Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 68


__ADS_3

Dengan langkah tergesa, aku memasuki ruang rapat. semua komisaris telah hadir, papa juga. Kalau saja jalanan tidak macet. Aku tentu tidak akan terjebak di sana. Sampai satu jam.


"Maafkan, saya tadi terjebak macet," ucapku penuh rasa sesal. Papa hanya menatapku sekilas. Dion yang duduk di sebelah papa, menganguk sekilas.


"Oke, karena semua sudah berada di sini, mari kita memulai rapat. Reny, bagaimana dengan laporan bulanan proyek yang kamu tangani?" ucap papa. Aku segera berdiri dari kursiku dan menyerahkan map berisi beberapa berkas.


"Ini, Pa," ucapku lalu menjelaskan beberapa hal yang menjadi kendala di lapangan. Papa manggut-manggut setelah memeriksa berkas yang aku serahkan. " Pak Tara akan mendampingi mu menemui mereka." Lalu papa memberi instruksi pada Dion masalah yang aku hadapi sehubungan masalah hukum.


"Baik, Pak. Selesai rapat, kami akan meninjau lokasi," ucap Dion pasti. Papa mengangguk.


Setelah rapat pertemuan berlangsung lebih dua jam, aku akhirnya bisa bernapas lega. Banyaknya interupsi tadi saat aku melakukan presentasi cukup menguras isi otakku juga. Aku cukup lelah, dan ingin rebahan sebentar saja untuk melemaskan otot-ototku yang terasa kaku.


Ketika peserta rapat telah bubar, aku buru-buru menuju ruanganku. Baru lagi aku duduk menarik napas lega di sofa, tiba-tiba Dion sudah menyusulku masuk. Mana tidak ketok pintu lagi.


"Reny, tolong bantu, aku," serunya tiba-tiba panik.


"Ada apa?" aku terlonjak kaget lantas berdiri.


"Raisa, Ren. Dia masuk rumah sakit. Barusan dapat telepon dari guru sekolahnya.


"Kok bisa masuk rumah sakit? Apa dia sakit sebelumnya?" tanyaku dan berusaha menenangkan Dion.


"Aku tidak tau. Raisa jarang sakit, kalaupun sakit cuma demam biasa. Gak sampai dibawa ke rumah sakit." ungkapnya cemas.


"Ok, kita ke rumah sakit saja, semoga tidak terjadi apa- apa." Aku langsung bergegas. Kantukku sudah raib entah ke mana.


Belum pernah aku melihat wajah Dion setegang dan sepanik ini. Meski banyak masalah atau tantangan dalam pekerjaannya, mampu dia atasi, tapi baru mendengar anaknya masuk rumah sakit dia sudah sepanik ini.


Kami langsung menuju kamar tempat Raisa di rawat. Di sana masih ada guru sekolahnya mendampingi. Karena Dion sulit di hubungi, saat rapat tadi.


"Bagaimana keadaan anak saya, Bu?" tanya Dion pada guru Raisa. Raisa ternyata sedang tidur saat kami sampai.

__ADS_1


"Demamnya sudah turun, Pak. Tadi, dia sempat kejang," jelas Bu Nita, guru kelas Raisa.


"Terima kasih, Bu, telah membawa Raisa ke rumah sakit. Maaf, pesan dan telepon ibu, tidak saya tanggapi. Ponsel saya di silent karena pas rapat pertemuan di kantor."


"Tidak apa-apa, Pak. Sudah menjadi kewajiban kami. Sekarang, karena Bapak dan ibu sudah di sini, saya mohon pamit pulang."


"Eh, iya Bu. Sekali lagi terima kasih, Bu. Ini untuk ongkos ibu pulang," ucap Dion memberikan uang ke tangan Bu Nita. Bu Nita menolak, tapi karena Dion bersikeras akhirnya, Bu Nita menerima.


Dion mengantar sampai pintu, aku langsung duduk di dekat Raisa.


Kuraba keningnya panas tubuhnya sudah agak normal. Akibat sentuhanku, Raisa membuka matanya. Aku tersenyum dan lega saat melihat Raisa terjaga.


"Mama, mama jangan pergi lagi, ya? Jangan tinggalkan Raisa lagi ya?"


Aku terkejut mendengar ucapan Raisa. Apa dia lagi mengigau ya? Bukannya sudah melek, tapi kok matanya belum fokus, meliha. Mungkin masih mengumpulkan kekuatannya karena baru terjaga. Tapi saat kusentuh lengannya, ternyata Raisa gak merespon. Sepertinya dia masih tidur, berarti tadi dia mengigau.


