pembicaraan keduanya. Karena aku sangat penasaran apa yang akan mereka bicarakan.


Aku mencoba mendengar percakapan mereka yang hilang timbul. Karena pengaruh signal yang tidak bagus.


"Bagaimana, kamu sudah bisa membujuk pamanmu untuk kerja sama dengan perusahaanku?" ucap Hans.


"Beres, aku sudah mengambil alih dari Reny. Om Handoko sama sekali tidak curiga kalau aku bukan Arby," ucap Luke pongah.


"Iya, kamu harus tetap berhati-hati. Jangan sampai lengah. Sedikit saja tingkahmu berbeda dengan Arby, rencana kita akan gagal total."


"Tenang sajalah, mereka itu sepertinya terlalu mudah ditaklukkan," ungkap Luke remeh.


"Jangan meremehkan Pak Handoko, mereka bukan orang biasa. Kamu jangan bertindak gegabah. Sekali mereka curiga, habislah kita, paham!" ucap Hans tak suka karena sikap enteng Luke.


"Amanlah itu, selagi Arby masih dalam sekapan kita, rahasiaku pasti aman." ucap Luke lagi, mencoba menenangkan Hans. Aku sangat terkejut dengan ucapan Luke . Berarti mereka tengah menyekap Arby, bukannya Arby di Papua?


"Tapi aku masih khawatir soal Reny, sampai sekarang aku belum bisa meluluhkan hatinya. Terutama karena ada Dion di sisinya yang selalu siap membantunya." keluh Hans.


"Tenang sajalah, aku akan mencoba memisahkan mereka dengan mempengaruhi om Handoko. Sepertinya beliau sangat percaya padaku," ucap Luke penuh percaya diri.


"Baiklah, aku tunggu kabar baik darimu. Sebaiknya kita jangan sering tampil bersama di depan publik, supaya penyamaran kita tidak terbongkar." Hans lantas pergi meninggalkan Luke. Aku juga bergegas memutar arah, pura- pura fokus melihat barang-barang yang di pajang.


Langkah begitu santai menyusuri setiap lorong rak. Aku sengaja lakukan itu agar bisa berpapasan dengan salah satu dari mereka.

__ADS_1


Untuk mengukur kekuatan dari lawan sekaligus mencari kelemahannya, harus bisa berbaur dengannya. Menjadikan kekuatannya sebagai senjata untuk mengalahkannya. Aku harus bisa masuk dalam cirkel kehidupan dari mereka.


Aku tau seseorang tengah memperhatikanku, tapi aku pura-pura tak tau, dan berusaha santai. Hingga akhirnya aku mendengar sebuah suara memanggilku. Aku menoleh ke arah datangnya suara. Seraut wajah Hans tengah menatapku dengan senyum lebarnya. Aku muak melihat senyum itu, tapi aku berusaha bersikap biasa saja.


"Kamu Reny? Tak kusangka bisa bertemu kamu disini?" tanyanya.


"Eh, kamu Hans? Ngapain di sini?" beliakku pura- pura kaget. Aku berusaha bersikap ramah, beda dengan yang kutunjukkan saat bertemu dengannya di area parkir, kemarin itu.


"Aku sedang mencari oleh-oleh untuk keponakanku, menurutmu apa yang cocok makanan untuk bocah sepuluh tahun," ucapnya meminta saran.


"Cowok apa cewek?" tanyaku.


"Keduanya."


"Bagaimana kalau seperti ini?" unjukku pada isi keranjang yang kupegang. Permen coklat kacang dan stik keju. Hans memperhatikannya dan merasa cocok dengan pilihanku.


"Boleh juga, ponakanku mungkin suka. Ada di rak mana?"


"Oh, nanti saja aku balik kesana. Aku cari yang lain saja, dulu. Mungkin buah- buahan itu," tebaknya, ke arah belakangku. Karena tadi aku memang sudah sempat melihat-lihat buah itu.


Aku tersenyum dalam hati, kelihatan sekali modusnya untuk mengikuti langkahku. Aku yang sudah bisa menebak bersikap santai saja.


"Boleh juga," ucapku seraya memilih beberapa buah di dalam kotak. Aku mengambil buah apel, pir dan anggur. Hans juga mengikuti pilihanku.


