Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Teman Agina


__ADS_3

Langkah nya terhenti saat mendengar namanya di panggil. Kepalanya ia tolehkan kesamping kiri. Dan melihat sekretaris Ezwar yang menghampiri nya.


"Ada ingin yang aku tanyakan." Saat berhadapan dengan Agina. Agina hanya mengangguk mempersilahkan.


"Apa terjadi sesuatu kemarin, sampai membuat tuan Agra sakit?" tanya sekretaris Ezwar. Agina mengalihkan ke pintu ruangannya.


"Sudah menanyakan nya pada tuan Agra?" Balik bertanya seraya memutar knop pintu. Sekretaris Ezwar mengeryitkan kening nya.


"Tuan Agra tidak ingin membahas nya."


"Lalu, apa yang anda harapkan dari diriku?" Mendorong pelan. "Tuan Agra saja tidak ingin membahas nya, lalu bagaimana dengan saya." Agina masuk ke dalam ruangan nya.


"Aku mencemaskan keadaannya." lirih sekretaris Ezwar. Agina berbalik menghadap sekretaris Ezwar. Ia mengerti perasaan lelaki depan nya. Kejadian delapan tahun lalu membuat semua orang yang menyayangi Agra tidak ingin membuat nya tersakiti lagi.


"Saya mengerti kecemasan anda. Tapi anda tidak perlu khawatir, sudah menjadi tugas saya menjaga raga tuan Agra." Sekretaris Ezwar menambakkan wajah bingung tanda ia tidak mengerti.


"Hanya raga? Bagaimana dengan perasaannya?" tanya sekretaris Ezwar.


"Saya tidak mengerti tentang hal itu, karena perasaan saya sudah mati." Menutup pintu dengan sekretaris Ezwar yang melihatnya dengan pandangan yang sulit di artikan.


Agina menatap pintu di depan nya sendu. Benarkah perasaan nya sudah mati?


Jika itu benar, kenapa rasa sesak ini masih ada dan masih sama seperti dulu. Bahkan ini terasa lebih menyakitkan. Ingatan masa lalu nya terus menghantui dirinya. Ingatan itu seperti kaset yang terus berputar putar di kepala nya. Setiap tahun, bulan, jam dan detik adalah kebahagian namun di hancurkan hanya dengan ketidakpercayaan Agra terhadap nya.


"Aku tidak boleh lemah." Menampakkan wajah dingin nya. "Ayah sudah melatihku untuk keamanan tuan Agra. Aku tidak boleh mengecewakan nya." ucap Agina. Melihat ke arah jam tangan nya, seketika muncul lah sebuah senyuman miring.


"Klienku kali ini cukup menarik." Berhenti sejenak. "Berapa tahun ya, aku tidak bertemu dengan nya."


......................


Menjelaskan persentase untuk pertama kalinya dalam satu ruangan dengan Agra. Agina cukup merasa terganggu dengan itu. Di tambah aura dingin mencekam dari dirinya dan Agra cukup membuat semua orang membeku di tempat. Satu orang yang menatap Agina dengan pandangan yang sulit di artikan dan Agina yang menyadari nya hanya tersenyum miring.


Agra melihat klien nya dengan aura membunuh karena sudah berani menatap Agina secara terang terangan. Di tambah Agina yang membalas nya tersenyum cukup membuat darah nya mendidih.


Agina berdehem tanpa bahwa presentase nya sudah selesai. "Apa ada yang ingin di tanyakan?" Serempak semua menggeleng kecuali Agra dan orang itu. "Baiklah, rapat hari ini selesai. Kalian boleh pergi sekarang."


Ruangan telah kosong. Semua telah bubar. Agra kembali ke ruangan nya begitupun dengan Agina yang hendak memasuki ke ruangan nya.

__ADS_1


"Lama tidak berjumpa, Agina!" suara yang sangat di kenali nya. Orang itu menghampiri Agina dengan kedua tangan di saku nya.


"Bagaimana kabarmu, Alfin?" Memaksakan senyum nya. Agina benar benar lupa cara nya tersenyum tulus. Alfin tersenyum palsu.


Alfin Sanjaya, pewaris dari perusahaan P.T Sanjaya.


"Aku baik!" sahut nya. Alfin menatap Agina dari atas sampai bawah. Tidak ada yang berubah dari Agina, selalu tampil sesuai keinginan nya.


"Bagaimana dengan perusahaanmu? Apakah semua nya sudah selesai?" tanya Agina. Alfin yang mengerti arah pembicaraan Agina menghembuskan napasnya.


