Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Pindah


__ADS_3

"Bagaimana keadaanku hari ini dokter?" tanya Olivia pada dokter di sampingnya.


"Tulang pinggangmu mengalami keretakan, butuh beberapa hari untuk memulihkannya. Untung saja tidak mengalami pergeseran." jawab dokter wanita itu.


"Tapi dok, aku harus menjalani pemotretan dua hari lagi. Apa bisa pemulihannya di percepat?"


"Lebih baik kau pikirkan kesehatanmu dulu. Soal pemotretan, akan kusuruh mereka menundanya." sahut Agra.


Sudah satu malam, Olivia menginap di rumah sakit. Tulang pinggangnya mengalami keretakan akibat tertimpa meja kemarin. Agra mengantarnya ke rumah sakit lalu kembali ke kantor, tidak menjaganya tidak kelihatan ada kepedualian lebih. Dan pagi Agra datang menjenguknya.


"Bagaimana dengan luka di kepalanya Rani?" Agra ingat, ada darah di kepala Olivia kemarin.


"Luka di kepalanya tidak parah, hanya saja itu harus sering di sapu dengan air agar tidak iritasi." saran dokter Rani. "Sebenarnya apa yang terjadi?"


"Olivia tertimpa meja." Singkat, padat dan jelas. Dokter Rani sudah terbiasa dengan sifat teman masa kecilnya ini. Sejak kehilangan orang tua, Agra berubah menjadi sosok yang sangat tertutup dan dingin. Di tambah kesalahpahaman dengan perempuan yang di cintainya.


"Bisa kau jelaskan lebih detail, bagaimana bisa tertimpa meja?"


"Olivia mencari masalah dengan orang yang salah."


"Hei bukan aku yang mencari masalah! Aku hanya ingin meluruskan kesalahpahaman. Tapi dia malah menendang meja dan menimpaku." Olivia tidak terima di bilang mencari masalah.


"Aku memang tidak lama mengenalnya. Tapi aku tau sifat Agina, dia tidak akan mudah terprovokasi oleh orang lain, kecuali orang itu memancingnya." Agra menatap tajam kekasihnya. Agra tidak mempercayai ucapan Olivia kemarin, karena dirinya tau Agina tidak akan melakukannya kecuali merasa terganggu.


"Kau tidak mempercayaiku Agra? Kau lebih memilih membela gadis moster itu?"


"Siapa itu Agina?" tanya dokter Rani. Memang hanya para pembisnis yang mengenal Agina, di karenakan Agina tidak pernah mengizinkan media mengekplorasinya.


"Dia perempuan yang menggoda Agra." jawab Olivia.


"Kau jangan bicara sembarangan. Agina hanyalah karyawan di perusahanku." Agra tidak terima perkataan Olivia. Karena dari sudut manapun di lihat bukan Agina yang menggodanya melainkan sebaliknya.


"Tetap saja dia menggodamu."

__ADS_1


"Kalian jangan ribut, ini rumah sakit." Dokter Rani cukup di buat pusing dengan pertengkaran sepasang kekasih ini. "Dan kau Olivia! Aku cukup mengenal karaktermu, jadi aku yakin kau yang mencari masalah."


"Kalian berdua membelanya? Padahal aku ini sahabat kalian." Memberenggut.


Agra dan dokter Rani menghela napas. Mereka harus sabar menghadapi Olivia yang sekarang.


"Orang tuamu akan segera ke sini. Aku pergi dulu." Agra berlalu.


Dokter Rani menatap pintu yang sudah di tutup Agra. Dirinya merasa aneh dengan Agra yang terlihat seperti membela gadis bernama Agina itu. Selama ini, Agra tidak pernah membela orang lain kecuali orang itu penting baginya.


Apa itu artinya gadis itu penting baginya?


......................


Agina menelisik ruangan yang akan di tempatinya beberapa hari ke depan. Memastikan tidak ada kesalahan karena ia ingin ruangan yang sama dengan di Pratama Group Utama.


Sedangkan di pojok ruangan, ada seorang laki laki yang berdiri dengan gugup. Ia melirik nona-nya yang berkeliling ruangan. Tidak boleh ada kesalahan, semua ruangan kerja yang di tempati Agina harus sama persis. Bahkan debu yang hinggap pun tidak di izinkan ada jika tidak sama dengan ruangan di Perusahaan Pratama Group Utama.


Agina mencolek meja, memastikan apakah ada sesuatu.


Agina menghampirinya. "Kerja bagus Sean!" pujinya pada sekretaris yang bertugas membantunya dalam urusan pekerjaan. Berbeda dengan Stiffen yang membantunya dalam masalah tentang Agra.


