Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 75


__ADS_3

Pov Sarah.


Huh! sepertinya ibu mertuaku sudah mengadu pada Doly. Kalau aku memperlakukannya dengan buruk. Dasar wanita tua tak tau diri. Aku benar- benar kesal, saat tak sengaja mendengar percakapan ibu mertua dengan adik iparku.


Meski aku tak jelas mendengar pembicaraan mereka, tapi aku mengerti kalau ibu tengah mengadu pada Doly.


Baguslah kalau Doly akan membawa ibu ke rumahnya. itu berarti aku terbebas dari merawat ibu. Sesuai dengan rencanaku, kalau Doly akan membawa ibu untuk tinggal bersamanya. Aku tersenyum puas mendengar kesediaan Doly. Buat apa juga merawat ibu mertua yang sakit-sakitan itu. Hanya bikin lelah saja.


Jadi, kalau Doly nanti meminta izin samaku untuk membawa ibu dengannya. Aku iyakan saja cepat- cepat. Aku akan pura-pura sedih biar tidak keliatan bahwa aku senang.Segala rencana telah bersiliweran di otakku, Mereka-reka jawaban apa yang akan aku berikan nanti.


"Kak, sebaiknya ibu aku bawa saja ke rumahku." Akhirnya keluar juga permintaan Doly untuk membawa ibu mertua. Itu berarti, aku akan segera terbebas dari merawat ibu.


Aku pura-pura diam beberapa saat, mengatur ekpresi wajahku sesedih mungkin. Namun di dalam hati aku tengah bersorak sorai.


"Baiklah, kalau itu memang yang terbaik," ucapku singkat. Tak perlu banyak basa-basi pikirku.


"Tapi gini lo, kak. Aku mau menanyakan uang mama, yang di titip sama kakak. Uang penjualan rumah itu," ucap Doly.


"Egh, uang itu sudah habis untuk biaya hidup ibu, selama di sini," protesku kaget. Bisa-bisanya Doly memepertanyakan uang ibu mertua. Emang ibu numpang gratis selama ini, gaklah kan?


Semua itu butuh biaya, belum lagi gaya hidup ibu mertua yang selalu boros.


"Soal uang ibu, mana ada lagi, Doly. Kamu tau'kan seperti apa gaya hidup Ibu. Meskipun sudah jatuh miskin masih saja hidup boros," ucapku menyakinkan. Agar Doly percaya. Tapi dari tatapan matanya, sedikitpun Doly tidak percaya.


Matanya mendelik, menelisik wajahku menerawang kejujuranku. Ditatap seperti itu otomatis aku keder juga. Dari ketiga anak ibu mertua, Dolylah yang paling keras kepala dan agak aku takuti. Dia jarang bicara, kalau dia sudah bicara dan ikut campur, berarti dia menganggap serius masalah itu.

__ADS_1


"Ibu, baru beberapa bulan bersamamu, Kak. Hidup macam apa yang ibu jalani selama di sini, yang aku lihat hidup ibu justru makin menderita bersama kakak. Jadi jujur saja kak, jangan memancing masalah denganku," ancam Doly


serius. Mau tak mau hatiku gentar juga.


Akhirnya aku akui kalau uang ibu masih sisa sedikit lagi. Daripada Doly mencecarku terus, terpaksa aku mengaku saja.


"Baiklah, sebaiknya kakak kembalikan itu pada ibu, untuk pengobatan ibu."


Huh, kesal kali aku mendengar ucapan Doly. Tapi kalau tidak dituruti bisa berabe.


"Baiklah, aku akan transfer nanti," ucapku tak iklas.


..."Baguslah, kakak harus lakukan itu secepatnya. Karena aku juga akan membawa ibu secepatnya berobat ," ucapnya....


...Akhirnya aku transfer juga 20 juta. Karena segitulah sisa uang ibu mertua yang aku simpan. Jelasku pada Doly...


Hal itu jelas terungkap saat dia mengatakan uang Ibu lebih dari itu. Aku memang jelas berbohong, tapi aku bersikukuh memang segitulah sisa uang ibu. Sampai aku mengangkat sumpah segala, suapaya Doly percaya ucapanku.


