Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Aksi sekretaris Ezwar


__ADS_3

Agina kembali ke Apartemen. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Tapi dirinya baru saja pulang. Tentu saja! Karena setelah perdebatan dengan Agra, dirinya harus mengurus permasalahan yang terjadi di pembangunan. Memang melelahkan,tapi ia menyukainya.


Membuka pintu kamarnya. Terlihat kamar bercat biru dengan banyak sekali hiasan dinding,sangat berbeda dengan ruangan di perusahaannya. Agina berjalan ke arah sofa dan meletakkan blazernya di sana. Mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setengah jam, baru ia keluar dan memakai piyama tidurnya. Di hampirinya kasur dan duduk di pinggirannya. Menatap sebuah foto yang ada di atas nakas.


"Kurasa aku benar benar berubah, sampai kau bahkan tidak mengenaliku." Ucapnya seraya mengelus foto itu. Di letakkannya kembali dan membaringkan tubuhnya di kasur. Menatap langit langit kamar dan menarik selimut sampai menutupi leher.


"Hidup tanpa rasa, itu sama saja mati." Kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya sebelum terlelap.


Keesokan harinya adalah hari yang menyebalkan bagi Agina. Sesuai dugaannya, datangnya sekretaris Ezwar keruangannya pasti ada alasan. Secara tidak ada yang mau ke ruangannya,lebih tepatnya tidak berani berhadapan dengan seorang Agina.


"Ayolah Agina, sebentar saja ya." bujuk sekretaris Ezwar dengan menangkupkan telapak tangannya.


"Saya tidak yakin, kalau itu cuma sebentar." Sinis Agina.


"Ayolah, bukankah tuan Agra itu tampan, kau pasti tidak akan mau kembali,jika sudah bertemu dengannya." mengedip matanya genit. Biarlah dia mempromosikan ketampanan tuan Agra.


"Apakah semua orang harus sama seperti itu?" Untuk sesaat sekretaris Ezwar lupa bahwa perempuan di depannya ini berbeda.


Sekretaris Ezwar menghela nafas. "Oke, oke! Tapi setidaknya bantu aku." Menunjukkan wajah memelas yang biasa dia gunakan untuk membujuk tuannya. "Kau tidak kasian padaku. Bagaimana kalau gajiku di potong?"


"Itu urusan anda, bukan urusan saya." Menjawab santai. Agina lebih fokus pada laptopnya. Tidak peduli dengan wajah sekretaris Ezwar yang pucat pasi karena membayangkan gajinya di potong.


"Kalau aku di penggal gimana?"


"Apakah saya terlihat peduli?" Agina menatap sinis sekretaris Ezwar.


"Yasudahlah, percuma kalau kau tidak mau, tidak ada yang bisa memaksamu." Memilih mengalah. Sekretaris Ezwar juga tidak mau mendengar kalimat pamungkasnya Agina.


"Lagi pula tuan Agra yang punya kepentingan dengan saya, seharusnya tuan Agra yang mendatangi saya." Kalimat Agina justru membuat kepala sekretaris Ezwar ingin pecah. Sungguh,dua manusia es ini ingin sekali ia tendang ke kutub utara. Mana mau tuan Agra datang kesini. Secara tuan Agra adalah orang yang selalu di datangi. Pasti akan sangat memalukan bagi tuan Agra mendatangani orang hanya karena orang itu tidak mau menemuinya.


"Kau tau sendiri, tuan Agra itu seperti apa?" Sekertaris Ezwar memegang kepalanya yang terasa pening.


"Dan anda juga tau sendiri, saya selalu menghindari tuan Agra." Jelas Agina menyilangkan tangannya.


"Itu yang jadi pertanyaanku. Kenapa kau selalu menghindari bertemu tuan Agra?" Tanya sekretaris Ezwar penuh harap.

__ADS_1


"Saya tidak di haruskan menjawab pertanyaan anda." Pupus sudah harapan sekretaris Ezwar.


"Di saat semua wanita mendekati tuan Agra, kau malah menghindarinya?" Melirik sinis kepada gadis di depannya.


"Jadi anda ingin mengatakan, bahwa saya bukan seorang wanita?" Suara Agina mulai terdengar menyeramkan. Sekretaris Ezwar menelan salivanya kasar.


"A, aku tidak bermaksud seperti itu Agina."


"Keluar!" Tegas Agina seraya menunjuk pintu keluar.


