
Hujan turun dengan sangat derasnya di sore ini. Air sudah mengenangi beberapa ruas jalan. Bahkan jalan di sepanjang yang akan kulewati, pasti sudah banjir
Mending aku menunda perjalananku, hingga hujan reda dan banjir surut. Aku segera mengirim chat sama mama, mengabari bahwa aku akan pulang terlambat karena hujan dan banjir di beberapa ruas jalan.
Ting! Sebuah notif masuk ke wa ku, mama membalas chatku. Tidak apa-apa pulang terlambat, kalau memang tidak memungkinkan menerobos hujan.
Aku, memutar mobil ke arah sebuah cafe. Sambil menunggu hujan reda, aku menikmati dulu secangkir kopi. Suasananya pas di saat hujan begini.
Kusesap kopi sesendok demi sesendok. Rasa hangat menjalari kerongkonganku dan berefek kesekujur tubuhku. Nikmatnya rasa kopi serta harum aromanya begitu menyegarkan. Di dampingi manisnya bolu lapis legit, rasanya membuatku betah duduk menunggu hujan reda.
Rinai hujan bak jarum yang berjatuhan dari langit, sukses membuat langkah beberapa orang mampir di cafe ini. Menjadi rejeki bagi pemilik cafe, tapi bisa menjadi kesialan bagi pedagang kaki lima di pinggiran jalan. Karena terpaksa menutup lapaknya sebelum waktunya.
Orang-orang yang tengah bersiliweran dijalan juga tak berdaya. Ada yang kalangkabut mencari perhentian untuk berteduh, ada yang nekad juga menerobos hujan.
Seperti diriku yang terjebak hujan, terpaksa mampir di cafe ini, karena tidak ingin menanggung resiko terjebak dalam.banjir.
Kubuka gawaiku, untuk sekedar mengalihkan kebosanan. Kuscroll beberapa berita yang lewat berandaku. Ternyata semua itu tak menarik bagiku, hingga aku menutup kembali gawaiku.
Saat aku mengalihkan mataku ke jalan besar di seberang cafe ini, aku melihat langkah seseorang yang barusan keluar dari sebuah mobil. Orang itu, Hans! Sejenak aku merasa tak tenang. Orang yang paling ingin kuhindari saat seperti ini adalah Hans. Aku enggan untuk sekedar berbasa basi. Semoga saja dia tidak melihat keberadaanku disini.
Dibelakang Hans, aku melihat seseorang menyusul langkah Hans, Bibi Elis! Deg! Aku sangat terkejut melihat itu. Aku berharap mereka tidak melihat keberadaanku disini. Satu, dua, tiga detik berlalu, mereka tidak muncul juga. Aku merasa sedikit lega, karena mereka tidak mampir ke cafe tempatku berada.
Namun, rasa ingin tahuku tak bisa kutahan. Aku segera beranjak dari kursi dan mencari keberadaan Hans dan Bi Elis. Ternyata mereka di cafe sebelah. Aku melihat mereka dari sela-sela pembatas. Mereka bicara begitu serius, entah apa yang mereka bahas. Sayang, aku tak bisa mendengar pembicaraan mereka.
Entah apa yang harus aku lakukan, agar bisa mendengar percakapan mereka. Jelas, aku tak bisa kesana, Hans, dan Bi Elis akan melihat kedatangannku. Sementara aku ingin tau sekali pembicaraan mereka.
Tiba-tiba aku melihat seorang pemuda sedang duduk sendirian, juga tengah menunggu hujan reda. Tak kehilangan akal, aku mendekatinya dan kuutarakan maksudku.
"Dek, bisa minta tolong, gak?"
"Minta tolong apa, mbak?" sahutnya keheranan karena kami tidak saling kenal. Kuutarakan maksudku, agar dia mau merekam keberadaan Hans dan Bi Elis. Sejenak dia ragu, dan memandang kearah Hans dan Bi Elis.
"Aku mohon, dek, tolonglah mbak. Itu suamiku dan perempuan itu entah siapa.Aku sudah lama curiga pada mereka," ucapku memelas. Akhirnya dia mau juga menuruti kemauanku. Dengan berpura-pura sedang meliput sesuatu, lalu duduk persis dibelakang tempat duduk Hans dan Bi Elis.
Selang beberapa saat, Hans dan Bi Elis, pergi. Dengan cemas, aku menunggu rekaman itu.
__ADS_1
"Ini, mbak, hasil rekaman vidionya." Aku menerima pemberian lelaki itu.
"Terimakasih, dek," ucapku lalu menyematkan beberapa uang kertas ke tangannya.
"Eh, apa ini Mbak, tidak usah." Tolaknya halus, tapi aku bersikukuh memberikan uang itu. Akhirnya dia menerima juga, dan mengucapkan terimakasih padaku.
Hujan sudah mulai reda, aku memanggil pelayan cafe untuk membayar pesananku. Setelah itu aku bergegas pulang. Aku penasaran dan ingin tau apa isi rekaman itu. Sesampainya di mobil, aku keluar dari area parkir dan membelah jalanan yang masih basah.
