
Bagas mengurai pelukan nya. Ia sadar kalau yang sedang di peluk nya saat ini adalah istri orang. Begitupun Lisa dia tersadar dari kesalahannya.
"Maafkan aku Lisa?."
Tidak ada jawaban dari perempuan yang ada di hadapan nya saat ini.
"Aku tidak bermaksud membuatmu sedih." Bagas menggenggam lembut tangan Lisa.
Lisa menyingkirkan tangan Bagas. "Maafkan aku Bagas? maafkan aku yang tidak bisa menutupi perasaanku? kau pasti berpikir kalau aku adalah wanita murahan. Wanita yang sudah bersuami dengan tidak tahu malunya memeluk pria lain di malam pernikahannya."
"Aku tidak pernah berpikiran jelek sedikitpun tentangmu Lisa."
"Awalnya aku berpikir bisa melupakan dirimu sepenuhnya. Tapi nyatanya aku tidak bisa membohongi perasan ku Bagas. Aku menyakiti hati suamiku. Bagaimana kalau dia melihat istrinya berada di pelukan pria lain di malam pesta pernikahan nya?."
"Lisa..."
"Semua salahku aku yang memilih jalan ini tapi aku juga yang menyesalinya."
"Keadaan lah yang membuat kita harus seperti ini Lisa."
__ADS_1
"Sayang kau disini?." Sakti berjalan mendekat ke arah Bagas dan Lisa. Pria itu sengaja menghentikan obrolan mereka.
Sebenarnya dari tadi Sakti mendengarkan obrolan mereka. Karena taman belakang Lisa bersebelahan dengan dapur.
"Kau kenapa? habis menangis?." Sakti mendudukkan tubuhnya di sebelah Lisa. Ia usap air mata sang istri dengan ibu jarinya. Dan di cium nya kening Lisa dengan mesra.
Bagas membuang mukanya ke arah lain. Dia tidak sanggup melihat pemandangan yang begitu menyesakkan dada.
Yoga berjalan ke arah anak dan menantunya. "Kenapa ini?"
"Tidak ada apa-apa Yah."
"Ayo kita ke taman samping ada saudara yang ingin memberi ucapan selamat."
"Lala tolong ajak Lisa ke kamar dulu ya? aku mau menemui saudara Ayah dulu."
Lala menganggukkan kepala. "Ayo ikut aku Lisa? riasan mu berantakan nanti sampai kamar aku bantu rapikan ya?."
Kini tinggal Bagas dan Adam yang duduk bersama di bangku panjang tersebut. Karena tadi Adam juga mengikuti Lala.
__ADS_1
"Ikhlas kan lah! kalau seperti ini terus kalian sendiri yang akan tersiksa."
"Aku tahu Adam, dan aku tidak akan melewati batasan ku."
Biarlah malam ini menjadi akhir segala perasaan nya kepada Lisa. Karena cinta yang sesungguhnya adalah rela. Rela melepas meski hati ingin memiliki, rela memberi mesti tidak dapat balasan.
Malam kian larut tamu undangan sudah mulai meninggalkan pesta tersebut.
"Aku minta maaf Lisa? aku doakan kau bahagia selalu." Bagas masih menatap Lisa dengan tatapan yang sulit di artikan.
Kemudian dia menyalami Sakti sambil berbisik di telinga. "Aku akan merebut Lisa darimu jika dia tidak bahagia."
Sakti hanya tersenyum miring menanggapi ucapan Bagas. Bagaimana mungkin Ia tidak membahagiakan wanita yang sangat di cintai nya itu. Bukankah mungkin yang akan terluka disini adalah Sakti.
***
Setelah membersihkan diri Lisa langsung merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memejamkan mata. Malam ini adalah malam pertamanya dengan Sakti.
Ceklek
__ADS_1
Pintu kamar terbuka. Sakti masuk ke dalam kamar dengan langkah yang pelan. Ia tidak ingin membangunkan istrinya yang sudah tidur di ranjang. Padahal Lisa hanya pura-pura tidur.
Sakti langsung merebahkan tubuhnya di samping Lisa setelah tadi Ia membersihkan diri. Di peluknya Lisa dari belakang sambil berucap dalam hati. "Aku memiliki ragamu, tapi tidak dengan hatimu."