Entah apa mimpinya Raisa, sampai mengigau seperti itu.


" Dia bilang, supaya mamanya tidak pergi," ucapku.


Dion mengernyitkan keningnya, bingung.


"Raisa mengigau, mungkin karena demamnya itu," jelasku.


"Tapi, dia tidak kenal mamanya. Bagaimana dia bisa mimpikan mamanya."


"Percaya atau tidak, semasih dia kecil ibunya pasti kerap hadir menjaganya. Setelah besar, dia 'kan kenal dari foto. Nah itu yang akan terbawa ke alam bawah sadarnya." ungkapku.


Dion mengelus kepala Raisa, lembut. Tatapan matanya begitu penuh kasih. Dion begitu nampak rapuh.


"Satu hal yang belum bisa aku penuhi permintaanya, dia selalu ingin aku memberinya seorang ibu. Tapi, kematian mamanya sendiri masih menyisakan trauma yang dalam di benakku." Dion berucap terbata, kata demi kata yang ia tuturkan membuatku merasa simpati.

__ADS_1


"Sebenarnya, apa yang terjadi dengan mamanya , Raisa." Aku mencoba mengorek cerita dari Dion, kenapa dia begitu tertutup setelah kematian istrinya.


"Aku merasa gagal melindunginya. Seharusnya aku tidak terlalu percaya pada mereka. Meskipun mereka adalah saudara dan orang tuanya. Tapi apa boleh buat, semuanya sudah terjadi." Akhirnya, Dion menuturkan kisah kematian istrinya.


"Bang, nanti malam kamu jangan lama pulang, ya?" ucap Cindy.


"Iya, setelah urusanku selesai, abang akan langsung terbang ke rumah," guyon Dion seraya mengelus perut istrinya yang makin membuncit. Hpl istrinya memang dalam bulan ini. Jadi dia harus menjadi suami siaga.


"Aku serius, Bang. Jangan bercanda, ah." cemberut Cindy.


"Iya, sayang. Aku akan pulang sore. Tidak ada lembur sampai kau melahirkan. Kenapa sih, kamu takut abang tinggal, kan ada ibu juga Mely?"


"Tapi aku ingin, Abang, yang mendampingiku," ucap Cindy manja. Dion maklum juga. Hubungan istrinya dengan ibu tirinya kurang baik. Dion saja heran kenapa tiba-tiba mertua dan adik iparnya datang ke rumah, dengan alasan karena istrinya sudah dekat mau melahirkan.


Kasihan tidak ada yang mengurus. Meski Cindy protes dan dengan alasan tidak ingin merepotkan ibu dan saudaranya. Malah Dion sendiri, yang menawarkan untuk tinggal sementara di rumah mereka.


Akhirnya Cindy tak bisa menolak, mungkin memang ibu tiri dan adik tirinya tulus mau mendampinginya, serta merawatnya saat melahirkan nanti. Jadi tanpa curiga atau was-was Cindy pun menerima mereka.


Namun apa yang terjadi, malam itu, di saat Cindy berpesan agar Dion cepat pulang, turun hujan lebat di sepanjang sore hingga malam.


Sehingga Dion terlambat pulang kerumah, karena banjir di beberpa ruas jalan yang dilaluinya. Sehingga Dion terpaksa menunda kepulangannya .


Sementara waktu itu, Cindy merasakan perutnya mulas. Sepertinya dia hendak melahirkan, tapi karena hujan dia tidak bisa ke rumah bidan di komplek perumahan mereka. Berkali- kali Cindy menghubungi Dion tapi tidak berhasil, karena gangguan signal.


Ibu dan saudarinya Mely sejak sore sudah keluar rumah dan belum pulang. Mungkin juga terhalang hujan. Mereka juga tidak bisa dihubungi.


Karena tak kuat menahan sakitnya saat mau melahirkan, Cindy terjatuh di anak tangga teras, yang licin. Saat hujan mereda, Dion melihat banyak panggilan di ponselnya, dari istrirnya.


Ketika dia menghubungi mertua dan adik iparnya tidak ada jawaban dan tidak aktif. Sesampai di rumah, Dion melihat istrinya sudah terkapar pingsan di teras. Dion juga sempat terpeleset, karena lantai yang licin. Sepertinya di sengaja, ada banyak minyak tumpah di rumahnya.


Mertua dan adik ipar menghilang entah kemana dengan membawa beberapa perhiasan dan barang berharga lainnya. ****

__ADS_1


__ADS_2