
"Reny, aku sudah lama menantikan saat-saat seperti ini, untuk mengungkapkan perasaanku padamu. Aku tidak melihat dari keadaan fisikmu sekarang. Bagiku kau adalah tetap seperti permata, yang akan berkilau walau dimakan waktu. Selama ini aku telah merasa tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Tapi saat bertemu kamu kembali semua rasa yang hilang itu seolah kembali," Dion menangkup jemariku dan membawanya ke dadanya yang bidang.
"Kuharap kamu bisa merasakan gejolak di dadaku, bahwa aku tidak sedang bercanda atau hendak mempermainkan hatimu." Tatapnya begitu intens, membuat jantungku berdetak tak tentu arah. Aih, seperti gadis perawan saja diriku ini saat pertama kali mengenal cinta. Bagaimana aku bisa begitu melambung mendengar rayuannya? Sesuara batinku seolah menyentil agar tak terlalu jauh terbang.
"Bisa beri aku waktu untuk kita saling mengenal? Aku sudah pernah terluka, sepertinya apa yang kau harapkan padaku serasa mimpi dan aku tidak ingin saat terbangun, semuanya ini hanya hayalanku semata." ungkapku terus terang.
"Baiklah, bersama kita saling membuka hati. Memang butuh waktu untuk saling menerima, aku harap kamu percaya padaku." Aku hanya mengangguk membalas ucapan Dion, sejujurnya aku percaya dan berharap jika kami bisa saling menerima kelebihan serta kekurangan diri masing-masing.
Aku berharap Dion bisa menerima kehadiran Devan dan Mitha, walaupun selama ini aku telah melihat betapa Dion mampu berinteraksi dengan kedua anakku. Dengan segenap kasih sayangku aku juga akan mengasihi Raisa seperti anakku sendiri.
Namun, aku harus ungkapkan semua ini kepada Devan dan Mitha. Bagiku, kebahagian merekalah yang lebih utama. Walau mereka.masih terlalu kecil untuk mengerti urusan orang dewasa, tapi tidak ada salahnya meminta persetujuan dan pendapat mereka.
Akan lebih baik bila ada kejujuran.sebelum menjalin sebuah hubungan baru. Kesediaan kedua anakku lebih aku prioritaskan.
Malam ini saat aku mendampingi Devan dan Mitha belajar. Devan bertanya soal Dion.
"Mama, Om Dion gak pernah lagi datang kemari," tanyanya mengagetkanku.
"Emang kenapa, rindu ya sama Om Dion?" ucapku. Devan mengangguk.
"Mitha juga rindu om Dion, juga Dek Raisa, Ma," celetuk Mitha yang tengah asyik mewarnai. " Kapan kita jumpa mereka lagi, Ma?"
"Om Dion lagi sibuk kerja, makanya sekarang jarang ketemu. Emang kenapa, Nak? Rindu juga ya sama Om Dion," ucapku.
"Iya, Ma, aku sudah rindu mau, bertemu Om Dion," ucap Mitha antusias.
"Aku juga, Ma, sudah rindu Dek Raisa . Udah lama gak ketemu, dia." Timpal Revan, menatapku serius.
Dalam hati batin ini teriris, bisa-bisanya mereka lebih merindukan Dion dari papanya sendiri. Setelah aku bercerai dari Bram, tak pernah sekalipun mereka menanyakan soal papa mereka. Mengapa papanya tak pernah nampak lagi. Bahkan kematian nenek mereka tak menyisakan duka atau rasa kehilangan di hati mereka.
__ADS_1
Sementara, baru beberapa bulan mengenal Dion, mereka sudah merindukan kehadirannya. Entah, kharisma Dion telah menjerat hati mereka atau dalam diro Dion mereka menemukan sosok seorang ayah, yang mereka dambakan selama ini.
"Mama, benar ya mama pacaran sama Om Dion," tanya Mitha polos. Tiba-tiba Devan membekap mulut Mitha, hingga Mitha tergagap karena ulah Devan.
"Humpph, aaahhh," Mitha menarik napas lega setelah Devan melepas tangannya.
"Sssttt," Devan.meletakkan jari telunjuknya di atas bibirnya sebagai kode unyuk tutup.mulut.
"Siapa yang bilang?" tanyaku hati-hati. Mitha memainkan matanya ke arah abangnya, Devan. Devan menunduk karena adiknya telah keceplosan membuka rahasia mereka.
