
"Praannggg....," Suara benda pecah memecah keheningan malam yang beranjak larut. Bu Henny tak sengaja telah menyenggol termos di dapur, saat hendak menuang air panas.
Bu Henny merasa perutnya kembung jadi dia ingin minum teh hangat. Tapi entah kenapa, kepalanya tiba-tiba pusing. Lalu Bu Henny menarik kursi untuk duduk, agar pusingnya hilang.
Namun entah kenapa termos yang di atas meja makan malah tersenggol dan jatuh, hingga pecah berantakan. Masih untung kaki Bu Henny tidak kena percikan air panas. Karena tadi dengan refleks beliau mengangkat kakinya .
"Ya, ampun Ibu...., Ngapain malam-malam begini bikin rusuh!" teriak Sarah yang tiba-tiba muncul di dapur. Matanya terbeliak garang melihat dapurnya yang berantakan akibat termos pecah.
"Maafkan ibu, Sarah, ibu gak sengaja tadi," ucap Bu Henny memelas.
"Maaf, maaf, emangnya bisa utuh lagi dengan kata maaf," semprot Sarah ketus. Sejak ibu mertuanya tinggal dengannya beberapa bulan ini, entah sudah berapa kali memecahkan peralatan dapurnya. Gelas atau piring beling sudah tak terhitung lagi yang dipecahkan ibu mertuanya.
Tadi, baru saja dia merebahkan tubuhnya di atas kasur, terdengar suara ribut dari arah dapur. Karena penasaran, dia memeriksa. Kirain ada kucing atau tikus yang berbuat ulah. Eh, gak taunya malah mertua yang menjatuhkan termos. kesal banget, gerutu Sarah dalam hati.
Sarah langsung mengambil sapu, membersihkan termos yang sudah pecah
"Ibu benar-benar tidak sengaja tadi, kepala ibu mendadak pusing," ucap Bu Henny memelas.
"Iya, sudah. Besok-besok jangan ibu ulangi lagi. Bisa-bisa habis semua peraltan dapur di rumah ini ibu pecahin," suara ketus Sarah dengan nada tinggi itu, sangat menusuk hati Bu Henny. Selama di rumah ini Sarah tidak pernah bersikap manis padanya. Beda ketika mereka masih tinggal di tempat lama, atau memang selama ini Sarah hanya berpura-pura baik padanya.
Sebenarnya, Bu Henny tidak ada rencana untuk tinggal bersama menatunya itu. Setelah Sarah pindah tugas karena di mutasi. Apalagi saat Bram terkena kasus, Sarah sama sekali tak pernah menunjukkan kepeduliannya hingga Bram masuk penjara Sarah juga tak pernah mengunjunginya.
Alasannya ada-ada saja, karena kejauhanlah atau karena repot bila membawa kedua anaknya Martin dan Vicky.
__ADS_1
Bu Henny datang setelah termakan bujuk rayu menantunya itu. Bahwa tinggal di tempat menantunya itu sangat nyaman karena tidak ada orang yang usil dan.membully mereka. Karena kasus Bram tidak ada yang mengetahui.
Sementara, Bu Henny merasa stres karena hampir setiap hari ada-ada saja orang yang mengejeknya karena Bram mendekam dalam penjara karena kasus korupsi.
Ada saja yang menyindirnya setiap kali dia.keluar rumah. Bahkan karena mereka akhirnya tau juga kalau Bram dan Sarah adalah suami istri, sementara yang mereka tau Sarah adalah kakak iparnya Bram. Hujatan serta makian dari tetangga dan teman arisan, membuat Bu Henny sangat malu.
Itulah sebabnya tanpa pikir panjang Bu Henny menjual rumahnya karena termakan hasutan Sarah
Awal dia datang, sikap Sarah memang manis. Ketika Bu Henny berencana membangun rumah sederhana hasil pejualan rumahnya, lagi-lagiSarah waktu itu membujuknya.
"Bu, buat apa sih Ibu membangun rumah di sini. Rumah Sarah ini kan rumah ibu juga. Mending rumah ini kita rehab, supaya ibu lebih nyaman tinggal di sini.
