
Derrt..dertt...Handphone Lisa bergetar. Ada sebuah pesan masuk ke handphone Lisa. Dibukanya aplikasi berwarna hijau tersebut. Dia baca kata demi kata, setelah sekian detik tiba-tiba tangannya bergetar dan air matanya jatuh begitu saja.
Lisa semakin menangis saat kata demi kata dia baca lagi. Apakah keputusannya salah? bukankah kemarin dia baik baik saja? tapi, kenapa sekarang hatinya goyah lagi. Suasana hatinya semakin tak menentu saat dia membaca pesan dari Bagas.
Lisa aku mencintai mu, maafkan aku? aku tidak bermaksud berbicara seperti itu tadi malam. Ku rasa ini karena cintaku kepadamu yang begitu besar sehingga aku melakukan hal-hal bodoh seperti tadi malam. Sakti benar, aku sudah kehilangan timing bersamamu.
Lisa tidak membalas pesan dari Bagas. Dia tidak ingin larut lebih dalam ke dalam perasaan cintanya yang tidak akan mungkin bersama.
***
Sakti terlihat bingung, karena seharian dia tidak bisa menghubungi Lisa. Sekarang dia sudah di Surabaya bersama Rahman untuk membahas kerja sama dengan salah satu perusahaan di sana.
"Kenapa kau terlihat gelisah sekali nak?". Rahman sedikit khawatir karena putranya dari tadi seperti tidak fokus bekerja.
"Iya Pa maaf, Aku dari tadi menghubungi Lisa tapi tidak bisa".
"Mungkin dia sibuk, sudah lah nanti kau hubungi lagi kita ke hotel dulu sekarang. Papa lelah sekali rasanya".
Akhirnya Sakti menuruti permintaan Papa nya. Ini baru sehari Lisa tidak bisa di hubungi dia begitu uring uringan apalagi kalau sampai berhari hari.
__ADS_1
Sampai hari berikutnya pun, Sakti masih tidak bisa menghubungi Lisa. Dia semakin tidak fokus bekerja. Pikirannya tiba-tiba ter tuju pada Bagas. Laki-laki yang terang terangan ingin mengajak Lisa pergi.
"Kau kenapa lagi Nak? Lisa belum bisa di hubungi?". Tanya Rahman yang melihat Sakti yang sedang kebingungan.
"Iya Pa".
"Papa akan telepon Om Yoga".
"Kenapa aku tidak kepikiran telepon Om Yoga ya Pa?".
Rahman tidak menanggapi ucapan anaknya tersebut. Dia cukup mengerti apa yang di rasakan Sakti. Memang kadang orang bisa sedikit bodoh karena cinta.
"Handphone Lisa rusak, kemarin saat mau berangkat ke restoran karena dia buru-buru handphone nya jatuh. Dia belum sempat beli handphone baru. Mungkin sore ini dia akan menghubungi mu kalau sudah beli handphone baru".
"Ayo kita segera turun! nanti kasian Pak Lukman menunggu lama di bawah". Pras adalah kepala cabang perusahaan Rahman yang ada di Surabaya.
"Halo Pak Rahman? Pak Sakti?". Sapa Lukman sopan sambil menyalami atasannya tersebut.
"Halo Pak Lukman gimana kabarnya?".
__ADS_1
"Baik Pak Rahman".
"Kita langsung ke lokasi Pak?". Ajak Sakti kepada Pak Lukman.
"Iya baik, mari kita berangkat".
Sakti berjalan di depan, sedangkan Rahman dan Lukman di belakang Sakti.
Bruk..
"Ah..sakit". Seorang perempuan mengaduh saat bertabrakan dengan Sakti.
"Maaf.. maaf tadi saya buru- buru". Ucap perempuan tersebut. Dia berjongkok untuk mengambil barang miliknya yang terjatuh.
"Iya mbak lain kali hati-hati". Sakti ikut berjongkok dan mengambil barang tersebut.
"Terimakasih ya?". Ucap perempuan itu sambil b mendongakkan wajahnya ke arah Sakti.
"Mas Sakti?".
__ADS_1
"Tere?".
Keduanya bicara bersamaan. Sedetik kemudian ekspresi wajah Sakti berubah dingin. Tere adalah mantan pacar Sakti. Bisa di katakan cinta pertama. Karena Sakti hanya pernah menjalin hubungan dengan Tere waktu kuliah.