
"Jadi jangan kau abaikan pasanganmu". Ucap Yoga sambil menatap serius kepada putrinya.
Lisa hanya menganggukkan kepala. Dia masih fokus dengan makanannya.
"Kau paham maksud Ayah Lisa?". Yoga bertanya kembali karena tidak ada respon dari anaknya tersebut.
"Iya Yah, Lisa mengerti".
"Setelah makan malam kau hubungi Sakti, tadi Om Rahman bilang Sakti begitu mengkhawatirkan dirimu karena dari kemarin tidak bisa di hubungi".
"Baik Yah".
Setelah selesai makan malam. Yoga langsung ke ruang keluarga untuk menonton tv. Sementara Lisa membantu Ibunya membersihkan meja makan dan mencuci piring kotor bekas makan mereka.
"Lisa.. apa kau menyesal akan menikah dengan Sakti?".
Deg
Lisa menghentikan gerakan tangannya yang sedang mencuci piring kotor. Sedetik kemudian dia memandang wajah sang Ibu yang terlihat sedih.
__ADS_1
"Ibu..Ucap Lisa dengan suara yang berat".
"Kau berhak bahagia Nak, jika kau ingin membatalkan pernikahan mu Ibu tidak keberatan".Ibu Lisa menunduk dia tak kuasa menahan air mata.
Lisa langsung memeluk Ibunya yang menangis. Perempuan beda usia tersebut menangis bersama.
"Kenapa kau menangis tadi sore? kau tidak ingin menikah dengan Sakti kan?". Kini Ibu dan anak itu duduk di kursi makan sambil berhadapan.
"Tidak Ibu". Jawab Lisa sambil menundukkan kepalanya.
"Sebenarnya tadi sore ibu mendengar kau menangis di kamar. Bicaralah kepada Ibu. Kau kenapa nak?".
"Bagas?". Ibu Rima membuang napas kasar.
"Ibu tahu sebenarnya Bagas menyukaimu sejak lama. Tapi apakah sekarang itu penting Lisa? bukankah dirimu sudah memilih Sakti?. Ibu tidak pernah melarang dirimu berhubungan dengan siapapun termasuk Bagas bukan?".
"Selang beberapa hari setelah aku menerima perjodohan, Bagas menyatakan perasaan nya kepadaku Bu, dia mengajakku menikah.Dan tentu saja aku menolaknya. Tapi kemarin aku benar-benar tahu alasan dia bekerja keras hanya untuk memantaskan dirinya di depan keluarga kita bu.Buliran bening kembali keluar dari kedua sudut mata Lisa.
Rima menggenggam tangan anaknya."Apa kau ingin membatalkan pernikahan mu?".
__ADS_1
Lisa hanya menggelengkan kepala."Aku sudah putuskan untuk menikah dengan Mas Sakti dan aku akan melupakan Bagas Ibu".
"Apa kau yakin?".
"Iya Bu aku yakin sekali dengan keputusan ku ini".
Ibu Rima tersenyum mendengar jawaban putri semata wayang nya. "Ternyata kau sudah dewasa ya?.Kau tahu Nak, perlakuan lebih penting dari ungkapan, tapi bukankah lebih baik kalau keduanya dilakukan bersamaan?. Kalau Bagas mencintaimu dari lama kenapa dia tidak mengungkapkan perasaan nya? takut kau tolak? terus tadi kau bilang, memantaskan diri di depan keluarga kita? apa Ayah dan Ibu selalu menilai orang dari status sosial?. Dia itu menyerah sebelum perang".
"Bukannya dia menyerah, tapi dia mempersiapkan diri". Lisa masih tetap saja membela Bagas. Bukan karena perasaan cinta nya kepada Bagas. Tapi lebih ke rasa peduli terhadap teman.
"Bukankah dia sudah punya cinta, apa lagi yang perlu di persiapkan".
Lisa hanya diam,rasanya percuma juga berdebat dengan Ibunya. Karena pasti dia yang akan kalah.
"Menurut Ibu, rasa cinta yang tulus itu cukup untuk menjadi kekuatannya. Cukup untuk meyakinkan Ayah dan Ibu. Cukup untuk menghilangkan trauma mu. Cukup untuk menjadi semangat dia saat mencari rejeki. Rasa kurang percaya dirinya menjadikan Bagas kehilangan dirimu Lisa.Karena dirinya lah yang menyianyiakan timing nya saat bersama denganmu".
Lisa membenarkan perkataan Ibunya. Bagas hanya perhatian kepadanya. Tapi tidak pernah mengungkapkan perasaan nya. Sedangkan Sakti dia selalu mengungkapkan perasaannya.
"His.. kenapa aku memikirkan Mas Sakti". Ucap Lisa dalam hati.
__ADS_1