"Tapi, Sarah, Ibu tidak ingin merepotkan kamu. Apalagi kalau nanti Bram sudah bebas. Ibu merasa tak enak tinggal serumah. Rencana ibu, ibu juga mau buka toko atau warung untuk usaha ibu nanti."
"Aduh Ibu, siapa yang repot, Bu. Ibu 'kan sudah seperti orang tua saya. Sekarang, selama Bram di penjara, akulah yang bertanggung jawab sama ibu. Ibu tidak usah mikirin apa-apa."
Sarah sering bersikap kasar pada mertuanya, dan menjadikannya seperti pembantu saja. Karena pada kenyataannya, Bu Hennylah yang melakukan semua pekerjaan rumah.
Sarah sering beralasan capek sepulang kerja dari kantor. Mau tak mau Bu Hennylah yang menghandle semua pekerjaan rumah. Akibatnya, Bu Henny sering kelelahan sehingga stamina tubuhnya anjlok, dan jatuh sakit.
Sudah tau mertuanya sakit, bukannya dibawa berobat. Malah diomelin karena Bu Henny ingin berobat ke dokter.
"Apa, Bu? Ibu mau mau berobat ke Dokter? Apa ibu gak mikir kalau berobat ke dokter itu mahal, mau dapat dari mana uang untuk ke dokter, Bu?" Beliak Sarah dengan muka masam.
__ADS_1
"Bukankah, uang ibu masih ada sama kamu. Jika hanya untuk biaya berobat ke dokter, ibu kira lebih dari cukup," sahut Bu Henny terbata.
"Emang ibu pikir, uang ibu itu bisa beranak, sehingga tiap hari bertambah. Uang ibu sudah habis untuk keperlian ibu. Makanya Bu, kalau miskin itu gak boleh sakit. Biaya berobat itu, mahal," sergah Sarah kasar. Akhirnya Sarah hanya membelikan obat di warung.
Bu Henny hanya bisa meratapi nasibnya. Terpaksa dia menelan semua perlakuan kasar menatunya. Karena dia tidak tau mau kemana lagi. Rio, anaknya tidak pernah pulang sejak tau Bram masuk penjara.
Doly dan Ines sama saja. benar-benar tak peduli padanya lagi. Karena Doly tidak setuju ibunya menjual rumah peninggalan almarhum bapak mereka. Apalagi katanya ibu akan tinggal bersama Sarah.
Bu Henny terpaksa menahan sakitnya, hanya mengandalkan obat yang di beli Sarah dari warung.
"Ibu, ngapain lagi sih, bengong. Ini sudah larut malam, Bu. Pergi, sana tidur, katanya sakit tapi malah begadang," ucap Sarah menghentak lamunan Bu Henny.
"Ibu belum jadi, minum. Ibu gak sanggup minum air yang dingin." keluh Bu Henny.
"Lha, termosnya dah pecah, kek manal lagi ada air panasnya, Bu. Udahlah, Bu, minum air putih dingin itu saja. Malas menjerang air, udah larut ini, Bu."
Akhirnya Bu Henny beranjak dari kursi. Membawa csngkir beusi air putih dingin. Dadanya sedari tadi terasa sesak." Baru beberapa langkah dia berdiri, tiba- tiba Bu Henny merasa pandangannya gelap dan berkunang-kunang.
Bruk! Bu Henny jatuh pingsan. Air putih dingin itu tumpah dan membasahi tubuh Bu Henny.
"Ibu, kenapa lagi sih?" Teriak Henny geram. Saat dia mendekati Ibu mertuanya, Sarah kaget karena ibu mertuanya jatuh pingsan.
"Bu, Ibu, bangun! Huh, kenapa lagi sih, kok pake acara pingsan segala. Dasar, perempuan tua pesakitan, bikin susah saja." seru Sarah panik juga. Saat Sara mbalik tubuh ibu mertuanya, ada darah keluar dari mulutnya, membuat Sarah makin panik.
__ADS_1
Buru- buru, Sarah menelepon seorang mantri, untuk memeriksa keadaan mertuanya. Namun tidak ada jawaban, karena memang sudah larut malam.
Kepanikan Sarah makin berlipat, karena Bu Henny wajahnya pucat sekali. Juga detak nadinya, yang sangat lemah.*****