Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 90


__ADS_3

Selesai makan, aku menuntut janji Dion, untuk menyampaikan hal penting yang akan dia sampaikan.


"Tapi, kamu janji untuk tetap tenang, ya? Karena kabar yang akan aku sampaikan ini adalah kabar buruk." Dion menarik napasnya sejenak, memastikan bahwa aku akan tenang dan bisa mengendalikan emosi.


Jantungku segera berdegup kencang. Mencoba memepersiapkan hati untuk kemungkinan yang terburuk.


"Ini soal apa, Di?" tatapku lekat disertai rasa cemas.


"Arby," sahutnya singkat. Dion meraih tanganku, meremasnya sebentar seolah hendak memberi kekuatan padaku.


"Kenapa dengan Arby?" sahutku bingung, walau aku sudah dapat menebak telah terjadi sesuatu dengan Arby.


"Arby, tidak pernah sampai ke Papua. Dia di culik saat mau menyeberang di Bakauheni. Keberadaannya masih misterius. Sementara ini itu laporan yang dapat disampaikan orang suruhanku. Masalahnya siapa orang yang mengaku sebagai Arby, yang tinggal di rumah kalian?"


"Dia Luke, saudara kembar Arby, anaknya bibi Elis. Mereka bertiga merencanakan menghancurkan bisnis papa, dengan investasi bodong," ucapku. Dion terheran mendengar info dariku.


"Kamu sudah tau semuanya? Dari mana info itu kamu peroleh," selidik Dion menatapku lekat.


"Aku mendengarnya tanpa sengaja. Perusahaan yang akan bekerja sama dengan papa ternyata orang suruhan bibi Elis. Ini vidionya, aku menyuruh seseorang tadi untuk meliput ini secara diam-diam." ucapku seraya menyerahkan ponselku pada Dion. Dion melihat rekaman vidio itu dan menyimak serius setiap kata demi kata.


"Kamu harus hati-hati, Reny. Siapa tau Luke akan berbuat nekad. Sebaiknya kita laporkan saja pada om. Aku kira ini sudah cukup sebagai bukti, untuk meyakinkan om,"ungkap Dion.


"Lebih cepat lebih baik. Aku tidak ingin Luke mempengaruhi papa lebih dalam. Jadi ada baiknya kita bertindak cepat. Trus, apa keberadaan Arby memang tidak diketahui?"


"Untuk saat ini, memang belum diketahui. Semoga mereka segera bisa menemukan Arby, dan Arby dalam keadaan baik-baik saja." timpal Dion lagi.

__ADS_1


Akhirnya kami berdua sepakat untuk memberitahukan penemuan kami besok kepada papa, perihal Luke dan rencana jahat bibi Elis.


Saat kami memeritahukannya keesokan harinya, papa sangat sulit untuk memercayai semua apa yang telah kami katakan.


"Gila, kalian pasti gilal telah memfitnah Arby seperti ini. Reny, kamu dendam denga saudaramu sendiri, dan tega memfitnahnya hanya karena soal pekerjaan?!" kecam papa menahan amarah disertai pandangan menghujam membuatku kaget akan reaksi papa. Padahal buktinya sudah cukup jelas di dalam rekaman vidio itu.


"Pa, aku tidak memfitnah Arby. Justru saat sekarang Arby tengah dalam bahaya. Arby, sekarang tengah disekap entah dimana. Yang berama kita itu adalah Luke saudara kembar Arby. Aku tak sengaja telah mendengar percakapan mereka, karena sejak awal aku sudah dengan Arby yang mendadak pulang, Pa. Papa perlu konfirmasikan ini dengan bibi Elis." jelasku putus asa karena kekerasan hati papa yangbtidak percaya dengan apa yang telah kukatakan.


Aku bisa mengerti, karena mungkin papa telah kecewa karena harapannyanterlalu besar pad Arby untuk mau ikut mengelola perusahaannya. Selalam ini Arby menolak dan tidak mau tau soal bisnis Papa. Tiba-tiba Arby berubah dan papa tentu saja sangat senang akan hal itu. Lalu aku membongkar niat jahat Arby, yang didalangi bibi Elis. Tentu itu semua itu membuat papa murka.


