
Dentang lonceng gereja bergema. Mengawali acara hari ini, dimana hari ini adalah hari paling bersejarah bagiku dan Dion. Hari ini kami akan melaksanakan pernikahan kami.
Setelah mendapat restu dari kedua orang tuaku, Dion melamarku. Juga, karena aku telah memutuskan dalam hatiku untuk memulai lagi hidup baru.
Aku yakin tidak akan salah memilih lagi jodohku kali ini, dan berharap Dionlah pelabuhan hatiku yang terakhir.
Dengan senyum menghiasi bibirku aku melangkah memasuki pelataran gereja. Tempat dimana aku dan Dion akan menerima pemberkatan pernikahan.
Kami melangkah sambil bergandengan tangan menuju altar. Senyum sumringah tak lepas dari bibir kami. Kami yang menjadi pusat perhatian hari ini, tak urung membuatku grogi juga. Karena puluhan pasang mata begitu fokus ke arah kami.
Diiringi musik dan lagu pengantar langkah kami menyusuri karpet merah menuju altar. Tamu undangan yang menyaksikan hari bersejarah ini, duduk dengan tertib mengikuti setiap proses pemberkatan.
Dion nampak gagah dengan stelan jasnya berwarna coklat susu. Begitu serasi membungkus tubuh jangkungnya. Aku mengenakan kebaya panjang dari bahan brokat semi prancis, warna putih tulang. Kebaya yang dipadu dengan songket tenunan tradisional dengan warna senada jas Dion. Kedua sisi pinggangku disematkan slayer yang menjuntai panjang menyapu lantai keramik gereja. Sedang slayer penutup kepalaku juga menjuntai hingga ke lututku. Tiara yang bertabur mutiara menghias kepalaku, menambah anggun penampilanku
Begitu juga dengan kebaya panjangnya bertabur payet dan berbagai batu permata, menampilkan kemewahan penampilanku. Membuatku makin percaya diri.
Tiga bocah pengiring sang pengantin juga tak kalah ganteng dan cantik. Mereka adalah Devan, Mitha, dan Raisa. Kedua anakku dan anak Dion.
Pengantin dan pengiring pengantin serta sang pendamping, beriringan masuk ke dalam gereja dan menuju ke altar.
Didampingi kedua orang tuaku dan orang tua penggati untuk mewakilkan kedua orang tua Dion, kami sang mempelai dibimbing kehadapan Pastor untuk memberkati pernikahan kami.
Pastor mengambil sumpah setia, sehidup semati untuk menjalani mahligai pernikahan kami di dalam berkat Tuhan.
"Saudara Dion Bimantara, bersediakah saudara menjadikan Reny Theresa, menjadi pendamping hidup saudara dalam susah dan senang untuk selamanya"
"Ya, saya bersedia," jawab Dion, tegas dan pasti. Sepertinya tidak ada keraguan dinada suaranya.
"Saudari Reny Theresa, bersediakah saudari menjadikan Dion Bimantara sebagai pendamping hidup saudara dalam susah dan senang untuk selamanya"
"Ya, saya bersedia," jawabku dengan nada bergetar. Aku berusaha menahan air mata agar tidak sampai jatuh ke pipiku.
Lalu Pastor memberikan berkatnya, dan menyatakan kami telah sah menjadi pasangan suami istri.
Dengan haru papa dan mama memelukku dan menantunya, Dion.
Usai pemberkatan di gereja, acara resepsi diadakan di gedung serba guna. Tempat dimana jamuan makan serta acara yang berkaitan dengan pesta pernikahanku akan dilakukan.
__ADS_1
Para tamu undangan sudah berdatangan. Bergantian menyalami kami sang pengantin, mengucapkan selamat dan memberi doa supaya kami bahagia selalu dalam mengarungi rumah tangga kami.