Akibat dari kebohonganku, aku menerima karmanya, dengan tunai. Saat aku pulang dari rumah sakit, untuk mengambilkan beberapa pakaian Ibu, sebuah sepeda motor menabrakku di depan rumah sakit.


Aku merasakan tubuhku begitu sakit saat terlempar dari sepeda motor dan terkapar di aspal. Rasanya setiap tulangku seakan patah semua. Dan ketika perlahan aku merasa kesadaranku hilang dan semuanya terasa gelap.


***


Cerita yang kudengar berikutnya, setelah aku ditabrak sepeda motor, aku terlempar ke badan jalan, dan sebuah truk melintas dan melindas kedua kakiku hingga tulangnya remuk.

__ADS_1


Dokter mengambil tindakan operasi, untuk menyelamatkan nyawaku. Kedua kakiku di amputasi, aku menjadi cacat seumur hidupku. Sungguh naas nasibku, harus kehilangan kedua belah kakiku.


Masa depanku otomatis hancur, karena kecelakaan itu. Rasanya sulit menerima kenyataan itu. Gerak-gerikku akan terbatas. Bagaimana dengan masa depan kedua anakku nantinya


Apakah ini karma dari perbuatanku selama ini? Dimana aku telah menghancurkan rumah tangga Reny. Aku telah menghasut ibu mertuaku agar membenci Reny. Begitu juga dengan Bram, begitu mudahnya aku mempengaruhinya agar mengabaikan anak istrinya.


Bram tidak akan pernah tau kalalu kedua anakku bukanlah darah dagingnya. Dengan mudah aku menjebaknya, dan dia percaya begitu saja.


Aku yang harusnya menikahi abangnya Rio, malah menjadi istri sirinya. Bertahun-tahun rahasia itu tersimpan. Mertuaku juga malah lebih melindungiku dan ikutan menjaga rahasiaku itu.


Hingga akhirnya semua terbongkar, entah dari mana Reny mendapat informasi itu, sehingga dia berhasil mengancam Bram. Bahkan Reny juga semakin berani menyindirku, membuatku kepanasan.


Akhir dari kisah mereka, Bram dan Reny bercerai. Reny menemukan orang tua kandungnya. Ternyata dia adalah anak dari seorang konglomerat. Istilah sekarang, disebut anak sultan.


Berbanding terbalik dengan kehidupanku, aku telah menerima karma dari perbuatanku. Hal yang paling aku pungkiri, mustahil terjadi. Aku tidak percaya dengan hal-hal seperti itu. Tapi setelah kejadian yang aku alami, aku baru percaya setelah segalanya terlambat.


Bukannya aku sadar dengan akibat dari perbuatanku itu, aku malah semakin bertingkah. Bram yang masuk penjara karena ulahku juga, sama sekali aku tak pernah memberinya support untuk menguatkan hatinya.


Karena sejak aku dimutasikan aku kesulitan membagi waktuku. Belum lagi karena Bram di penjara di kota provinsi. Butuh biaya yang tidak sedikit jika pergi mengunjunginya di rutan. Belum lagi harus membawa kedua anakku.


Aku benar-benar kerepotan. Mau meneleponnya pun, jadwalnya selalu bentrok dengan waktuku. Jadi tidaklah aneh, bila Bram telah menuduhku mengabaikannya.


Sekarang dia juga mungkin telah menyadari kalau akulah penyebab semua kesialannya. Kalau bukan karena gaya hidup borosku, dan aku juga memengaruhi ibu mertua supaya seperti aku juga. Tentu, Bram tidak akan menerima suap itu. Setiap kali Bram bercerita ada orang yang hendak mengajaknya untuk korupsi.


Bukannya melarang aku malah mendukungnya waktu itu, asal jangan ketahuan semua pasti beres. Namun, aku lupa sistim tabur tuai, bahkan tidak percaya juga akan hukum karma.

__ADS_1


Padahal gaji Bram sudah lebih dari cukup untuk memenuhi biaya keluarga kecilnya. Karena adanya aku dia harus pandai berbagi. Yang pada akhirnya keluaraganyalah yang dia abaikan.


Anak istrinya tidak bisa menikmati hidup berkecukupan, karena aku dan ibu mertua selalu memoroti uang Bram.,*****


__ADS_2