
"Aku tahu, cukup aku yang mencintai mu Lisa." Pandangan Sakti tidak lepas dari Lisa. Terlihat begitu besar cinta laki-laki itu untuk Lisa.
Sakti segera menjalankan mobilnya. Di mobil suasana kembali hening. Lisa tidak tahu harus menanggapi omongan Sakti. Dia hanya memandang ke luar jendela mobil.
Mereka telah tiba di sebuah cafe di kota lama Semarang. Sakti membukakan pintu untuk Lisa.
Di gandeng nya tangan Lisa dengan mesra menuju ke sebuah meja yg ada di sudut ruangan cafe.
"Mas aku mau tanya, boleh?"
"Hemm." Sakti fokus dengan melihat menu yang ada di meja karena memang dia sangat lapar.
"Mas kau tidak mendengarkan aku?"
"Iya aku mendengar mu Lisa, kau belum cinta dengan ku kan? Aku tidak masalah."
Lisa sungguh heran dengan laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. Bukankah seharusnya Sakti marah, dan mungkin juga akan membatalkan pernikahannya. Tapi kenapa Sakti begitu legowo. Seolah pernikahan adalah perkara yang mudah bagi Sakti.
"Mas Sakti tidak bercanda kan?" Lisa memastikan lagi jawaban Sakti barang kali dialah yang salah dengar.
"Cukup aku yang mencintai mu. Aku yakin dengan berjalannya waktu kau akan mencintai ku Lisa."
__ADS_1
Lisa hanya menganggukkan kepala.
"Kau sebelumnya pernah pacaran Mas?" tanya Lisa.
"Pernah dulu waktu kuliah. Lumayan lama juga pacaran ku. Kalau kamu?"
"Pernah."
"Tidak apa - apa itu hanya masa lalu. Yang penting masa kini dan masa depan mu bersama Mas."
***
Di Bandung Bagas menyibukkan diri dengan bekerja. Dia belum bisa melupakan sosok Lisa dalam hidupnya. Mungkin percuma juga dia minta tugas di Bandung kalau pada akhirnya tetap tidak bisa melupakan Lisa.
***
Hari pernikahan pun tiba. Acara pernikahan Lisa dan Sakti di selenggarakan secara sederhana. Hanya keluarga dan teman dekat saja yang hadir di acara tersebut.
Lisa melihat dirinya di pantulan cermin yang ada di dalam kamar miliknya. "Kenapa aku ingin menangis. Apakah aku salah memilih jalan ini? Kenapa aku tidak bahagia." tangan Lisa mengusap cairan bening yang keluar dari kedua sudut matanya.
"Ayo kita turun ini sudah waktunya ijab kobul Lisa!" pinta Lala.
__ADS_1
Sahabatnya tersebut memecah lamunan Lisa yang menyesali keputusan nya. Mau di batalkan pun percuma semua kerabat dan teman dekat sudah datang itulah yang Lala pikirkan saat ini.
"Apakah semua sudah siap?" tanya Bapak penghulu kepada Yoga.
" Sudah Pak."
"Baiklah kita mulai acaranya."
Bapak penghulu membacakan doa sebelum ijab kobul dimulai Kemudian mengeratkan tangan Yoga dengan Sakti.
"Saya nikahkan dan kawinkan ananda Sakti Nugroho dengan putri kandung saya bernama Lisa Anindya Pramono dengan Mas kawin seperangkat alat sholat dan emas murni seratus gram di bayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya adinda Lisa Anindya Pramono dengan mas kawin tersebut tunai."
"Bagaimana para saksi?"
Sah.. sah..
Para saksi mengangguk.
"Sah," ucap pak penghulu lalu membacakan doa setelah ijab qobul.
__ADS_1
Tanpa terasa air mata Sakti dan Lisa menetes setelah selesai di baca kan doa. Semua orang mengira pasangan tersebut terharu karena bahagia. Tapi hanya mereka berdua yang tahu apa makna dari tangis tersebut.
Dari kejauhan juga ada seorang laki-laki yang meneteskan air mata. Sekarang semua sudah usai dia benar-benar kehilangan perempuan yang di cintai nya.