Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Club


__ADS_3

Haah.. Menghela nafas saat menyadari sudah waktunya ia pergi ke tempat itu. Membereskan berkasnya. Kemudian pergi meninggalkan ruangan dan perusahaan.


Mengendarai motornya pelan. Butuh waktu beberapa menit untuk sampai di tujuan. Dan sampailah dirinya di tempat orang - orang yang haus akan belaian. Agina memarkirkan motornya.


Agina memakaikan topi untuk menutupi wajahnya sebagai penyamaran. Sangat merepotkan, tapi demi membongkar kejahatan seseorang ia harus melakukannya.


Paman, aku akan menjaganya sesuai janjiku padamu.


Kerlab - kerlib lampu di iringi musik memeriahkan pestanya. Di tambah dengan orang - orang yang kehilangan kesadarannya menari - nari melenggokkan pinggulnya. Di sinilah Agina berada, tempat orang melakukan dosa ternikmat.


Tempat yang sangat menjijikkan. Matanya melirik ke arah target yang di carinya. Ia menyeringai mendapati targetnya sedang di pangku pria asin yang ******* bibirnya. Ah, dia teingat sesuatu.


Agra sialan! beraninya kau merebut ciuman pertamaku. Geram Agina tapi setelahnya ia menghela nafas. Tapi aku tidak bisa berbuat apa - apa. Raga dan jiwaku ini adalah miliknya.


Agina duduk sofa yang berada di ujung ruangan. Memilih tempat aman untuk mengamati pasangan yang sudah terbalut nafsu.


"Aku tidak menyangka. Kakakku yang selalu jual mahal, sekarang malah memberikan tubuhnya dengan suka rela demi kepuasan semata." ucapnya.


Memang manusia bisa berubah kapan saja. Itu tergantung kendali atas diri kita sendiri.


Agina mengambil ponselnya dan memfotokannya. "Semoga tidak ada adegan ranjang. Aku tidak mau harus menyusul mereka ke kamar." ucapnya setelah mendapat banyak gambar. Cukup puas dengan hasilnya.


Satu botol bir di mendarat di meja. Agina tersentak akibat suara yang seperti di sengaja agar lebih keras. Ia mendongak melihat wajah yang tersenyum kepadanya.


"Kau terlihat mencurigakan." ujar pria itu sembari mendaratkan dirinya di samping Agina. Agina menggeser ke ujung sofa. Pria itu tampak menyeringai.


"Bisakah anda duduk di tempat lain." Kalimat yang menjelaskan bahwa dirinya tidak nyaman. Tapi pria itu tidak peduli, dia bahkan mendekat ke arah Agina.


"Kenapa? Sofa ini cukup muat untuk dua orang." ucap pria itu. Seketika wajah Agina menjadi suram. Ia tidak suka orang mendekatinya tanpa etika.


"Baiklah, biar saya yang pergi." Ingin berdiri tapi tangannya di cekal dan menariknya duduk kembali. Agina mengibas tangannya melepas pegangan pria itu.


"Bagaimana kalau kita bersenang - senang." ucap pria itu di iringi dengan senyum menggoda. Sudut bibir Agina terangkat sebelah membentuk senyuman miring.


"Oke, tapi aku tidak ingin di sini." balasnya manja tidak kalah menggoda.

__ADS_1


"Apapun keinginanmu sayangku." Aku tidak boleh muntah!. Agina mengangguk.


Agina menarik pria itu dan membawanya ke tempat yang di sediakan di Club. Pria itu semakin melebarkan seringaiannya saat melihat pintu kamar yang akan menjadi tempat mereka melakukan kegiatan panas.


Agina melepaskan tangan pria itu dan mendekati ranjang namun membelakanginya. Pria itu mengunci pintunya dan berjalan mendekati Agina seraya hendak melepaskan kemejanya.


"Tunggu!" Agina menghentikan. Pria itu menghentikan gerakan melepas kemejanya.


"Tenang saja, aku akan membayarmu." Ucap pria itu tidak sabaran. Tubuhnya sudah di selimuti nafsu saat pertama kali melihat Agina. Meskipun wajah gadis itu datar dengan aura dingin di sekitar tubuhnya. Tapi ia tertarik sekaligus penasaran pada tubuh Agina yang di tutupi baju longgar dan celana jinsnya.


"Biar aku saja." Agina berjalan mengdekati. Seketika pria itu tersenyum sinis. Dirinya sempat berpikir bahwa gadis di depannya ini berbeda. Tapi semua wanita sama, sok jual mahal pada awalnya.


