
"Lha, Reny, kok bareng Pak Tara?" tanya Papa saat kami tiba di pondok.
" Kebetulan, Pak Handoko, kami berpapasan di sana," ucap Dion tersenyum lebar. Dengan santainya Dion duduk di sisi papa. Mereka memang sangat akrab, karena Dion adalah salah satu orang kepercayaan papa di perusahaan. Kadang aku malah melihat keduanya seperti bapak sama anaknya.
"Bagaimana keadaan Raisa, maaf kami tak sempat membezuknya, di rumah sakit."
"Tidak apa-apa, Pak. Raisa sudah pulih."
"Halo Om, Dion," teriak Devan dan Mitha bersamaan keluar dari pondok. Keduanya berlari berebutan mau menyalami, Dion. Aku tersenyum melihat Dion yang kewalahan akan tingkah kedua anakku.
"Mana Dek Raisa, Om? Kok gak ikut, sih? tanya Devan agak kecewa.
"Raisa belum bisa pergi jauh-jauh, takut demamnya kambuh lagi," ucap Dion sambil mengusap kepala Devan dan Mitha bergantian.
"Semoga Dek Raisa cepat pulih ya ,Om, biar kita bisa piknik bersama-sama," ucap Devan.
"Amin, teimakasih doanya."
"Om, ayo Om ikut kita manggang ikan." Mitha menarik tangan Dion ke arah Bapak dan Mak juga mama. Dimana Tono tengah sibuk memanggang ikan. Seperti kerbau dicocok hidungnya, Dion mengikuti saja kemauan Mitha, diikuti langkah Devan dari belakang.
Sekilas mata Dion sempat bersirobok denganku. Aku hanya tersenyum melihat ulahnya yang memanjakan kedua anakku. Hal yang tak pernah mereka dapatkan dari papa mereka. Hatiku seperti teriris ketika melihat keduanya akrab seolah kepada papanya sendiri. Sementara kehangatan seperti itu tidak pernah mereka dapatkan dari Bram.
"Devan dan Mitha, bagaimana bisa begitu manja pada Pak Tara?" guman papa di sampingku. Aku tak menyadari kalau papa sudah beranjak dari tempat duduknya.
"Iya, Pa. Reny juga heran," ucapku.
"Apa kamu punya hubungan spesial dengan, Tara?" ucap papa menatapku serius.
"Papa kok, bertanya begitu?" sahutku jengah.
"Jujur saja sama Papa. Kalau memang kamu ada hubungan spesial denga Tara, Papa sih setuju saja. Papa sudah lama mengenalnya, sampai sejauh ini belum pernah membuat Papa kecewa. Anak-anakmu juga pasti butuh sosok seorang ayah. Selain itu kamu juga masih muda, kamu berhak bahagia dan meraih mimpi-mimpimu."
"Reny, belum berpikir sejauh itu, Pa," ucapku lirih.
"Kenapa?" tatap Papa lekat menelisik wajahku.
__ADS_1
"Reny, masih butuh waktu. Reny tidak ingin terjatuh lagi."
"Kamu itu harus yakin dengan apa yang harus kamu lakukan untuk masa depanmu. Tidak baik terus terperangkap pada masa lalu. Boleh saja kamu telah kecewa dengan seseorang, tapi bukan berarti tidak ada lagi orang yang akan berbuat baik padamu. Papa serahkan sepenuhnya sama kamu. Pilihan ada di tanganmu. Kamu pasti tau mana yang terbaik untukmu. Satu hal, kamu harus ingat, Papa dan Mama akan mendukung kebahagiaanmu," ucap papa panjang lebar. Seraya memeluk bahuku.Aku hanya bisa manggut-manggut mendengar wejangan papa.
"Ayo, kita susul mereka. Papa tidak ingin mereka curiga sama kita," ucap Papa.
"Memangnya kenapa, dan siapa yang curiga?"
"Siapa lagi kalau bukan Mama, Mama selalu curiga sama Papa," kekeh Papa.
"Curiga soal apa, Pa?" delikku heran.
"Tidak apa-apa. Cuma soal pekerjaan. Kata Mama , Papa telah menjadikanmu robot hidup, aneh 'kan."
"Aduh, Mama ada-ada saja. Padahal, Reny bekerja atas pilihanku sendiri."
