
"Reny, ini pak Tara yang akan mendampingimu, sementara memberi pengarahan, soal kinerja di perusahaan ini," ucap papa, memutus harapan yang barusan kulambungkan dalam anganku. Aku mencoba menyembunyikan keterkejutanku.
"Selamat bergabung ya, Bu Reny." Dion menyalami tanganku dan tersenyum hangat. Aku mengangguk dan menyambut uluran tangannya.
"Karena kalian sudah saling kenal sejak kasus perceraian itu, Papa memutuskan sebaiknya Pak Taralah yang akan memberi bimbingan padamu, Reny. Semoga kalian bisa bekerja sama," ucap papa ringan.
"Saya siap Pak, melaksanakan tugas, mendampingi, Bu Reny," ucap Dion penuh hormat.
"Oke, sebagai tugas pertama, aku tugaskan kalian meninjau proyek pembangunan perumahan yang mangkrak itu. Reny, coba dekati warga, untuk mengetahui, kenapa pembebasan tanah itu bermasalah. Sepertinya ada yang bermain, sehingga masalah tanah itu berlarut-larut." Titah papa.
"Pak Handoko, kukira terlalu dini, kalau Reny dilibatkan ikut menangani proyek itu," usul Dion dan aku juga sependapat.
"Tidak, Pak Tara, aku punya feeling Reny pasti bisa beradaptasi. Tidak ada salahnya melibatkanya langsung ke lapangan." ucapan papa membuatku terbebani. Betapa besar harapan papa memupuk kepecaryaannya padaku. Setelah Arby memutuskan pergi ke Papua dengan komunitasnya dalam aksi sosial, Papa hanya hanya bisa berharap padaku untuk ikut mengelola perusahaannya yang dia bangun dari nol.
"Baiklah, Pa. Reny siap memulai tugas," ucapku tegas.
"Itu baru putri Papa. Papa suka semangatmu." Papa menepuk bahuku. Sekalipun aku masih meragukan kinerjaku, tak ada salahnya menuruti saran papa.
"Kalau begitu kita berangkat saja sekarang. Aku sudah menyiapkan semua berkas-berkas yang di butuhkan," ucap Dion saat melihat kesiapanku.
Aku mengangguk dan mengikuti langkah panjangnya keluar dari ruangan Papa. Saat kami jalan di koridor, setiap orang yang berpapasan selalu mengangguk hormat pada kami. Yang perempuan senyum-senyum menatap ke arah Dion. Dion hanya menanggapi dingin setiap sapaan mereka. Terutama yang wanita. Padahal mereka adalah gadis-gadis cantik dan belia.
"Sepertinya Pak Pengacara punya fans berat di sini, ya," gumanku. Sekilas wajah dingin itu melirik ke arahku. Aku mengendikkan kedua bahuku mendapat tanggapan itu. Kukira Dion akan tertawa atau membalas ucapanku. Tapi malah dikacangin.
Kami tiba di meja resepsionis. Dua perempuan cantik di sana sudah kasak kusuk melihat kedatangan kami yang masih berjarak 10 meter. Aku tersenyum lagi, melihat tingkah mereka.
Siapa sih yang tidak akan kesengsem melihat sosok Dion yang tampan. Seorang pengacara handal yang banyak digandrungi para wanita. Banyak yang mengantri biar dijadikan istri dan ibu untuk putrinya, Raisa.
Tapi sejauh ini, tanggapan Dion hanya biasa saja malah terkesan dingin dan acuh. Dari sekian banyak yang menggodanya, tak satupun yang dia lirik. Tidak satu dua orang yang menggelarinya "duda arogant" karena sikapnya akan berubah setiap kali ada yang mau mendekatinya.
Semua itu adalah cerita Sofi, ketika mereka suatu malam saling tukar cerita. Sofi malah sempat wanti-wanti mengingatkan agar dirinya jangan tertarik pada saudara sepupunya itu.
"Tapi buatlah dia jatuh cinta sama kamu, Ren, biar kapok dia." ucap Sofi malam itu.
"Ih, kamu ini kenapa sih, kamu melarang aku jatuh cinta tapi menyuruhku agar Dionlah yang jatuh cinta padaku. Caranya kek mana? Lagian aku belum ingin memikirkan soal asmara lagi deh. Aku ingin fokus meniti karir dan masa depan kedua anakku," sanggahku, disambut suara ngakak Sofi di seberang.
