
"Kamu punya hubungan apa dengan Pak Tara?" tanya mama menatapku lekat.Setelah Dion pulang bersama Raisa. Aku terdiam beberapa saat, mengumpulkan kata demi kata untuk menjelaskan sama mama.
"Kami berteman, Ma. Dulu, semasa sekolah dia adalah kakak kelasku."
"Bukan itu yang mama maksud. Kamu ada hubungan khusus ya, sama Tara. Dari pancaran matanya, mama melihat kalau kalian tidak sekedar berteman."
"Dion, melamar Reny, Ma, tapi Reny belum menerimanya. Reny masih butuh waktu, untuk itu Ma." ucapku perlahan. Mama menghela napas panjang.
"Kenapa? Kamu meragukan Tara?"
"Bukan, Ma. Reny tau Dion itu baik dan bisa ngemong. Terutama sama Devan dan Mitha. Hanya saja, Reny tak ingin terlalu cepat membuka hati Reny setelah perceraian itu, Ma." jelasku.
"Hem, tidak apa-apa. Kamu memang harus berpikir matang, karena ini menyangkut masa depanmu. Mama hanya bisa mendukung, karena kamulah yang lebih tau mana yang terbaik buat masa depanmu. Dion itu anak yang baik, dia adalah putra dari sahabat papamu.
Sebenarnya kami sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Sejak kematian istrinya, dia lebih menutup diri pada wanita. Padahal dia masih muda dan banyak wanita yang mengincarnya. Entah apa alasannya dia menolak semua wanita- wanita itu. Padahal tidak mudah mengasuh seorang bayi ditengah kesibukannya sebagai seorang pengacara." jelas mama soal kehidupan Dion.
Aku membayangkan perjuangan Dion dalam mengasuh putrinya Raisa, meski dibantu oleh pengasuh. Kedua orang tuanya telah meninggal saat dirinya masih berjuang di bangku kuliah. Karena itulah kenapa papa yang membiayai kuliah Dion sampaii selesai, dan bekerja dengan papa sebagai staf ahli hukum.
Seperti kata mama kalau keberadaan Dion sudah seperti anaknya saja, memang sangat jelas terlihat. Bahkan orang yang sebelumnya tidak kenal papa dan Dion pasti menduga kalalu mereka adalah bapak dan anak. Karena jarak antara mereka sangat tipis, hanya panggilan papa yang membuat mereka berbeda.
Papa lebih akrab menyapa Dion sebagai Pak Tara. Sedangkan aku lebih suka menyebutnya, Dion. Nama yang sudah aku kenal sejak masa sekolah dulu.
Dion pernah cerita dia lebih suka memperkenalkan dirinya dengan nama belakangnya saja, Bimantara, dengan panggilan, Tara. Ketimbang menyebut nama lengkapnya.
Setelah kejadian pahit yang menimpa keluarga mereka, cukuplah orang-orang terdekatnya saja yang menyebut namanya, Dion. Bukan berarti dia hendak menghapus nama itu, tapi lebih ingin melupakan masa pahit itu saja.
*****
Pagi menyapa cerah!
Dengan langkah ringan aku menyusuri loby menuju ruanganku. Saat melintasi meja resepsionis, kedua gadis manis itu tersenyum- senyum menyapaku.
"Pagi, Bu Reny," sapa salah satu dari keduanya.
"Pagi juga," ucapku. Senyum keduanya makin merekah, aku mengernyitkan dahiku. Senyum itu sepertinya sebuah isyarat, senyum menggoda.
Kuhampiri meja mereka.
"Pantasan di luar sangat cerah, ternyata adu dua Dewi yang lagi kasmaran," godaku.
"Ih, ibu nyindir kita karena masih jomblo, ya. Mentang-mentang ibu lagi dijatuhi cinta," kekeh keduanya. Senyum dan kerling mata mereka makin menggoda.
__ADS_1
"Lha, siapa yang nyindir, buktinya wajah kalian cerah secerah pagi ini," lanjutku lagi.
"Itukan, karena kecipratan dari, Ibu. Buktinya siapa yang sedari tadi dapat kiriman buket bunga, iyakan?" ucap Dewi menowel rekannya.
"Buket bunga? Dari siapa mau sama siapa?" tanyaku bingung.
"Ih, Ibu Reny kura-kura dalam perahu, nih," kekeh mereka lagi.
"Ibu dapat buket bunga? Dari siapa?" ulangku lagi.
"Tadi aku baca sih, pengirimnya.... Hem, aku lupa, Bu. Mending Ibu bergegas ke ruangan ibu aja deh, paketnya kan udah di sana." Senyum ke dua Dewi ini benar-benar misterius.
"Ya, udah Ibu masuk dulu," ucapku penasaran. Tawa renyah mereka mengiringi langkahku sepanjang koridor. Tiba di depan pintu ruanganku, aku melihat tidak ada yang aneh. Meja Ines sekretarisku masih kosong, mungkin dia belum masuk atau tengah ada urusan ke ruangan lain.