"Oh, ya. Papa dapat kabar baik. Arby akan pulang bulan depan. Katanya dia mau berkerja sama Papa, tapi dengan syarat Papa jangan mencampuri kinerjanya. Papa suruh saja mengelola anak perusahaan di Jakarta."
"Kenapa gak di sini saja, Pa?"
"Iya, Pa. Reny juga berharap yang terbaik untuk, Arby." ucapku lalu aku menggandeng Papa menemui mama yang sedari tadi terus memanggil dengan melambaikan tangannya.
Aroma ikan yang dibakar sedari tadi telah menggoda penciumanku. Rasa lapar sudah tak tertahan lagi.
"Ayo, kita makan kak, semua sudah beres." Tono tampak sibuk menyiapkan semuanya.
"Hem, bisa juga kamu jadi koki, Dek," seruku mengacungkan kedua jari jempolku.
"Salah! Pujian itu bukan untukku, tapi untuk ...," Tono mengangkat dagunya menunjuk ke arah Dion, yang tengah sibuk menyisihkan duri ikan di piring Mitha. Ya, ampun, sedari tadi Mitha lengket terus sama Dion. Makan pun milih dekat Dion dari pada aku mamanya.
Aku mendekati mereka, merasa tak enak juga karena Dion malah belum makan karena sibuk dengan Mitha.
"Maaf ya, Mitha ngerecokin kamu terus," bisikku.
"Tidak apa-apa, memang kenapa kalau Mitha, merecoki aku."
__ADS_1
"Aku jadi gak enak hati. Sini aku lanjutin, jangan terlalu memanjakan Mitha. Biasanya juga dia sudah bisa misahkan duri dari daging ikan," protesku. Gantian aku meladeni Dion, mengambilkan nasi sama lauknya untuk makan.
"Ini, makan dulu." Aku pun turut duduk lesehan di dekat Mitha. Dion menerima sepiring nasi beserta lauknya.
"Enak juga masakan kamu, ya. Bisalah jadi chef," pujiku.
"Lha, yang masak ini bukan aku, tuh, yang harusnya kamu puji," ucap Dion menunjuk Tono.
"Alah, gak usah jual mahal lah. Tono tadi sudah kasih bocoran, kalo kamu katanya yang masak. Eh, giliran dipuji malah Tono pula yang masak."
"Heum, Mitha tuh, juga ikutan masak, biarpun cuma kipas-kipas doang." alihnya lagi tak terima dipuji.
"Ma, masakan Om memang lezat 'kan?" timpal Mitha mengacungksn jempolnya. "Tapi sayang, Dek Raisa, gak ikut. coba kalau Dek Raisa di sini, pasti rame, iya 'kan Om."
"Masih mau berkelit lagi, Mitha aja udah ngomong, tuh," selaku.
"Iya, iya. Makasih pujiannya. Tapi jangan keras- keras malu tuh sama, camer," bisiknya menggoda.
Tak ayal lagi, aku melayangkan sebuah cubitan ke pinggangnya. Dion mengaduh kesakitan, tapi aku yakin itu cuma modus saja. Soalnya aku cubitnya cuma dikiiit aja. Sontak semua mata melihat ke arah kami.
"Nak Reny! Kamu apakan tuh, Tara?" delik mama heran.
"Gak ada apa-apa, kok Ma. Cuma keselek duri mungkin," sahutku dengan wajah memerah.
"Ih, Mama bohong, Nek!. Mama tadi mencubit Om Dion," teriak Mitha tiba-tiba. Semua jadi menertawakanku. Duh! Malunya entah mau taruh di mana muka ku ini. Ini anak kok bisa-bisanya mempermalukan mamanya sendiri. Pengen kusumpalkan nasi ke mulut putriku ini, biar dia kenyang, hehe.
"Mamanya sadis ya, Mit. Kayak apa coba," dengan jailnya Dion malah ngajak Mitha mau ngerjain mamanya.
"Hem, kayak apa ya, Om, kayak drakula ya?" kekehnya .
"Drakula cantik, gitu ya?"
"Hahaha...." Cantik-cantik drakula gitu ya, Om."
Keduanya tertawa ngomongin aku. Keduanya tak peduli kalau mataku udah siap mau menerkam mereka. Bisa-bisanya anakku ketularan gokilnya Dion, padahal baru beberapa kali bertemu.
__ADS_1
Gimana kalau sudah jadi papanya, eh malah ngehalu pula aku. Stop, stop stop, teriak batinku agar tak makin jauh larut dalam hayalan.*****