Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Pertemuan


__ADS_3

Agina keluar perusahaan. Dia menuju parkiran tapi matanya menangkap sebuah mobil yang di kenalinya. Senyuman miring muncul. Agina menghampirinya.


"Tuan Johan." Sapa Agina. Orang yang di panggil tampak terkejut. Sial, kenapa dia belum pulang.


"Nona Agina, anda mau pulang?" Sedikit gugup bertanya. Agina mengerti maksud pertanyaan itu.


"Anda ingin bertemu tuan Agra?" Bertanya balik. Agina sangat tau tujuan tuan Johan datang kesini.


"Iya, ada yang perlu saya bicarakan dengannya." Ucap Johan sambil menggaruk tekuknya. Dia melirik ke arah lain membuktikan dia sedang gelisah.


"Kita pergi bersama saja. Saya juga ada perlu dengan tuan Agra." wajah datarnya tidak berubah.


Tuan Johan mengangguk. "Baiklah." Sial!.


Mereka berjalan beriringan menuju ruangan Agra. Agina mengetuk pintu.


"Masuk." Suara dari dalam.


Agina membuka pintu dan mempersilahkan tuan Johan masuk terlebih dahulu. Setelah itu baru dirinya masuk dan menutup pintu.


"Agra!" Serunya pada Agra yang masih tidak menyadari.


Agra mendongakkan kepalanya. "Paman Johan!" Serunya riang. Agra langsung berdiri dan menghampiri pamannya.


"Bagaimana keadaanmu Agra?" Bertanya ramah.


"Aku baik. Bagaimana dengan paman?" Agra tersenyum.


"Seperti yang kau lihat, aku semakin tua." Isyarat yang bermakna. Agina hanya melihat interaksi keduanya.


"Agina, kenapa kau disini?" Agra baru menyadari Agina ada. Johan semakin gelisah.


"Saya mengantar tuan Dreandara kesini." Menjawab sopan. Agra mengangguk dan melihat ke arah pamannya.


"Duduklah paman," Agra mengiring tuan Johan ke sofa di ruangannya."Kau duduklah." Suruhnya pada Agina.


"Kalian berbincanglah. Saya akan duduk di kursi anda." Agina mendudukkan dirinya di kursi kerja milik Agra.


"Hei kau jangan duduk di kursiku!" Teriak Agra kesal pada Agina yang seenaknya. Tuan Johan bahkan terkejut.


"Tenanglah, saya tidak akan merusak kursi anda," Menjawab tenang. Agina memeriksa berkas di meja Agra. "Sekalian memeriksa kerjaan anda."


"Kau tidak berhak melakukannya!" Agra emosi. Johan hanya menatap keduanya dengan bingung. Mereka tidak akur!


"Tenanglah tuan Agra, saya tidak akan mencurinya. Lebih baik anda berbicara dengan tuan Johan saja."


Agra menoleh ke arah pamannya. "Maaf atas kejadian barusan paman. Dia memang suka seenaknya."

__ADS_1


Agina menatap datar Agra yang mengatakan dirinya suka seenaknya. Rasanya ingin pukul kepala Agra agar dia mengingat siapa yang selalu mengganggunya.


"Tidak apa apa." Agra jadi tampak lebih hidup saat bersama Agina.


"Apa ada yang ingin paman bicarakan? Sampai paman datang kesini." Tanya Agra. Johan melirik ke arah Agina yang fokus terhadap berkas.


Tidak bagus membicarakannya dengan Agra sekarang, ada gadis sialan itu disini.


"Paman." Panggil Agra pada paman Johan yang diam.


Johan tersenyum. "Bisakah kita bicara berdua? Maksudku ini urusan pribadi."


Agra menoleh ke Agina. "Bisa kau keluar."


"Anggap saja Saya patung. Saya tidak akan memperdulikan apapun pembicaraan kalian." Agina bahkan tidak menoleh dari berkas di tangannya.


"Katakan saja paman, dia tidak akan peduli."


Gadis sialan! terpaksa aku harus menundanya. "Agra, kapan kau akan menikahi putriku?"


Agina tersenyum miring mendengar itu. Ganti topik heh! Sangat cerdas.


"Aku pikir, terlalu muda bagiku untuk menikah." Menjawab sopan.


"Paman juga tidak ingin memaksa, tapi Olivia selalu khawatir bahwa kau tidak mencintainya lagi. Dia takut kau bosan padanya karena telah menjalani hubungan selama delapan tahun."


"Apa kau mencintai Olivia atau karena utang budi?" Tanya Johan memastikan. Ia tidak ingin ada kegagalan dalam hubungan Agra dan Olivia.