"Aku akan keluar, setelah kau menyetujui untuk bertemu tuan Agra!" Berusaha setegas mungkin. Namun Agina dapat menangkap suara bergetar di sana.


"Sepertinya anda merindukan rumah sakit ya." Agina membukukan tangannya sampai membunyikan suara tulang. Melihat itu tentu saja sekretaris Ezwar terbirit birit keluar dari ruangan singa.


"Mana mau aku bertemu dengannya. Sedangkan dirinya yang menyuruhku untuk tidak pernah muncul di hadapannya lagi." Ucap Agina menghela nafas. Ia sandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Jarinya mengetuk sampiran kursi.


"Apakah sudah waktunya ya!" Monoloqnya pada diri sendiri.


......................


"Iya tuan!" Ujar sekretaris Ezwar menundukkan wajahnya. Tubuhnya sedikit bergetar.


'Huwaaa! Kenapa aku harus terjebak di antara dua manusia es ini sih!" Batin sekretaris Ezwar menangis histeris.


"Berani dia menentang perintahku!" Teriak tuan Agra marah. "Cih, bawahan tidak tau diri! beraninya dia menentang perintah atasannya."


"Ezwar, aku ingin kau membawanya kesini. Bagaimana pun caranya. Kalau perlu, seret saja dia kemari." Perintah tuan Agra. Tuan Agra sudah sangat tersulut emosi. Dia tidak percaya ada orang yang berani menentang dirinya. Bahkan itu hanyalah seorang perempuan yang bekerja di perusahaannya.


"Itu mustahil tuan!" Sahut sekretaris Ezwar.


"Apa maksudmu?"


"Jika Agina tidak mau, maka tidak ada yang bisa memaksanya. Bahkan anda sekalipun." Ucap sekretaris Ezwar memperingatkan tuannya. Ia cukup ingat apa yang terjadi pada dirinya,saat mencoba memaksakan kehendaknya kepada gadis itu.


"Memangnya siapa dirinya, dia hanyalah karyawan biasa yang bekerja di perusahaanku. Dia masih jauh di bawahku." Kemarahan tuan Agra semakin bertambah.

__ADS_1


"Tuan Agra, jika anda ingin bertemu dengan Agina, lebih baik anda yang mendatanginya." Saran sekretaris Ezwar.


"Apa! aku mendatanginya? Apa aku tidak salah dengar ya, seorang Agra Pratama mendatangi gadis biasa hanya karena gadis itu tidak mau menemuiku." Tergelak. Agra tidak percaya dengan apa yang di sarankan sekretarisnya.


"Menurut anda, dia memang gadis biasa. Tapi tidak bagi orang lain." Berucap dengan nada tegas. Sekretaris Ezwar maju selangkah mendekati tuannya. "Agina tidak memiliki kekuasaan, tapi entah bagaimana, dia bisa membungkam mulut semua orang dengan perkataannya."


"Kau membelanya?"


Sekretaris Ezwar terdiam.


Melihat sekretarisnya yang terdiam membuatnya yakin ada sesuatu antara Ezwar dengan Agina.


"Kau menyukai Agina?" Tanya tuan Agra. Aneh,hatinya terasa hampa saat menanyakannya.


"Tidak!"


"Lalu kenapa kau membelanya?"


"Itu karena," Sekretaris Ezwar ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


"Karena?"


"Meskipun Agina terlihat kejam, tapi saya tau dia orang yang baik. Saya melihat banyak hal yang di sembunyikannya. Dia pasti memiliki beban di hidupnya." Berkata sendu.


"Sejak kapan kau peduli terhadap orang lain?" Agra dapat merasakan ucapan yang di katakan sekretarisnya sangat tulus.


"Dia bukan orang lain, saya menganggapnya sebagai teman." Ucap sekretaris Ezwar dengan tersenyum. Tuan Agra ikut tersenyum walau tipis.


"Aku baru tau kalau kau bisa puitis juga," Agra menggelang kepalanya tidak percaya. Sekretaris Ezwar pun tidak percaya dirinya membela seorang perempuan hanya karena dirinya tidak ingin masuk rumah sakit. "Tapi gajimu di potong 20 persen karena kau gagal membawanya." Sekretaris Ezwar langsung tercekat. Tuan Agra dengan santainya melanjutkan pekerjaannya tanpa peduli dengan wajah sekretarisnya yang pucat.


'Majikan durhaka,emang!" Batin sekretaris Ezwar.


...----------------...


Jangan lupa like dan komen.

__ADS_1


TERIMA KASIH SUDAH BACA.


__ADS_2