Karena memang sudah tidak ada lagi yang.mau kubeli, aku pamit menuju kasir.


"Aku duluan, Hans, belanjaanku sudah penuh," ucapku secara halus.


"Oh, ya, aku juga," serunya buru-buru. Mengikuti langkahku menuju kasir.


"Permen coklatnya gak jadi?" tanyaku mengingatkan. Hanya basa-basi saja, aku yakin Hans tidak akan jadi mengambilnya. Karena semua itu hanya modusnya untuk bisa mwngikutiku.

__ADS_1


"Oh, iya, lupa. Kapan-kapanlah itu, aku sudah malas mau balik ke sana lagi," ungkapnya.


Hans mengikutiku ke kasir. Kasir mentotal semua uang belanjaanku. Lalu dia menyebut sejumlah angka. Aku mengeluarkan beberapa lembar uang kertas merah, tapi mendadak di cegah, Hans.


"Ini saja, mbak! Sekalian dengan belanjaanku," ucapnya menyerahkan kartu kreditnya.


"Eh, jangan begitu. Biar aku yang bayar belanjaanku," tolakku halus merasa tak enak.


"Tidak apa-apa, Ren, demi masa lalu kita." ucapnya lagi. Akhirnya aku mengalah saja. Aku tau Hans sedang menunjukkan harga dirinya. Karena aku juga tengah bermain cantik, kuikuti saja kemauannya.


"Terimakasih, ya, lain kali aku akan balas itu," ucapku. Aku memang akan menganggap itu jadi hutang. Aku hanya ingin memasuki dunia Hans, untuk melihat atau mengetahui apa rencana busuk yang ingin dia lakukan pada keluargaku.


Apakah ada orang lain yang mendalanginya hendak mengahancurkan usaha papa, selain bibi Elis?


"Jangan terlalu dipikirkan, Ren. Aku hanya ingin kamu mengingat persahabatan kita dulu. Bahwa dulu kita pernah memiliki masa-masa yang indah. Aku minta maaf karena telah menoreh luka di hatimu. Anggap kita impas, dan kita mulai persahabatan yang baru," ucapnya berusaha tulus. Namun, aku tau pasti itu hanya ucapan penuh kepalsuan. Hans tidak tau aku telah mengetahui niat jahatnya. Dia pikir aku akan terkecoh dengan sikap baiknya yang hanya pura-pura.


"Aku setuju berbaikan, tapi kuharap semua ini tidak ada hubungannya dengan masa lalu," ucapku penuh tekanan. Aku melihat sinar mata Hans, mengerjap aneh. Sepertinya dia mungkin bingung dengan ucapanku.


"Oke, aku setuju. Untuk masa depan," ucap Hans sambil menyalamiku. Dia tersenyum sumringah, yang bagiku itu adalah senyum seringai, yang menurutnya mungkin aku telah masuk dalam perangkapnya.


Aku membalas senyumnya juga, dalam hati aku berguman, akan mengikuti skenario yang dia susun. Bermain cantik untuk bisa mengetahui apa rencana mereka.


Kami berpisah di area parkir, dengan sebuah janji untuk bertemu lagi. Aku menatap punggung Hans, menghilang di balik pintu mobilnya. Kusambut lambaian tangannya, sesaat sebelum akhirnya mobil itu menghilang.


Aku menaruh belanjaanku di bagasi, lalu termenung di balik setir. Aku merasakan kakiku gemetaran karena menyadari permainan yang tengah kujalani. Aku tau, Luke dan Hans bukanlah lelaki yang ragu dengan setiap keputusan yang mereka ambil.


Mereka adalah orang-orang yang terbiasa bertindak nekad dan akan memamfaatkan segala cara untuk mendapatkan keinginan hati mereka.


Tidak ada bedanya dengan Luke, karena keserakahan tega menyekap saudaranya sendiri hanya untuk menggantikan posisi saudara kembarnya, untuk mendapatkan harta orang lain. Semua itu tidak lepas dari keserakahan Bibi Elis. Yang sejak dulu, begitu benci dan iri dengan saudaranya sendiri. Yaitu Handoko papaku sendiri.


Aku akan berjuang menyelamatkan keluargaku, dari tangan orang serakah, yang mencoba menghancurkan kebahagian kami. *****

__ADS_1


__ADS_2