"Pokoknya jangan salahkan aku, ya, tidak pernah memperingatkanmu," serunya lagi.
"Alah, palingan juga dia nanti yang ngejar-ngejar gue," selorohku iseng.
"Mantap kalau begitu, biar dia akhiri gelar duda karatannya itu," kekeh Sofi lagi, kali ini suaranya makin keras.
"Udah, ah. Ngapain pula kamu ngebahas soal cinta-cinta segala. Aku sudah kapok dan gak.mau lagi mikirin soal itu."
__ADS_1
"Eeh, sepupuku itu masih muda, ganteng lagi loh. Gak bakalan rugi kamu kalo jatuh cinta sama dia."
"Dasar gak jelas kamu. tadi ngelarang aku dekat sama Dion. Eh, ini malah comblangi aku pula ke dia." Lagi-lagi aku dengar suara tawa di seberang.
"Udah, deh. Kamu jangan sewot dulu, ah. Gampang kali tensimu naik. Nikmati aja prosesnya, Neng. aku berdoa yang terbaik buat kamu."
"Dasar gokil. Proses apa yang kamu suruh aku nikmati. Makin tak waras aja kamu udahan ya, dah larut malam nih," aku memutus sepihak telepon itu. Entah apa maksud semua ucapan Sofi tentang Dion.
Kalau soal dia yang banyak dikagumi wanita sih aku mengakui itu. Nyatanya belum sehari aku di kantor Papa aku sudah melihat faktanya.
"Bu, Reny, Ibu di panggil Pak Tara," salah satu cewek yang bertugas di bagian resepsionis mencolekku. Aku melihat papan namanya, Fany.
Tadi Dion pamit sebentar karena menerima telepon. Lamunanku terputus karena teguran, Fany.
"Eh, iya," seruku kaget karena tak mendengar panggilan Dion yang berjarak lima meter dari tempatku duduk. Dion yang lebih akrab di panggil Pak Tara, sudah senyum-senyum mesem melihatku. Kontan saja kedua gadis di dekatku terpekik suprise melihat senyum Dion yang jarang dia perlihatkan. Aku juga ikut tersenyum melihat ulah mereka.
"Ngelamunin siapa sih, sampai segitu asyiknya?"
"Hem, aku cuma menguping pembicaraan kedua gadis itu," ucapku berbohong.
"Emang mereka ngomong, apa?"
"Nanti kamu kegeeran kalau aku ngasih bocoran,"
"Kamu tunggu di sini sebentar," Dion berjalan menuju area parkir. Hitungan menit dia sudah kembali dengan mobil sportnya. Dion membukakan pintu mobil untukku, lengan kekarnya menahan diatas kepalaku saat aku mau masuk. Diperlakukan seperti itu, ruang bilik hatiku berdesir. Seketika aku jadi gugup, karena perlakuan manis itu.
Ih, apaan sih, tegur hatiku. baru gitu aja udah baper.
Saat Dion hendak menyalakan mesin, tiba-tiba ponselnya berdering. Sekilas dia membaca lalu menerima panggilan itu.
"Halo sayang, ada apa?" sahutnya santai. Aku melirik sekilas padanya. Karena kupikir yang menelepon adalah teman wanitanya.
"Iya, sayang. Papa tidak lupa kok, nanti papa belikan, ya. Iya, papa janji. Dadah....!" hubungan terputus.
"Bantu aku nanti, ya, Ren, membelikan gaun kembang untuk Raisa. Dua hari lagi dia ulang tahun, aku lupa terus," ucapnya sambil menepuk jidat.
"Oke, aku akan bantu nanti," ucapku. Aku jadi teringat saat pernah menghubungi Dion menjelang sidang perceraianku, yang mengangkat adalah putrinya Dion. Aku sempat terkejut saat di telepon, Raisa, bercanda. Dia mengira aku adalah teman wanita papanya.
"Dia pasti anak pintar dan menggemaskan," ucapku setelah beberapa saat kami terdiam. Saat ini kami telah ditengah perjalanan menuju proyek.
"Siapa? Raisakah?" Dion melirik ke arahku. Aku mengangguk.
"Tapi, tidak jarang dia sangat menyebalkan dan membuatku kewalahan."
__ADS_1
"Kok bisa?"