Lelaki yang bernama Sean itu menghela napas lega. Meskipun tidak mengatakan 'sama persis' tapi kata 'kerja bagus' artinya hampir mendekati.


"Saya senang anda menyukainya nona." Tangan kanannya ia tempatkan di dada. Sedikit membungkuk sebagai penghormatan.


"Apa semua barang di sana sudah kau ambil?"


"Sudah nona. Nanti akan ada orang yang menyusunnya di meja." jawab sembari menyerahkan sebuah dokumen.


Agina mengambilnya dan membacanya. Dengan sesekali menganguk tanda sedang berpikir. "Proporsal menarik. Aku yakin, Arya Group akan menerima kerja sama kita." Menyerahkan kembali.


Sekretaris Sean menahan senyumnya. Perkataan nonanya seolah olah dia yang mengajak kerja sama. Padahal Arya Group lah yang melakukannya. Tapi Sekretaris Sean tau itu sebagai pengingat bahwa ada kalanya kita membutuhkan bantuan orang lain.

__ADS_1


Memeluk berkasnya dengan satu tangan. "Apa ada lagi yang anda butuhkan?"


Agina mengusap wajahnya. "Bawakan aku bakpao isi coklat. Aku butuh penenang pikiran."


Kalau soal ini, Sean tidak bisa menahan senyumnya. "Makan saja pipi nona, itu sangat mirip bakpao." ceplosnya tanpa sadar. Tiba tiba bulunya berdiri merasakan aura kegelapan. Sean panik. "Baik, baik nona! Akan saya bawakan. Kalau begitu saya permisi!" Keluar ruangan dengan terburu buru.


Agina merenggut. "Emang mirip bakpao ya?" Menarik pipinya lembut. "Sudahlah, yang penting aku nyaman dengan pipi ini."


Agina menghampiri meja. Mendudukkan dirinya di kursi. Agina membentangkan tangannya memutar. Mencoba merilexkan tubuhnya.


"Lelah sekali beberapa hari ini."


Agina membuka laptopnya. Melihat apakah semua data di laptop sebelumnya sudah di salin. Ya, Agina membeli laptop baru. Ia tidak mau laptop yang sudah lecet walau hanya goresan kecil.


"Memang Sean tidak akan pernah mengecewakanku." Agina menutup laptopnya.


Kakinya ia tumpu. Sebelah tangannya memegang dagunya sendiri. Tanda ia sedang memikirkan sesuatu.


"Kak Olivia akan menginap di rumah sakit selama beberapa hari. Itu artinya dia tidak akan bisa pergi ke Club beberapa hari kedepan."


"Tapi setelah keluar dari rumah sakit, dia akan langsung pergi ke Club. Aku yakin itu, karena dia tidak akan tahan jika tidak melakukannya."


"Cara yang tepat untuk membuktikan bahwa dia telah berkhianat adalah dengan mengiring Agra untuk melihatnya sendiri. Tapi bagaimana caranya?" Agina membenturkan kepalanya ke meja. "Mengirim vidio itu juga bukan pilihan yang tepat. Ini jaman modern, tentu saja kak Olivia akan membantahnya dan mengatakan itu cuma editan."


Sebelumnya Agina memang berencana hanya merekam dan langsung mengirimkannya pada Agra, agar Agra langsung melakukan penyelidikan. Tapi itu rencana sebelum mereka bertemu. Kondisinya berbeda sekarang. Mereka sudah bertemu dan ia juga tau semakin hari Agra semakin nyaman bersamanya. Ia bukan gadis bodoh yang tidak menyadari perubahan sifat Agra yang tiba - tiba menjadi sosok hangat. Tapi itu tidak boleh terjadi! Setelah semua urusan keselamatan Agra selesai, dirinya akan pergi sejauh - jauhnya dari Agra.


Dering ponsel menghentikan pemikirannya. Agina melihat kontak bernama 'tuan Agra' dengan pandangan malas.


"Aku lupa memblokir nomornya." Agina menghela napasnya. Ia bukan orang yang lupa dengan perkataannya. Tapi entah bagaimana ia bisa lupa dengan ini. Seakan takdir menyuruhnya untuk terus menyimpan nama itu di dalam hidupnya.


......................


...SELAMAT MENUNAIKAN IBADAH PUASA SEMUA BAGU YANG MENJALANKANNYA....

__ADS_1


...SAYA MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN BILA ADA KESALAHAN....


...MARHABAN YA RAMADHAN....


__ADS_2