Aku memasang headset untuk mendengar isi vidio itu. Terdengar beberapa percakapan yang isinya tidak begitu penting. Aku terus mendengarkan dan menyimak, hingga aku kaget akan isi vidio itu.
Aku menepikan mobil, agar bisa lebih konsentrasi menyimak rekaman itu. Kuputar ulang lagi.
"Hans, apalagi sih, yang kalian tunggu. Masak memindah tangankan perusahaan itu, kalian masih muter-muter. Kapan finishnya, jangan sampai Handoko tau kalau Luke bukan Arby yang sebenarnya," nada suara Bi Elis terdengar kesal.
"Sabar, tante. Handoko itu bukan orang bodoh. Kalau kita buru-buru dia bisa curiga. Banyak proses yang harus dilalui. Jika kita bertindak gegabah, rencana kita bisa hancur berantakan."
"Iya, tapi sampai kapan. Menunggu mereka mencurigai Luke?"
"Apa tante pikir, semua ini semudah membalik telapak tangan. Tender itu baru akan dibuka bulan depan. Tante sabar dulu, rencananya tinggal setahap lagi. Saat Handoko memenangkan tender itu, Luke akan mengalihkan sejumlah dana operasi. Handoko tidak akan sadar telah memindahkan seluruh hartanya. Sementara tender itu tender bodong. Saat Handoko sadar, kita sudah jauh menghilang."
Astaga, mengerikan sekali mendengar rencana jahat mereka itu. Ternyata Hans, Luke, dan Bi Elis sekongkol untuk menghancurkan papa. Merinding aku mendengar semua pembicaraan itu.
Aku harus beritahukan ini sama papa dan mama. Papa tidak boleh lengah, papa harus tau kalau saudarinya masih saja berusaha menghancurkannya.
Segera aku melajukan kembali mobilku, agar cepat sampai di rumah. Aku tidak sabar untuk membicarakan semua ini dengan papa.
Tiba-tiba gawaiku berdering, aku melihat panggilan dari Dion. Kembali aku menepikan mobil.
"Halo say," sapaku.
"Kamu di mana? Sudah sampe di rumah, gak?"
"Ini masih di jalan, bentar lagi nyampe. Tadi aku mampir karena takut terjebak banjir," ucapku merinci keberadaanku.
"Ada sesuatu.yang penting, hendak aku sampaikan. Gimana kalau kamu balik arah lagi, aku sedang di hotel X jaraknya gak jauh kok dari tempatmu,"
__ADS_1
"Oke, aku putar balik sekarang. Aku sudah meluncur, ya."
Jarak yang kutempuh tidak sampai 10 menit. Begitu aku sampai, aku melihat Dion telah berdiri di gerbang gapura menyambutku. Setelah memarkirkan mobil aku bergegas mengahampiri Dion. Kulihat wajahnya nampak serius, sebegitu pentingkah hal yang akan dia sampaikan?
"Hai," sapaku ketika tiba di depannya. Dion menyambutku dan menggandeng lenganku.
"Sudah makan malam? Tadi aku menelepon ke rumah tante bilang kamu belum pulang."
"Iya, aku tadi ngasih tau mama, akan terlambat pulang karena terjebak hujan."
"Kita makan dulu, atau sambil makan aku cerita."
"Aku barusan ngopi, jadi masih kenyang." ucapku.
"Sedikit saja, sambil menemaniku. Aku sudah memesan makanan kesukaanmu. Mubazir kalo gak diicip-icip."
"Oke." aku mengikuti langkah Dion ke sebuah meja. Disana telah terhidang makanan, ditata dengan apik, tak lupa sebuah lilin merah menyala. Juga setangkai mawar merah disisi lilin. Aku jadi mereka-reka apa yang akan disampaikan Dion padaku.
Kupikir khabar yang akan kudengar ada hubungannya dengan Arby. Akan tetapi saat melihat meja yang ditata dengan apik, dan suasana romantis yang bergelayut, haluku jadi mengembara jauh.
"Silahkan duduk," Dion menarik kursi untuk kududuki. Lalu dia menarik kursi untuk dirinya sendiri.
"Sepertinya ini undangan spesial ya?" tanyaku mencoba menebak.
"Hem, boleh jadi. Sengaja aku tadi minta dibuat begini. Kamu suka, ya?" ucapnya seraya menatapku penuh intens. Ditatap seperti itu membuatku jengah juga.
"Ih, ngapain sih, menatap begitu. Ada yang aneh dengan wajahku, ya?"
"Kamu semakin cantik saja setiap harinya," gombalnya seraya mengedipkan sebelah matanya.
"Lebay. Cantik apaan, yang ada ya, makin menua." cebikku.
"Terserah, dipuji malah bilangin lebay," ucapnya pura-pura ngambek.
"Kamu mau bilangin apa sih ke aku, sepertinya serius?" alihku.
__ADS_1
"Kita makan dulu, baru bicarakan yang lain, oke?" ucap Dion penuh misteri. Membuatku semakin penasaran karena tidak bisa menebak kearah mana pembicaraan ini.*****