"Olivia telah merawatku, tentu saja." Tidak tegas melainkan nada riang yang di buat buat.


"Baiklah, aku harap kau tidak memberikan harapan palsu pada putriku," Menepuk bahu Agra. Johan berdiri. "Kalau begitu aku pergi dulu."


"Cepat sekali. Paman tidak ingin minum dulu?" Agra ikut berdiri.


"Tidak perlu, sebentar lagi ada rapat." Mereka berjabat tangan. Johan segera berlalu dari ruangan.


Seketika itu juga wajah Agra berubah menjadi dingin. Ia tau bukan itu yang ingin di sampaikan pamannya. Pasti ada hal lain tapi karena kehadiran Agina, pamannya jadi kelihatan takut mengatakannya.


Agra menghampiri Agina yang masih sibuk memilah kertas.


"Sudah puas melihat hasil kinerjaku." Agra tersenyum. Entahlah saat bersama Agina bawaannya jadi selalu ingin tersenyum.


"Tidak ada kesalahan, kerja anda bagus." Agina bangkit dan hendak keluar namun tangannya di cekal. Agra menariknya duduk di sofa.


"Apa tujuanmu?" Langsung pada inti. Wajahnya berubah serius.


Agina memahami arah pembicaraan Agra. "Ternyata anda tidak sebodoh itu ya."

__ADS_1


"Katakan padaku, apa motifasimu sebenarnya." Berkata dingin.


"Tuan Agra, saya tau anda mengetahui mereka mendekati anda karena harta," Ujar Agina dingin. "Tapi anda menghargai mereka hanya karena utang budi?"


"Itu masalahku, bukan urusanmu!"


"Olivia merawat anda saat koma di rumah sakit, bukankah itu sebuah lelucon. Semua orang juga tau kalau Olivia Dreandara sangat membenci bau obat."


"Dia sangat mencintaiku, itulah mengapa aku menghargainya karena dia rela melakukan hal yang di benci demi diriku."


"Cinta." Agina tertawa mendengarnya. "Apa anda yakin itu cinta."


"Cinta ataupun bukan, tapi dia telah menjagaku saat semua orang sibuk mengurus perusahaan yang hampir bangkrut." Agra menahan sekuat tenaga agar tidak mengelurkan air mata.


Agina menyeringai. "Saya dengar dulu anda mencintai seseorang, tapi karena gadis itu lebih memilih mengurus perusahaan dari pada anda, anda malah mengusirnya dan menganggap dia perempuan matre. Huh! kasian sekali gadis itu." Sangat ironis.


"Apapun itu, tidak ada hubungannya denganmu!" Berteriak.


Agina menghela nafas, ia tidak ingin membuat Agra terpuruk akibat mengingat kejadian delapan tahun lalu.


"Anda sungguh bukan lelaki sejati. Anda lebih mempercayai apa yang terlihat di mata dari pada apa yang di percayai oleh hati."


Agra terdiam. Dia tidak ingin berdebat lagi. Dia seseorang laki laki tidak boleh terlihat lemah di depan perempuan. Tapi kenapa dia ingin sekali menunjukkan sisi lemahnya pada gadis ini.


"Agina, bagaimana kau bisa tau tentang hal itu semua?" Bertanya balik dengan mimik menyeramkan. Agra lebih dingin dari pada sebongkah es. "Siapa kau sebenarnya?"


"Anda tidak perlu tau. Tapi yang pasti, saya orang di kirimkan paman Rangga untuk menjagamu."


Agra mendongak mendengar kalimat penenang itu. Ia tersenyum, di tariknya Agina dalam pelukannya. Perasaannya jadi lebih tenang sekarang.


"Bisa tidak, jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan." Ucap Agina ketus. Ia merasa sesak dengan pelukan yang menenggelamkan tubuhnya.


Agra tersenyum mendengar kalimat ketus Agina. Segera ia menangkup pipi Agina dan mengecup singkat bibirnya.


Agina mengedipkan matanya sesaat. Lalu bogem mentah pun mendarat.


Berdiri dengan emosi. "Mesum!" segera ia keluar dengan dengan kaki di hentakkan.


Agra tersenyum melihat tingkah lucu Agina. Ia tidak peduli dengan pukulan di wajahnya.


......................


Warning: Jika ingin mengetahui di balik kemisteriusan di novel ini harus teliti membaca. Karena Rain tidak akan menjelaskan secara langsung melalui khusus bab. Tapi sesekali memberikan informasi di setiap kata.


...TERIMA KASIH SUDAH BACA...


...LIKE DAN KOMEN...

__ADS_1


__ADS_2