"Tara, apa kamu yang mendalangi semua ini? Kamu sengaja hendak merusak keluagaku, begitu?" tuduhan papa pada Dion sangat melukai hatiku.


"Om, aku justru hendak menyelamatkan keluarga Om, yang sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri. Bagaimana bisa Om, menuduhku seperti itu?" sahut Dion lunak. Aku salut dengan sikap Dion karena tidak terpicu oleh tuduhan papa.


"Apa yang kamu ketahui tentang, Hans?" ucap papa pada Dion, rekanan barunya yang ternyata berniat jahat padanya.


"Banyak hal, Pak. Hans telah sering melakukan penipuan. Bahkan harta yang dia miliki adqlah hasil menipu dari lqwan bisnisnya. Dia sudah terbiasa melakukan hal itu. Dia licin dan licik pada setiap korbannya. Modusnya, ya, dengan menjalin kerja sama dan investasi bodong, Pak."


"Hem, bagaimana aku bisa terkecoh dan masuk dalam permainannya semudah ini." Maki papa pada dirinya sendiri, sembari meninju jok kursi.


"Untunglah Reny, memiliki naluri yang tajam, Pak. Sehingga niat jahat Hans cs bisa segera terendus sebelum mereka sempat bertindak.Jadi, Bapak harus batalkan semua kerja sama dengan perusahaan Fajar Coy, Pak. Sebelum penandatanganan surat perjanjian kerja sama itu."


"Baiklah, aku percaya dengan semua ucapan kalian. Pak Tara , lakukan semua hal yang terbaik untuk perusahaan ini. Papa percaya sama kamu sejak dulu. Terimakasih atas kesetianmu sama, Papa." Ungkap papa terharu seraya memeluk Dion, dan tidak menyadari kalau panggilan dirinya berubah untuh Dion.


"Eh, apa inibartinya aku telah mendapat restu, pak?" ucap Dion konyol, seraya tersenyum-senyum mesem.

__ADS_1


"Restu? Restu apaan?" ucap papa balik bertanya.


" Ekhem, itu tadi, soal Bapak menyebut diri Papa kepadaku," ucap Dion sambil garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Oh, soal itu toh. Bukankah ini papa kamu juga. Papa beri ijin kamu menjadikan Reny istri kamu, setelah Reny siap. Kamu benar-benar mencintai Reny 'kan?" selidik papa menatap Dion lekat.


"Benar, Pak, dengan setulus hati saya," ucap Dion takjim.


"Kalau begitu, segeralah lamar putrir Papa, jadikan dia pasangan halalmu. Kamu juga sudah cukup lama menduda. Papa harap kalian jadi pasangan yang setia sampai mati," papa meraih kami berdua kedalam pelukannya.


Aku tidak bisa menahan haruku mendengar mendengar ucapan papa. Kelopak mata Dion juga nampak berkaca-kaca saar pandangan kami bersiribok. Aku tersenyum saat Dion menggenggam jemariku.


"Terimakasih, Pa, atas restunya. Aku berjanji akan membahagiakan Reny dan menjadi keluarga yang berbahagia selamanya," ucap Dion.


"Amin, semoga kalian dalam berkat, Tuhan selalu."


"Papa, terimakasih," pelukku pada lelaki paruh baya, yang selama ini selalu mencari keberadaanku. Berkat kegigihan dan ikatan cintanya yang tulus, pada akhirnya aku bisa bertemu beliau lagi menjadi satu keluarga yang utuh. Semua itulah berkat campur tangan Tuhan, yang senantiasa hadir dalam kehidupan kami.


Tiba-tiba pintu ruangan Papa terbuka, tanpa diketuk lebih dulu. Kami bertiga terkejut dsn melihat Luke telah berdiri di ambang pintu.


"Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu, Arby?" delik papa tajam. Sejenak raut wajah Luke berubah tapi detik berikutnya dia sudah bisa menguasai diri.


"Maaf, Pak," ucap Luke serba salah. Mendadak dia kikuk juga saat melihat kami bertiga sedang berangkulan.


Dari sikapnya aku melihat Luke nervous rasa percaya dirinya sedikit tergerus. Sikap canggungnya nampak kentara, semakin menguatkan dugaanku memang dia bukan Arby. *****

__ADS_1


__ADS_2