"Bang Devan yang bilang. Mitha mau kok, kalau Om Dion jadi papa kita, iya 'kan, Bang?" ucap Mitha mohon dukungan dari abangnya. Devan mengangguk pelan, tetap dengan posisi menunduk. Menghindari tatapanku.
"Benar, Devan yang omong gitu ke adek Mitha," ucapku lembut.
"Heeh, kayak yang di tivi itu, Ma," ucap Devan cengengesan," seraya menggaruk kepalanya yang aku yakin tidak sedang gatal. Astaga! Kaget saja aku mendengar jawaban anak lanangku ini.
Lebih baik menjelaskan saja hubunganku dengan Dion kepada mereka. Agar tidak ada salah paham. Sekalian melihat reaksi mereka.
"Mama, juga suka ya?" cetus Devan blak-blakan. Sinar matanya menatapku penuh harap akan jawaban yang akan keluar dari mulutku.
"Memangnya boleh, mama menyukai Om Dion, jawabku diplomatis. Kedua bola mata Devan bergerak.aneh.
"Is, Mama gak asyik. Kita yang nanya duluan malah mama yang balik tanya," protesnya kecut. seolah kecewa atas jawabanku.
"Maksud Mama, mama minta izin kalian," ucapku. Giliran Devan dan Mitha menatapku penuh misteri.
"Jadi, Mama juga suka sama Om, Dion? Sama seperti kami, gitukah," ucap Devan polos. Aku mengganguk, seraya menahan senyum.
"Yes!" tetiba Devan berteriak seraya mengepalkan telapak tangannya. Mau tak mau kini giliranku yang kebingaungan dengan sikap kedua.bocilku ini.
__ADS_1
"Dek, Raisa juga suka sama, Mama. Makanya kami ngejodohin mama sama Om Dion, hehe."
Eh, apa kata Devan? Ngejodohon mamanya? Astaga, bocilku telah menjadi mak comblang buat mamanya sendiri, tapi kapan yah, kira- kira mereka merencanakan semua ini.
Satahuku aku tak pernah melihat mereka bertingkah aneh atau ada hal mencurigakan dari keseharian mereka. Mungkinkah mereka tengah merencanakan sesuatu? Atau aku yang selama ini terlalu meremehkan bocilku, bahwa mereka tidak akan peduli dengan kehidupan.pribadi mamanya?
Nyatanya mereka paham dan mengerti kalau hubungan mamanya dengan orang yang mereka panggil om Dion adalah teman dekat mamanya. Bocil zaman now sungguh membuat kepala ini geleng-geleng.
Bolehlah aku menarik napas lega, karena bocilku memberi sinyal kalau mamanya dekat lagi dengan orang yang bukan papanya. Mungkinkah, Papa dan mama ada dibalik sikap Devan dan Mitha. Soalnya papa dan mama juga, sepertinya bersikap sama.
Sekalipun belum memberi ijin, tapi tidak juga melarangku. Sebagai wanita dewasa papa dan mama sepertinya menyerahkan sepenuhnya urusan pribadiku, sebagai hak privacy. Mereka hanya menunggu aku yang akan menjelaskan semuanya.
Tiba-tiba mama muncul di kamar, memberitahu ada seseorang mencariku.
"Reny, ayo turun, ada tamu yang mencarimu,"
"Siapa, Ma."
" Nak Dion, tuh sudah menunggu di bawah." bisik mama perlahan. Namun terdengar jelas juga di telinga kedua bocilku.
"Apa, Nek? Om Dion datang, ya?" tanya mereka. Mama mengangguk, mengiyakan.
"Yes! Om Dion datang!" ucap keduanya tanpa dikomando, keduanya melesat seperti anak busur menuju ke bawah. Di tangga mereka saling dorong untuk mendahului.
Mama heran melihat tingkah kedua cucunya.
"Ada apa dengan mereka?" beliak mama bingung. Aku cuma mengendikkan kedua bahuku, pura- pura tak mengerti. Bersama dengan mama sku keluar dari kamar.
Ketika aku akan menuruninanak tangga, kulihat Dion sedang bercengkrama dengan Devan, Mitha dan Raisa. Ada pertanda apa ini, baru saja mereka jadi bahan perbincangan kami. Yang diomongin sudah muncul bertamu di rumah.
__ADS_1
Dion menatapku seraya menyunggingkan sebuah senyuman. Langkahku serasa kaku, seolah tatapannya menghitung anak tangga yang kulalui. Langkahku yang diikuti mama, juga menatapku dengan sejuta tanda tanya. Sepertinya mama curiga kini, ada apa diantara aku dan Dion.*****