
Ezwar memarkirkan motornya. Ingin memasuki perusahaan namun langkahnya terhenti saat melihat Agina menuju parkiran. Dengan gelagapan, Ezwar mencari tempat persembunyian yaitu di balik mobil.
Agina melihat jam di tangannya. Ini sudah waktunya makan siang. Waktu yang pas untuk mengajak seseorang makan siang bersama sambil ngobrol.
Saat ingin menaiki motornya, Agina melihat sesuatu yang tidak asing. Senyum miring terbit di wajahnya. Menaiki motornya dan melajukannya.
Ezwar keluar dari persembunyiannya. Segera ia menuju motornya dan membawanya mengikuti Agina.
Di tengah perjalanan, Agina melirik kaca spionnya dengan seringaian di bibirnya.
Butuh beberapa menit untuk sampai ke tempat tujuan Agina. Dan selama itu pula Ezwar terus mengikutinya.
Agina berjalan pelan memasuki tempat dia berlatih ilmu beladiri dulu. Ezwar mengikutinya dengan mengendap ngendap.
Bukankah ini tempat milik keluarga Anggara. Kenapa Agina ke sini?. Ezwar menyembunyikan dirinya di pot bunga.
"Kau datang Agina!" Seorang gadis mendekati Agina dan langsung menghambur memeluknya.
Agina membalas pelukan. "Apa kabar kak Lidya?"
"Aku baik. Bagaimana denganmu?"
Agina memegang bahu kak Lidya dan mendorongnya. "Aku tidak pernah tidak baik - baik saja."
"Dasar!" Menepuk bahu Agina pelan.
Ezwar memperhatikan interaksi keduanya.
"Agina!" teriak dua laki - laki yang tiba tiba datang dan ingin menerjang Agina.
Lidya dengan sigap menghadang kedua adik laki - lakinya. "Kalian bisa membuat Agina jatuh."
"Kami hanya ingin memeluknya." sungut Fathan. Nathan mengangguk menyetujui ucapan kembarannya.
"Tapi jangan melompat seperti itu juga." Wajah Lidya berubah garang.
"Kalian ini," Agina maju. Kakinya berjinjit, kepalanya ia telusupkan antara dua laki - laki itu. Kedua lengannya mengapit leher keduanya atau lebih tepatnya mencekiknya.
Tercekat. "Kau ingin membunuh kami?" suara keduanya tertahan. Agina melonggarkan apitannya dengan tawa kecil. Begitulah Agina, dia akan berusaha untuk tidak dingin terhadap temannya.
"FNT-ku sudah besar." ujarnya. FNT adalah sebutan untuk Fathan dan Nathan dari kecil sedangkan untuk T-nya karena mereka sama - sama memiliki hurufnya di tengah.
Mereka membalas pelukan. "Jangan berlagak lebih tua, umur kita sama." cecar Nathan. Melerai pelukan mereka.
"Bagaimana dengan tempat ini?" tanya Agina. Matanya berkeliling melihat ruangan tempat dirinya berlatih dulu.
"Semakin berkembang. Banyak orang berdatangan ingin belajar di sini." jawab Lidya.
"Senang mendengarnya."
"Bagaimana denganmu? Apa misinya sudah selesai?" Fathan.
"Tidak ada beritakan tentang Agra yang menikah?" Mereka bertiga mengangguk.
Apa hubungannya dengan tuan Agra yang menikah, Batin Ezwar. Ruangan yang sunyi tentu dengan mudah Ezwar mendengarnya.
"Oh ya, aku mau ke toilet dulu. Kalian berbincanglah."
Agina dan FTN melanjutkan pembicaraan mereka.
__ADS_1
Lidya menuju toilet namun dia melihat sesuatu di balik pot bunga.
Apa itu orang, Lidya mengambil sapu di dekatnya. Mengendap - ngendap mendekati pot bunga. Sapu ia angkat dan,
"Aduh! Aduh! Aduh!..." pekik Ezwar merasakan tubuhnya di pukul.
"Nyalimu besar juga masuk kesini." Masih memukul dengan sapu.
Mendengar keributan, ketiga orang yang sedang berbincang itu terdiam.
"Apa yang terjadi?" tanya Nathan.
"Ayo kita periksa." suara Agina bergetar akibat menahan tawanya.
Akhirnya mereka munuju asal suara dan menemukan pemandangan yang 'wow' menurut mereka.
Ezwar berlari untuk menghindari pukulan. Lidya masih dengan sapu di tangannya mengejar laki laki itu. Dan terjadilah aksi kejar - kejaran.
"Pergi kau dari sini pencuri!" teriak Lidya. Melompat ke sofa saat Ezwar melompat ke sana.
Ezwar melompat turun dan berlari kembali karena gadis itu masih mengejarnya. "Hentikan! Aku ini bukan pencuri!"