"Aku tidak tau cara membuktikannya, bahkan aku sendiri tidak merasa yakin bahwa itu benar." Tanpa mereka sadari sepasang telinga sedang menguping pembicaraan mereka di balik tembok. Awalnya Agra hanya ingin bertanya pada Agina tentang klien yang selalu memperhatikannya saat rapat tadi. Tapi niat itu di urungkan karena melihat Agina bersama kliennya. Agra memasang telinganya baik - baik meskipun itu sia - sia karena jarak mereka terlalu jauh.


"Butuh bantuan?" tanya Agina spontan.


"Ini masalah keluargaku, aku akan mengurusnya sendiri." Ucap Alfin tersenyum. Ia merasa beruntung memiliki teman seperti mereka.


"Jangan sungkan terhadapku." Menepuk bahu teman. Alfin tersenyum.


"Cukup masalah tentang pekerjaan. Aku merindukanmu, bolehkan aku memelukmu?" Alfin merentangkan tangannya. Agina melihat jam tangan nya seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Lima menit! Lima menit waktu yang kuberikan untuk memelukku."


"Jaga bicaramu! Di tempat ini banyak cctv nya." teriak Agina marah. Alfin berdiri dengan memegang pipinya yang baru saja terkena pukulan Agina.


"Maaf, aku lupa." Menangkup tangannya meminta maaf. Agina menghela nafas dan maju memeluk Alfin. Alfin pun dengan senang hati membalasnya karena ia pun sangat merindukan teman mungilnya ini.


Sedangkan di balik tembok Agra tertekun melihatnya. Ia tidak menyangka gadis seperti Agina memeluk laki laki tanpa ragu sedikitpun. Seketika ia merasa sesak melihatnya. Agra memutuskan menghampiri mereka.


"Di larang bermesraan di kantor!" Ketus Agra dengan tangan di silangkan. Tapi Agina dan Alfin tidak mengubrisnya. Agina malah dengan santainya melepas pelukannya.


"Waktumu sudah habis." Agina berucap datar. Alfin mendengus.


Agra mengerutkan keningnya. Apanya yang sudah habis?'


"Nomormu masih sama?" tanya Alfin. Kini tangan nya ia masukkan ke dalam saku. Agina mengangguk.


"Aku pergi dulu!" ucap Alfin pergi dengan melambaikan tangan nya. Agina membalasnya lalu berbalik melihat Agra yang tampak marah. Agina memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Siapa dia?" tanya Agra dengan suara beratnya.


"Teman saya."


"Teman kok mesra." Agra mencibirkan mulutnya.


"Sudah lama tidak bertemu. Saya hanya merindukannya." jelas Agina.


"Menjauh darinya!" ucap Agra dengan tegas. Setelahnya Agra mengurututi mulut nya yang hilang kendali. Agina tersentak.


"Apa hak ada melarang saya?" Agina menantang. Kini keduanya saling menatap tajam satu sama lain.


"Aku tuanmu!" sentak Agra. Agra menghela nafas, ia harus mengendalikan emosinya.


"Kau bukan tuanku! kau tidak berhak mengaturku. Jika kau tidak ingin aku melakukannya di perusahaan, katakan saja! Tidak perlu menyuruhku menjauh darinya dan .. cup." Agra menjauhkan wajahnya dan melihat Agina yang berhenti berbicara dan mematung. Agra mengedipkan matanya dan terkekeh melihat reaksi Agina di luar dugaannya. Kemudian Agra melangkah meninggalkan Agina yang masih tidak bergeming. Ia tidak ingin mendapat amukan dari Agina setelah ini.


Agina masih membeku di tempat. Tepukan di bahu menyadarkannya. Agina langsung memasang mode waspada dan berbalik menarik tangan itu dan memutar ke belakang punggung orang itu.


"Kau berani denganku!" teriak Agina marah dan mengunci tangan itu semakin kuat.


"Maafkan saya nona. Saya tidak akan menyentuh anda lagi." Eh. Agina tersadar dan melepaskan kuncian tangannya. Orang itu berbalik dan membungkung. "Saya tidak bermaksud menyentuh anda. Saya tidak sengaja lewat dan melihat anda berdiri mematung." Ucapnya bergetar.


Agina menghela nafasnya. Untung saja tidak ada yang melihat.


"Kembalilah bekerja." Orang itu langsung pamit undur diri. Agina memijit pelipisnya.


Agra sialan!


Di ruangan lain.


Agra tergelak di kursi kebesarannya. Sekretaris Ezwar yang melihatnya pun terheran heran. Ada gerangan apa sampai membuat tuannya begitu bahagia.


Agra mengembungkan pipinya untuk menghentikan tawanya. Aku tidak percaya, aku memberikan ciuman pertamaku padanya.


......................


Like dan komen.

__ADS_1


Terima kasih sudah baca.


__ADS_2