
Pagi-pagi aku keluar dari rumah penginapan yang kami sewa selama beebulaln madu. Letaknya yang tidak jauh dari pantai jadi daya tarik tersendiri bagiku selama menginap di sini.
Deburan ombak yang pecah di pantai, menjadi pengantar tidur dan senandung pagi setiap kali aku terjaga dari tidur.
Seperti pagi ini aku ingin menikmati sunrise di pantai ini. Pantai yang sangat indah dan elok.
Diam-diam aku keluar dan berjalan menyusuri pantai. Sengaja aku tidak membangunkan Dion. Karena semalam dia begadang, menyelesaikan beberapa tugasnya yang sangat mendesak.
Kabut masih turun, semburat cahaya merah perlahan muncul malu-malu. Seperti senyum malu seorang bayi . Indah dan menggemaskan. Tak lupa, aku mengabadikan keindahan itu lewat kamera gawaiku. Kupilih beberapa yang paling bagus dan kusimpan di galeri.
Dari jauh, aku melihat sesosok tubuh tengah lari pagi. Terbungkus jaket hoodie, sehingga wajahnya tidak bisa kukenali. Namun dari bentuk tubuhnya, sosok itu sangat familliar dalam ingatanku.
Semakin lama sosok itu makin dekat, akupun semakin yakin dengan dugaanku. Benar saja dia adalah Arby, adikku.
Tinggal beberapa langkah lagi aku akan berpapasan dengannya. Aku siap-siap hendak menyapanya. Semenjak pertemuan yang pertama kemarin itu, baru inilah kami bertemu lagi.
Aku sudah mencoba membuat janji untuk bertemu dengannya, tapi dia tolak. Aku maklum adanya. Mungkin saja semua ini sangat membuatnya bingung.
Seperti kata dokter Satrio, semua butuh proses. Sampai Arby mau membuka dirinya.
"Hai, selamat pagi," sapaku ramah begitu kami berhadapan. Sekejap aku melihat ekspresi kaget di wajahnya.
"Hai, juga," sahutnya santai, lalu melepas topi hoodienya.
"Apa kabar," ucapku. Entah kenapa aku merasa canggung juga saat ketemu berdua begini.
"Baik-baik," sahutnya formal. Aku berusaha mencairkan suasana agar tidak terasa kaku. Terlihat dari sikapnya, Arby, juga tertular sikap canggungku.
"Eh, Sisca gak ikut, ya?" ucapku pura- pura celingukan mencari sosok Siska.
__ADS_1
"Dia tidak suka lari pagi. Suami mbak juga gak ikut ya?"
"Hehe....Iya, masih ngorok," ucapku sambil merapatkan kedua telapak tanganku dan kutempelkan di pipi kiriku. "Sementara, aku sangat menyukai sunrise sama seperti sunset, dan tidak ingin kehilangan momen itu."
Arby tertawa, tawa itu benar-benar milik Arby. Aku terpesona mendengar tawa itu. Tawa yang sudah beberapa bulan ini menghilang.
"Hei, hei...." Arby melambai-lambaikan tangannya didepan wajahku. Karena mendadak aku terdiam, saat mendengar tawanya itu. Aku segera tersadar.
"Eh, maaf. Aku tadi, maksudku kamu mengingatkan aku pada seseorang."
"Arby, ya?"
"Eh, iya,"
"Apa benar dia begitu mirip denganku?" ucapnya.
"Mbak, yakin aku adalah Arby? Saudara mbak yang menghilang beberapa bulan lalu?"
"Maaf, bisakah kita sambil bicara di sana," tunjukku pada bangku di bawah pohon tidak jauh dari tempat kami berdiri. Arby, setuju dan melangkah ke arah bangku itu. Aku menyusul dibelakangnya.
"Aku tidak meragukan hal itu. Aku yakin kamu adalah adikku," ucapku meyakinkannya. Arby ,,menatapku lekat. Seolah mencari kepastian dari ucapanku.
"Ini, adalah foto-foto kebersamaan dalam keluarga kita. Ini papa dan mama juga keponakanmu Devan dan Mitha," aku memperlihatkan galeri di ponselku pada Arby.
"Devan, jadi itu nama keponakanku, ya? Bukan namaku. Nama itulah yang kerap hadir di mimpiku, aku selalu meneriakkan nama itu. Sehingga aku pikir, itu adalah namaku." Tiba-tiba Arby memijit kepalanya. Seperti menahan rasa sakit.
"Kamu kenapa, ada yang salah dengan ucapanku?" tanyaku khawatir.
"Ah, tidak apa-apa, mbak. Aku selalu begitu setiap kali aku mencoba, mengingat siapa aku yang sebenarnya."
__ADS_1
"Jangan dipaksakan, biarkan semua mengalir perlahan," ucapku merasa iba.
"Selama ini aku berusaha mencoba mencari tau siapa keluargaku. Tapi, aku sama sekali tidak menemukan jejaknya sama sekali."
"Kata dokter, sebaiknya kamu mengunjungi tempat yang biasa kamu lalui selama ini. Kalau kamu tidak keberatan, bagaimana kalau kamu ikut kami pulang ke Medan. Mungkin, dengan bertemu papa atau mama secara langsung, ingatanmu bisa pulih."
Arby terdiam saat mendengar saranku. sepertinya dia ragu.
"Apakah aku akan diterima dalam keluarga besar, mbak?"
"Kenapa tidak, karena kamu adalah bagian dari keluarga itu. Tentu semua akan bersuka cita, menyambutmu pulang," ucapku menyakinkannya .
"Seperti apakah aku dimasa laluku, aku takut jika aku adalah seorang anak yang selalu mengecewakan orang tuanya, sendiri."
"Walaupun kamu bukan anak, yang terbaik. Tapi aku yakin cinta mama dan papa akan mengahapus semua itu."
"Tapi aku telah menikah, aku tidal akan pulang sendirian."
"Justru itu, papa dan mama sudah lama menginginkan kamu menikah. Akan menjadi kejutan luar biasa nantinya oti, bagi papa dan mama."
"Baiklah, aku akan bicarakan ini dulu pada istri dan mertua aku."
"Kakak juga akan, memberitahukan soal kamu pada keluarga kita. Aku yakin, papa dan mama akan bahagia sekali mendengar kabar ini," ucapku .
Pada akhirnya, keluarga besar kami berkumpul lagi. Arby, yang dinyatakan bibi Elis telah meninggal ternyata masih hidup. Arby, selamat dari percobaan pembunuhan yang didalangi oleh, ibu kandungnya sendiri.
Keluarga besar kami bisa berkumpul utuh lagi. Papa dan mama sangat bahagia karena Arby telah menikah pula. Meskipun ingatan Arby belum pulih, semoga dengan waktu dia akan sembuh seperti semula.
Seperti hatiku juga yang dulu pernah terluka karena penghianatan suamiku, berkat cinta dan kasih sayang dari dion, aku kembali percaya diri untuk memulai hidup baru. Karena cinta rasaku yang hilang telah kembali lagi. End, *****
__ADS_1