
Ini sudah jam makan siang. Tapi dia masih berkutat dengan laptopnya. Agina memang seperti,dia akan makan siang saat dirinya merasa lapar. Jika tidak dia pasti tidak akan makan. Itu yang membuat Safira berisiniatif untuk mengajaknya makan siang. Karena Safira tau,Agina menghargai setiap orang yang mendekatinya. Walaupun tidak di tunjukkan.
Agina mengambil berkas yang berisi tentang rancangan pembangunan baru yang telah di buatnya. Berkas ini harus di serahkan kepada Agra untuk di tanda tangani. Dan dia malas untuk memberikannya secara langsung. Sebenarnya,Agina bisa saja menanda tangani berkasnya karena apapun yang di lakukannya tidak perlu persetujuan,bahkan tuan Agra sekalipun. Tapi karena Agra ingin mengawasi pembangunan secara langsung. Jadi mau tidak mau,berkas ini harus sampai ke tangannya.
"Ah,merepotkan sekali!" Ucapnya malas. Tapi bukan Agina namanya kalau tidak memiliki cara di dalam otak cerdasnya. Telepon yang ada di atas mejanya menjadi targetnya. Segera ia melakukan panggilan dan menyuruh seseorang ke dalam ruangannya.
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Agina mempersilahkan masuk.
"Ada apa kau memanggilku? Kau ingin mengajakku makan siang?" Safira ingat ini sudah makan siang. Tapi tidak mungkin kan,Agina mengajaknya makan siang. Jika itu terjadi,maka dapat di katakan hubungan mereka semakin dekat.
"Aku akan mengajakmu makan siang,Tapi setelah kau melakukan perintahku." Agina memeriksa berkas di tangannya.
"Baiklah,apa tugasku?" Safira berdiri dengan jarak 1 meter di hadapan Agina.
"Kau hanya perlu mengantar berkas ini kepada tuan Agra. Katakan padanya untuk menanda tanganinya." Ujar Agina seraya menyerahkan berkasnya. Mata Safira langsung berbinar. Ini artinya dia bisa melihat tuan Agra lagi. Dengan cepat Safira mengambil berkas itu yang hanya dua senti itu dan memeluknya.
"Dengan senang hati." Jawab Safira. Agina menggeleng kepalanya melihat Safira yang antusias hanya karena bertemu tuan Agra. Padahal Agina selalu menyuruh Safira untuk melakukannya
"Dan ingat,jangan katakan siapa yang menyuruhmu! Katakan saja,kau hanya ingin mengantarkan berkasnya." Jelas Agina sembari menatap Safira datar.
"Iya,iya aku mengerti!" Memutar bola matanya jengah. Safira membalikkan tubuhnya. Baru selangkah,ia kembali membalikkan badannya menghadap Agina yang fokus terhadap laptopnya.
"Kenapa kau masih menyuruhkan mengantarkannya? Bukankah kau menyukai tuan Agra?" Ujar Safira bingung. Agina menghentikan ketikan jemarinya dan menatap Safira.
"Memangnya kenapa?" Balik bertanya.
"Bukankah ini kesembatan bagus untuk mendekati tuan Agra?"
"Aku tidak mengatakan,aku menyukai tuan Agra. Kau sendiri yang menyimpulkannya," Agina kembali fokus dengan laptopnya. "Lagi pula kau itu aneh,orang sepertiku menyukai tuan Agra!"
Safira menutup mukanya dengan berkas karena merasa malu,telah menuduh Agina menyukai tuan Agra. Tanpa banyak bicara lagi,Safira keluar dan segera mengantarkan berkas dengan hati yang deg degan.
Mengetuk pintunya pelan. Terdengar suara menyuruhnya masuk. Safira menarik nafasnya dan menghembuskannya pelan. Itu sudah menjadi kebiasaannya saat mengantarkan berkas yang di suruh Agina. Membuka pintu dan berjalan pelan ke hadapan tuan Agra. Berdiri dengan jarak dua meter dengan meja tuan Agra.
'Aaaaa! Tampan sekali!' Batinnya histeris. Safira terpana melihat wajah serius tuan Agra yang sedang membaca dokumen. Di liriknya ke arah kiri,di sana ada sekretaris Ezwar duduk di sofa dengan mata fokus ke laptop.
"Apa yang perlu aku tanda tangani?" Tuan Agra berucap begitu,karena tau gadis di depannya ini selalu datang ke ruangannya untuk minta tanda tangannya.
"Seperti biasa tuan!" Ujar Safira berusaha tidak gugup. Di langkahkan kakinya mendekati tuan Agra dan menyerahkan berkasnya. Lalu kembali ke tempatnya semula.
Tuan Agra membaca isi berkasnya yang berisi rancangan pembangunan jembatan itu. Tunggu,pembangunan jembatan! Keningnya berkerut saat mengingat sesuatu.
"Namamu Safira,bukan?" Tanya tuan Agra menatap gadis di depannya. Safira gugup dan salah tinggah.
"I-iya tuan!" Menunduk.
"Seingatku,setiap kau mengantarkan berkas,kau tidak pernah mengatakan nama pengirimnya?" Tuan Agra berkata dingin dengan muka datarnya.
