Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 54


__ADS_3

Disaat aku dan Arby berbincang, tiba-tiba sepasang suami istri datang bertamu. Aku belum kenal siapa saja sanak keluarga, kusambut mereka dengan senyuman ramah. Tapi reaksi dari tamu itu sangat di luar dugaanku terutama yang perempuan. Tanganku ditepis saat hendak menyalam.


"Selamat pagi Om, Tante," sapaku, seraya mengulurkan tangan dan hendak mencium punggung tangan mereka.


Tangan om, yang belakangan aku tau namanya om Defry berhasil aku salam. Tapi tidak dengan tante Elis, yang langsung menepis tanganku dengan bertanya soal mama.


"Betty, mana? Aku adalah Bibimu, bukan tante," ucapnya dengan nada tak bersahabat. Tatapannya angkuh dengan kepala agak diangkat. Belum sempat aku menjawab suara mama telah terdengar di belakangku.


"Hai, tumben pagi-pagi begini sudah datang bertandang, Lis," seru mama seraya menyalami keduanya.


"Karena ada hal pentinglah, kak." sahutnya jutek.


"Kalau gitu kita sarapan dulu, baru membicarakan yang lainnya. Arby, sudah selesai, ya?" ucap mama karena melihat Arby yang bangkit dari kursi.


"Iya, Ma. Aku ada urusan mendadak, jadi duluan sarapan. Soal semalam, aku sudah minta maaf sama kak Reny. Lain kali tidak akan kuulangi lagi. Permisi Bibi, om." Arby berlalu begitu saja, tanpa bereaksi akan kedatangan bibi dan omnya. Dalam hatiku terbersit rasa heran akan sikap Arby.


"Huh!, anak itu dari hari ke hari gak pernah berubah. Tak ada respeknya sama kita orang yang lebih tua," gerutu bibi Elis.


"Sudahlah, jangan diambil pusing lagi. Yang memulai juga siapa. Kalian juga tak pernah mau mengalah," sahut papa yang tiba- tiba sudah hadir di ruang makan.


"Eh, kakak Handoko. Kenapa sih, selalu belain Arby terus." bibi Elis menghampiri papa dan menyalaminya.


"Kamu juga kenapa selalu mencari kesalahan, Arby. Setiap kalian datang, rasa nyaman di rumah ini hilang." sindir papa membuatku kaget. Aku heran melihat kesinisan papa mengahadapi bibi Elis.


"Pagi-pagi sudah datang, ada masalah lagi ya dengan keuangan," dengus papa dingin


"Kakak jangan gitu dong, aku belum bicara sudah langsung disosor, gitu."

__ADS_1


"Aku tidak ada waktu dengan basa-basi, Lis. Bila dugaan kakak benar, kakak minta maaf tidak bisa membantu."


"Sudah, Pa, kita sarapan dulu. Nanti keburu dingin semuanya," mama menengahi suasana yang mulai terlihat tegang.


"Papa memang tidak suka, mereka datang hanya kalau ada maunya. Bertanya soal Reny, ponakannya saja gak kepikir. Padahal sudah sekian tahun kita mencarinya. Sama sekali tidak pernah peduli."


"Oh, masalah Reny, toh yang membuat kakak, meradang. Aku 'kan sudah menjelaskan sikapku. Kalau aku tidak percaya kalau dia keponakanku."


"Apa yang membuatmu tidak percaya, semua bukti sudah jelas. Kami orang tuanya tentu bisa merasakan ikatan itu. Darah lebih kental dari air." sentak papa berang.


"Papa, sudah. Soal Reny kitalah yang lebih tau, dan orang lain tidak bisa menggugat itu," ucap mama tegas menenangkan papa.


Aku yang sedari tadi menyaksikan pertikaian itu, cuma bisa diam tanpa bisa berbuat apa-apa. Akhirnya aku mengerti sikap Arby. Kenapa dia buru-buru pergi begitu melihat kedatangan om dan tantenya.


"Reny, kenapa masih diam di situ. Mari duduk di sini," seru papa. "Ini, keponakanmu yang sudah hilang 30 tahun lalu. Tapi reaksimu atas ditemukannya dia, sangat mengecewakan aku."


"Maafkan kami kakak ipar, bukan maksud kami tak peduli. Tapi kami terlalu sibuk, baru ini bisa membagi waktu untuk datang," ucap om Defry menyela setelah sedari tadi diam saja. Tante Elis tetap merengut seolah tak suka pula dengan ucapan suaminya yang mencoba mencairkan suasana.