Agina mengalung lengannya pada leher pria itu manja. Ia sedikit kesulitan di karenakan tingginya hanya sebatas bahu. Jadi ia jinjitkan kakinya.


"Tuan Kendra Albeto, pemilik hotel yang selalu memuaskan pelanggannya di karenakan wanita yang selalu siap melayani." ucap Agina seraya mengelus rahang tegas itu. Cocok untuk di patahkan!. "Benarkan?"


"Ya kau benar. Aku adalah orangnya." jawabnya penuh percaya diri. "Lalu, apa kau mau salah satu di antara mereka juga di sana?"


"Apa perlu?" Amit - amit!


"Tidak perlu, kau jadi milikku saja." Pria itu mendekatkan wajahnya dengan mata terpejam. Agina tersenyum miring. Dan..


Tuan kendra terpental akibat pukulan di wajahnya. Agina menyapu lengannya seolah membersihkan debu. Menatap dingin pria yang kini sedang berusaha berdiri.


"Kau berani memukulku!" Menyeka darah di sudut bibirnya. Agina menghendikkan bahunya.


"Anda ingin lebih?"


Tuan kendra mengepal tangannya.


"Kau tidak tau, sedang berurusan dengan siapa!" tegasnya sedikit membentak.


"Lalu, apakah anda tau siapa saya?" Agina menggulung rambutnya santai.


"Kau hanyalah salah satu wanita di sini." Berkata dengan angkuh. Tuan kendra berjalan mendekati Agina,tangannya terulur ke pipi.

__ADS_1


Dengan gerakan cepat Agina memegang tangan itu dan memutarnya ke belakang punggung. Satu tangannya mencekik leher tuan kendra.


"Apa yang kau lakukan?" suaranya tertahan akibat gadis itu mencekiknya. Tangan satunya yang bebas telah gadis itu gabungkan dan mencengkramnya kuat.


"Apa anda pernah mendengar moster dari perusahaan Pratama group?" tanya Agina semakin menekan leher. Ia sedikit memperbungkukkan badan tuan kendra.


"Tentu saja. Semua orang mengenal Agina, wanita kejam yang tidak akan segan terhadap siapapun."


"Anda sudah tau bahwa saya kejam, tapi berani mengatakan saya wanita di tempat ini." Tuan Kendra tercekat akan pernyataan Agina. Ia tidak menyangka, gadis yang sudah di ajaknya bermain adalah moster.


"Sa, saya minta maaf, Saya tidak tau kalau itu anda." ucap tuan Kendra gemetar.


"Hei! tidak perlu takut begitu tuan, bukankah kita akan bersenang - senang." Semakin mendekik hingga wajah tuan Kendra memucat. Agina mendekat dan membisikkan tepat di telinga. "Anda tau, kesenangan yang anda pikirkan itu berbeda dengan yang saya pikirkan."


Tuan Kendra menelan ludahnya kasar. Rasanya sangat sulit bernafas.


Agina melepas kedua tangannya. Tuan Kendra mencium lantai. "Aku ingin mencium bibir bukan lantai." Gumam pelan Tuan Kendra. Tapi pendengaran Agina yang sensitif mampu mendengarnya.


Entah mengapa mendengar kata ciuman membuat darah Agina mendidih. Di injaknya punggung pria yang masih tengkurap. "Aduh!" pekik Tuan Kendra.


Kau merebut ciuman pertamaku tuan Agra. Akan kubuat kau kesakitan. Agina menggepal tangannya. Dilihatnya pria yang di bawanya. Matanya menggelap sehingga yang dilihatnya adalah tuan Agra.


Amarah Agina memuncak. Agina menghajar tuan Kendra tanpa ampun. Tapi dalam pikirannya itu tuan Agra.


Beraninya kau membuangku dulu. Saat bertemu kembali kau malah tidak mengenaliku. Dasar laki - laki semua memang sama, hanya mengucap kata - kata tapi tidak ada satupun yang di penuhi.


Puas. Itulah yang di rasakan Agina melihat tuan Kendra pingsan dengan seluruh lebam di tubuhnya.


Itu akibatnya jika kau menyakiti Agra. Isi kepala Agina.


Agina pergi begitu saja. Tidak lupa pada penjaga untuk membawa tuan Kendra ke rumah sakit.


Epilog.


"Tubuhku kenapa sakit semua, rasa seperti habis dipukul." Ucap Agra sembari meraba lehernya sakit.

__ADS_1


......................


Jangan lupa like dan komen ^ _ ^


__ADS_2