"Ada satu permintaannya, yang sampai sekarang belum bisa aku penuhi. Dia selalu menuntutku. Dia pikir mencari pengganti mamanya semudah mencari jarum dalam tumpukan jerami," kekehnya.
"Keduanya sama sulitnya," sanggahku. Dion mendelikkan matanya karena bantahanku.
"Jelas yang terakhir lebih gampang, tinggal membakar jeraminya jarumnya pasti nampak."
"Iya, kalau jeraminya sedikit. Kalau banyak, sama aja dengan bohong," ujarku tak mau kalah.
"Hei, keras kepala sekali, kamu Ren." kekehnya.
"Maksudku, kita jangan membesar-besarkan masalah kalau bisa dibuat sederhana."
"Jadi, menurutmu mencari seorang ibu pengganti itu gampang, ya?"
"Aku tidak bilang gampang. Tapi, tidak ada salahnya kalau melihat situasinya. Raisa sudah kehilangan ibunya sejak kecil."
"Jadi, maksudmu aku menikahi saja sembarang wanita hanya karena, Raisa, butuh gitu. Bagaimana kalau dia tidak mau menerima Raisa dan hanya menginginkan aku misalnya."
"Bagaimana kamu tau kalau dia hanya ingin kamu saja, jika kamu tak memberi kesempatan. Kamu tidak percaya kalau ada yang akan menyayangi putrimu, yang bermasalah di sini adalah kamu, bukan putrimu!" tanpa sadar kami tersulut emosi dan pembicaraan makin alot.
"Oke, anggap aku yang bermasalah. Lantas, apa kamu tega menyerahkan pengasuhan anakmu kepada seseorang yang kamu tau, tidak bisa kamu percaya." Dion tiba-tiba menepikan mobilnya.
"Tentu saja bukan begitu ceritanya. Dia itu memang harus yang kamu percaya. Masalahnya di sinikan, kamu tidak memberi kesempatan, tidak membuka hatimu. bagaimana kamu bisa tau atau menemukan seseorang yang tepat buat putrimu. Jika kamu masih terkungkung oleh sesuatu yang membebani kamu. Misalnya masa lalu kamu," tanpa sadar aku bicara panjang lebar tanpa memperhatikan raut Dion.
Sepertinya ucapanku menyinggung perasaannya. Tiba-tiba Dion mencengkram bahuku dan memeluk tubuhku, aku terkejut tak menduga reaksinya. Dalam sekian detik kami berpelukan.
"Aku lelah, Reny, sangat lelah," ucapnya lirih. Aku yang berusaha hendak melepaskan diri, jadi diam membatu. Aku tak mengerti sikap Dion. Dia lelaki yang dicap acuh dan dingin, tiba-tiba rapuh seperti ini.
Dia yang begitu garang di ruang sidang dalam membela kasus klientnya, begitu lemah tak berdaya. Tanpa sadar, aku menepuk-nepuk punggungnya, sama seperti saat aku menenangkan anak-anakku saat emosinya labil.
Entah berapa saat lamanya kami terdiam dalam posisi itu. Aku merasakan sisi lain dari pribadi Dion yang tak pernah kuduga. Benarkah dia memiliki masa lalu yang pahit? Karena Dion berubah sensitif saat aku menyinggung soal masa lalu.
"Maafkan aku Dion kalau kata-kataku terlalu kasar," ucapku akhirnya.
"Aku yang harusnya minta maaf, tidak bisa menjaga emosi," sahutnya setelah melepaskan pelukannya padaku.
"Tidak apa-apa," sahutku bersikap santai. Aku tidak ingin Dion merasa canggung atas kejadian tadi.
"Makasih banyak, Reny. Sepertinya aku begitu konyol ya, aku yang selalu bersikap dingin ternyata begitu rapuh, di hadapanmu." ucapnya mengusap wajahnya.
"Bukan begitu, setiap orang pasti pernah mengalami di titik terendah hidupnya. Bersyukurlah bila di saat itu, kita menemukan teman berbagi. Kamu telah lebih dulu menolongku. Sekarang kita impas, ya. Hutangku sudah lunas," kekehku.
__ADS_1
Mata Dion mendelik heran. Detik berikutnya dia sepertinya sudah paham ucapanku. Karena di masa-masa sulit saat sidang perceraianku. Aku sempat mau menyerah, dialah yang memotivasi semangatku untuk terus berjuang.***