Beberapa kali aku lihat mama selalu mencoba menengahi papa untuk lebih mengalah. Tapi sikap papa yang keras dan tegas jadi tidak mudah bagi mama sebagai wasit.


Aku tidak tau apa sebenarnya yang menjadi masalah antara papa dan saudari, satu- satunya. Papa hanya dua bersaudara, yaitu Papa dan bibi Elis. Sepanjang acara sarapan pagi, selalu di interupsi ucapan papa dan bibi Elis yang agak alot.


"Sudah berapa kali aku katakan, sampai kapanpun aku tidak sudi memaafkan mereka. Jadi, kamu, tidak perlu repot-repot menengahi, perseteruan kami, paham!" Teriak papa, seraya membanting sendok dan garpu di piringnya. Papa berhenti sarapan, padahal masih sisa separuh lagi.


"Kamu selalu begitu, keras kepala. Apa sih susahnya memberi maaf. Kejadian itu kan sudah lama berlalu," Bi Elis juga tak mau kalah. Membalas ucapan papa tak kalah kerasnya.


"Mudah saja kamu melupakan perlakuan mereka. Tapi aku, harga diriku yang mereka injak-injak, tidak semudah itu memberi maaf. Setelah sekian tahun, apa mereka pernah peduli? Tidak sekalipun mereka datang ke sini, sekedar minta maaf, kok malah aku yang harus kesana. Tidak! Aku bilang tidak, tetap tidak!" papa bangkit dari kursi dan masuk ke kamar dengan membanting pintu kamar. Suaranya berdebam, mengagetkan kami semua.

__ADS_1


Bibi juga langsung pergi, menghentakkan kakinya saking geram dengan kelakuan papa. Bibi mengajak paksa om Defry segera pulang. Om Defry yang merasa serba salah, terpaksa mengikuti langkah istrinya tanpa bicara apa-apa lagi.


Aku menatap mama, yang menghela napas panjang. Mataku menuntut sebuah jawaban atas insiden itu. Tapi sepertinya jawaban itu tidak akan kudapatkan, setidaknya untuk saat ini. Karena mama lebih memilih masuk kamar, menyusul papa.


Akupun terpaksa naik ke atas masuk kamarku. Kedua anakku sudah pergi sekolah, jadi sementara ini aku belum punya kesibukan. Aku teringat dengan Sofi, tapi menghubunginya sepagi ini juga bukan ide yang bagus.


Aku yakin Sofi tengah sibuk dengan para bocilnya yang super lasak. Aku manimang-nimang ponsel, antara iya atau tidak menghubungi Sofi. Ketukan di pintu membuyarkan rencanaku.


"Tok....Tok...., Reny, ini mama," terdengar suara halus mama. Aku beranjak dari ranjang, membukakan pintu kamar.


"Ada apa, Ma?" aku celingukan saat melihat mama yang berdiri di balik pintu, siapa tau papa juga ikut.


"Cuma mama, papamu udah pergi ke kantor," jelas mama.


"Ada apa ma?" tanyaku mempersilahkan mama masuk kamarku. Mama memilih duduk di pinggir ranjang. Lalu aku mengikuti mama juga, duduk di sampingnya.


"Maafkan mama dan papa, ya. Kamu jadi melihat kejadian di meja makan tadi. Mama juga gak ngerti, papa dan bibimu tidak pernah akur. Kalaupun akur cuma sebentar, lalu ribut lagi. Gigu terus."


"Ah, gak papa, kok ma. Masalah keluarga itu 'kan gak ada habisnya," ucapku. Mama mengangguk tanda setuju.


"Tapi mama jadi merasa tak enak sama kamu. Oh, ya, apa benar Arby tadi minta maaf sama kamu?"


"Iya, ma."


"Benarkah? Kalian ngomong apa saja tadi, dia tidak ngomong kasar samamu 'kan?"


"Gaklah, Ma. Biasa aja, kok. Menurur Reny, Arby itu malah bukan anak nakal. Cuma, Reny merasa dia terlalu banyak tekanan. Apa mama memperlakukannya terlalu keras?" tanyaku.

__ADS_1


Pikiran mama sepertinya menerawang jauh, mendengar pertanyaanku.


"Ceritanya sangat panjang, Ren."*****


__ADS_2