Aksi lari - larian mereka terhenti saat mendengar gelak tawa. Ezwar dan Lidya menatap mereka dengan bingung.
"Kalian ini .." Agina menggelengkan kepalanya.
Ezwar yang melihat Agina langsung berlari dan bersembunyi di balik punggung Agina.
"Sini kau!" hardik Lidya. Dengan wajah sangarnya ia mendekati Agina.
"Tolong aku Agina, lindungi aku dari singa betina itu." pinta Ezwar sambil memegang baju Agina. Matanya memelas.
"Apa! Kau bilang aku singa betina?! Ku bunuh kau!" Mata Lidya berapi - api. Ezwar semakin bersembunyi.
Lidya menurunkan sapu tapi tidak melepasnya. Sedangkan FTN menutup mulut mereka agar tawa mereka berhenti.
Ezwar bernapas lega, setidaknya ada Agina yang melindunginya.
Mereka memutuskan untuk duduk di sofa. Hanya Lidya yang duduk di sofa single sedangkan yang lainnya duduk berdua. Ezwar sengaja duduk di samping Agina, takut singa betina mengamuk lagi.
"Ezwar Hardian, sekretarisnya Agra." jelas Agina singkat.
Ketiga saudara itu menghela napas. Mereka sudah terbiasa dengan bahasa Agina yang hanya bisa di mengerti bila mengenal baik dirinya.
"Ngapain kau ke sini?" tanya Lidya.
Ezwar terdiam. Tidak mungkin ia jujur mengatakan dirinya mengikuti Agina.
"Dia mengikutiku." Datar.
"Kau mengetahuinya?" Ezwar terkejut.
"Aku mengenal motormu."
Sekarang Ezwar tau bahwa Agina telah mengetahui dirinya mengikutinya saat di parkir perusahaan ketiga.
"Kenapa mengikuti Agina?" tanya Fathan penuh selidik. FTN menyilangkan tangannya.
"Ada yang ingin ku bicarakan dengan Agina."
__ADS_1
"Kenapa kau bersembunyi seperti pencuri?" tanya Lidya.
Ezwar menelan salivanya kasar. Wajah gadis yang telah memukulnya sangat menakutkan.
"Menguping pembicaraan kita." Singkat Agina.
Ketiga bersaudara itu menatap tajam sekretarisnya tuan Agra. Nyali Ezwar menciut.
"Maaf, aku tidak bermaksud menguping pembicaraan kalian."
"Kau mendengar semuanya, pasti ada hal yang ingin kau tanyakan?" papar Agina. Ezwar menoleh ke arah gadis di sampingnya. "Tapi tidak di sini."
"Kau ingin menyembunyikan sesuatu dari kami?" Nathan.
"Ini kebenaran yang sudah kalian ketahui."
Hening.
"Kalian tidak ingin memperkenalkan diri?" tanya Agina.
Lidya menghembuskan napasnya. "Lidya Anggara dan kedua adik kembarku, Fathan dan Nathan."
"Ingat, yang paling tampan adalah fathan." seloroh Fathan dengan kepercayaan diri yang tinggi.
"Kau jangan bicara sembarangan, para gadis lebih menyukaiku." sahut Nathan. Dan terjadilah perdebatan antara keduanya.
"Nathan memiliki tanda lahir di dahinya. Kau bisa membedakan mereka dengan itu." ucap Agina.
Ezwar ber ' oh ' ria saja.
"Bisakah kalian berhenti berdebat." suara penuh penekanan dari Lidya. FNT langsung terdiam.
Gadis pemarah, Batin Ezwar.
"Kau datang ke sini, pasti ada sesuatu yang ingin di bicarakan?" Lidya menatap orang yang sudah di anggapnya adik sendiri.
"Aku hanya ingin menyampaikan permintaan Erwin."
Mendengar nama teman mereka, ketiga saudara itu menyimak dengan serius. Ezwar yang tidak mengerti hanya terdiam dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
"Erwin ingin kita berkumpul."
Ketegangan langsung menghilang setelah mendengar kalimat Agina. Senyum bahagia tercetak di wajah mereka.
"Laki - laki anjing itu tidak pernah berubah." cecar Lidya tertawa pelan.
"Kapan? Dimana?" tanya serentak FNT.
Tanpa di sadari dirinya sendiri, Agina tersenyum tulus melihat sinar kebahagiannya pada orang - orang yang berharga baginya.
Ternyata benar, kebahagian itu sederhana. Hanya saja saat mendapatkannya yang sulit.
......................
Lama tidak update, Maaf ya ponselku model limitin edition alias macet/rusak jadi harus di banting dulu baru bagus kembali:)
WARNING: NOVEL INI MEMILIKI BANYAK PEMERAN. JADI HARUS INGAT NAMA PEMARAN - PEMERAN.
...LIKE DAN KOMEN....
__ADS_1
...TERIMA KASIH SUDAH BACA....
SEE YOU (^_^).