__ADS_1
"Saya hanya di tugaskan untuk mengantarkan berkasnya untuk di mintai tanda tangan anda."
"Siapa nama pengirimnya?" Tanya tuan Agra. Sekretaris Ezwar yang awalnya tidak tertarik,mulai menontonnya.
"Saya di suruh merasiakannya tuan!" Jawab Safira gemetar. Perasaannya mulai tidak nyaman.
Seketika tuan Agra menyeringai. 'Heem,ternyata dia sangat licik'
"Beritau namanya?" Mengatakan dengan penuh penekanan. Safira diam.
"Jawab!" Agra membentak.
Safira terkejut. "Agina tuan!" Ceplosnya tanpa sadar. 'Maafkan aku Agina!'
Tuan Agra semakin melebarkan seringaiannya.
"Suruh dia kemari! Ada kesalahan dalam berkasnya. Aku ingin berbicara langsung dengannya." Perintah tuan Agra. Safira yang mendengarnya membeku di tempat.
"Kau mendengarku!" Menatap tajam gadis di depannya.
"Baik,akan saya lakukan.'' Safira mengundurkan diri dari hadapan tuan Agra.
"Tuan,anda..,". "Diamlah!" Tuan Agra memotong perkataan sekretaris Ezwar.
"Dengan begini,mau tidak mau,dia tetap harus mendatangiku." Ucapnya. Tuan Agra tertawa nista.
Safira kembali ke ruangan Agina.
"Agina,ada kesalahan dalam berkasnya. Dan tuan Agra ingin bertemu denganmu!" Ucap Safira dengan nada memelas. Ia berdiri di hadapan temannya. Hanya terhalang meja.
Agina menghela nafas. 'Sudah ku duga'
"Jika ada kesalahan,bawa kembali berkasnya. Aku akan memperbaikinya,tidak perlu menemui tuan Agra." Agina masih mengetik di laptopnya.
"Tapi tuan Agra menyuruhmu untuk mendatanginya."
"Safira," Jemarinya berhenti dan menatap temannya tajam. Safira menelan salivanya kasar.
"Baik." Pasrah.
Kembali ke ruangan tuan Agra.
"Apa! Jadi dia tidak mau datang kesini,dan menyuruhmu untuk mengambil kembali berkasnya." Tuan Agra terlihat emosi. Safira diam.
"Kalau dia mau berkasnya,suruh ambil sendiri!" Tuan Agra ketus.
"Tapi..," Perkataannya terhenti. Tuan Agra sedang menatapnya tajam.
__ADS_1
"Baik tuan!" pasrah.
Ruangan Agina.
"Katakan padanya! jika ingin pembangunan jembatannya selesai,kembalikan berkasnya!" Safira pasrah.
Ruangan tuan Agra.
"Dia yang memperlambatkan pembangunnya! Katakan padanya,jika ingin cepat,maka ambil sendiri berkasnya!" Pasrah.
Ruangan Agina.
"Apa susahnya sih! Tinggal memberikan padamu juga. Jangan menghambat prosesnya!"
Ruangan tuan Agra.
"Harusnya dia mengatakannya pada dirinya sendiri! Apa susahnya sih,tinggal datang kemari dan mengambil berkasnya."
Ruangan Agina.
"Ambil dokumennya!"
Ruangan tuan Agra.
"Suruh ambil sendiri!"
Dan perdebatan itu terus berlanjut dengan Safira yang terus bolak balik dari ruangan Agina ke ruangan tuan Agra. Mereka berdua berdebat layaknya anak kecil yang tidak mau mengalah. Dan Safira lah korbannya.
Safira memegang perutnya yang sakit. Cacing dalam perutnya,sudah dari tadi menelpon minta di isi. Waktu makan siang sudah habis dan dia masih sedang mengurus debat pilpres. Memang menguntungkan karena dapat melihat tuan Agra. Tapi ketampanan tuan Agra tidak akan membuatnya kenyang.
Sekretaris Ezwar menatap iba ke arah Safira. 'Turut berduka cita untukmu Safira, yang sabar ya! Karena aku juga pernah mengalaminya' Batinnya.
"Tuan,aku lapar!" Safira memberanikan diri.
"Kalau lapar ya makan! ngapain kau mengatakannya padaku. Seharusnya kau mengatakan pada Agina,bukan padaku! Dia yang sudah membuatnya repot dan bla bla bla....," Tuan Agra terus mengomel. Safira baru tau kalau tuan Agra memiliki sifat seperti ini. Tapi itu tidak berpengaruh pada rasa cintanya.
Ruangan Agina.
Safira terkejut saat melihat beberapa makanan ada di atas meja kerja Agina. Tidak ada kertas dan laptop. Sekarang juga sudah ada dua kursi. Agina mempersilahkannya duduk. Safira menurutinya.
"Makanlah,Kau pasti sangat lapar!" Berkata dengan nada dingin. Tapi Safira dapat merasakan ketulusan di sana. Tanpa berkata apapun,Safira langsung melahap makanannya dan juga Agina.
'Dalam buku diaryku,akan kutulis judul hari ini. Kelakuan Dua Manusia Es!' Safira.
......................
**Kalau suka jangan lupa like ya karena itu sangat berharga buatku.
__ADS_1
TERIMA KASIH SUDAH BACA**!