Aku mendorong daun pintu ruanganku secara perlahan. Aroma wangi bunga mawar langsung menerpa hidungku. Di atas meja kursi tamu tergeletak buket bunga, besar. Ada tiga buket, sehingga aroma bunga itu menguar di seisi ruangan.
Mataku menelisik setiap sudut ruangan, mungkin Dion sedang sembunyi di salah satu sudut. Namun, aku tak menemukan sesiapapun. Karena Dionlah target dugaanku satu-satunya yang mengirimi buket bunga itu.
Selain sekretarisku, Ines, hanya Dionlah yang leluasa keluar masuk ruang kerjaku. Karena tak menemukan tersangka, pengirim bunga. Aku membaca label nama sang pengirim.
"Untuk Reya, dari Hans." Seketika jantungku bertalu tak karuan. Hanya seorang makhluk di bumi ini yang memanggilku, "Reya".
Hans! Bisa-bisanya dia mengirimkan buket bunga ini untukku. Setelah bertahun-tahun menghilang, dan tak pernah ada kabar beritanya. Tetiba hari ini aku menerima kiriman buket bunga atas namanya.
Entah, dimana dia selama ini dan dari mana dia tahu tentang diriku. Kenapa kiriman itu muncul di kantor, bukan di rumah.
Nada dering ponselku berbunyi, saat aku melihat nomor asing di layar monitor segera kumatikan.
Aku paling emoh, menerima panggilan dari nomor yang tidak kukenal apalagi tanpa foto profil.
Panggilan itu aku tolak, tapi segera berbunyi lagi. Kutolak lagi, kembali lagi berdering. Sungguh tak sopan.
"Halo! Dengan siapa ini?" tanyaku jutek. Akhirnya aku menerima juga panggilan itu, karena kesal.
"Halo Reya," terdengar suara bariton di seberang sana, ciri khas suara Hans.
"Maaf, anda salah sambung," gerutuku judes, dan mematikan ponselku. Entah untuk apa dia menghubungiku lagi. Seharusnya dia tak melakukan ini, setelah apa yang dia lakukan padaku bertahun-tahun lalu.
Ah, kenapa dia muncul tiba-tiba begini? Aku sudah melupakannya dan tak ingin berurusan tentang apapun dengannya lagi. Cerita tentang kami sudah ditutup, beberapa tahun silam. Tidak ada hal apapun yang akan membuat kami terhubung lagi.
Suara ketukan pintu menyentakkan monolog hatiku tentang Hans. Sosok Dion yang menjulang terbingkai di pintu. Aku merasa terperogok saat kornea matanya menangkap sesuatu di atas meja.
__ADS_1
"Sepertinya kedatangan tidak, tepat," ucap Dion ragu, saat melihatku yang serba salah.
"Masuklah." sambutku sewajar mungkin.
"Kamu dapat hadiah dari siapa?" tanya Dion seraya mengambil satu buket bunga. Dion membaca nama pengirim, keningnya mengernyit.
"Ini nama kamu?" aku mengangguk. Aku akan jujur pada Dion tentang siapa pengirim buket bunga itu.
"Bukannya nama kamu, Reny. Ini kok, Reya?"
" Dia lebih suka memanggil namaku seperti itu."
"Owh, so sweet," senyum lebar menggoda mengembang di bibir, Dion.
"So sweet apaan sih, " aku merampas buket bunga itu dari tangan Dion. "Nes...."panggilku pada sekretarisku. Ines segera muncul di pintu.
"Ada apa, Bu?"
"Tolong, singkirkan bunga-bunga ini," ucapku.
"Kok disingkirkan, sayang kan. Pajang saja di sini,"
"Buat apa, malah bikin sesak," ucapku mangkel. Dion ketawa ngakak melihat ulahku. Sementara aku sangat dongkol karena dia terus menggodaku.
"Bikin cemburu aja, siapa sih dia, berani-beraninya ngirimin cewek gua bunga," ucapnya konyol.
"Kamu nanya?" ucapku.
"Gak! Aku cuma bertanya." kekehnya lalu mengusap pucuk kepalaku. "Harusnya senang dong, dapat kiriman bunga. Ini malah merepet."
"Tergantung siapa yang ngirim. Kalau dari mantan, ogah," ucapku. Tawa Dion makin meledak saja mendengar ucapanku.
"Dari mantan, toh. Mantan terindah, ya?"
"Ah, udah deh, gak usah bahas itu lagi. Bikin keki."
"Bisa patah hati dong, sang mantan."
"Udah, jangan bahas itu lagi. Kayak anak kecil saja." Kujatuhkan tubuhku duduk di dekatnya, Dion meraih tubuhku dalam pelukannya.
"Bisa gawatlah ini, ternyata aku punya saingan juga," ucapnya masih menggoda. Tak ayal lagi aku mencubit pinggangnya. Dion, mengaduh kesakitan, tapi aku tau itu cuma akal bulusnya saja.
__ADS_1
Jauh di dasar hatiku, masih bertanya-tanya tentang Hans. Bukan karena aku masih menyimpan hati untuknya. Aku merasa aneh saja, kenapa bisa dia muncul tiba-tiba dalam kehidupanku kembali. Setelah bertahun-tahun menghilang? *****