Diantara tamu-tamu yang hadir, aku melihat juga emak-emak sahabatku dulu semasa tinggal di kampung. Bu Rani dan yang lainnya. Aku sengaja, secara khusus mengundang mereka. Biaya transport mereka aku yang fasilitasi. Karena aku ingin mereka turut mendoakan aku, Aku juga tidak lupa mengundang Sofi sahabatku.
"Selamat, ya. Akhirnya, berhasil juga kamu memikat hati duda karatan itu," bisik Sofi di telingaku. Membuatku tertawa.
"Apaan sih, bisik-bisik segala," protes Dion.
"Rahasia perempuan, gak usah kepo," sahut Sofi. Derai tawa Sofi membuat Dion gemes sama saudara sepupunya itu.
..."Awas kamu nanti, ya," ancamnya bercanda. Sofi malah meleletkan lidahnya....
"Selamat ya, bu Reny. Semoga bahagia dan langgeng sampai tua," ucap bu Rani seraya memelukku.
"Terimakasih ya, Bu Rani. Jauh-jauh sudah datang, memberi selamat untuk kami," ucapku serta menyalami yang lainnya.
"Sekalian piknik, lo Bu. Jarang-jarang kita diundang difasilitasi. Ngerasa seperti orang penting saja," kelakar ibu yang lain.
"Ssttt! Jangan buka kartu lo, bu. Ntar ada yang dengar, kan malu," timpal yang lain.
Aku tak dapat menahan senyum dan tawaku mendengar celotehan para emak-emak kawanku dulu. Bagiku mereka telah seperti saudara. Disaat dulu mereka selalu ada mendampingiku setiap ada masalahku. Tak pernah membullyku, atau mengejekku.
Aku melirik ke arah Dion, dia juga tak dapat menahan senyumnya. Apalagi saat dia dikeroyok untuk foto bersama, minus aku.
"Maaf bu Reny, suaminya kami culik dulu, buat foto kenangan." celetuk mereka heboh. Dasar Dion memang sableng, mau-mau saja menuruti kegokilan emak-emak itu. Aku di anggurin, menatap mereka dengan wajah yang dibuat memelas.
Puas mendaulat Dion foto bersama, barulah aku diajak. Huh! Sebal juga dengan ulah mereka. Aku pura-pura cemberut.
"Sabar, bu Reny. Suaminya dah kami kembalikan, peluk aja nih sepuasnya," kelakar mereka makin gokil.
"Udah ya, emak-emak pengantinnya kita kembalikan ke panggung. Soalnya, masih banyak tamu yang berdatangan. Emak-emak silahkan menikmati hidangan dulu, sepuasnya," Sofi datang menyela, menyelamatkanku dan Dion dari keroyokan emak-emak sahabatku.
"Teman-teman kamu itu lucu, tapi mereka akan lupa waktu dan situasi kalau gak diingatkan," bisik Sofi ke telingaku. Aku hanya tersenyum. Terus terang saja aku masih ingin lebih lama bercanda dengan mereka. Namun seperti yang dibilang Sofi kami akan lupa waktu dan situasi.
*****
Usai resepsi pernikahan, Dion langsung memboyongku ke sebuah apartemen miliknya. Sengaja dia membawaku kesana, biar bebas dari segala gangguan katanya. Anak-anak dititip sama papa dan mama.
__ADS_1
Seperti anak gadis perawan saja, malam ini hatiku berdebar juga. Suasana kamar yang sengaja ditata semenarik mungkin, membuatku sedikit kikuk. Lampu redup warna warni, membuat suasana kamar nampak syahdu.
Di atas ranjang taburan bunga mawar merah begitu kontras dengan sprei putih. Aku berbaring di atas ranjang. Bersikap rileks, dari ketegangan yang merayapi hatiku.
Suara guyuran air di kamar mandi terdengar, sayup. Dion sedang mandi, aroma sabun yang dia gunakan perlahan membuatku merasa tenang.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Muncul sosok Dion setengah telanja**. Hanya berbalut handuk. Tubuhnya nampak basah, air dari rambutnya masih menetes membasahi dadanya yang bidang.
Ak menutup mataku, pura-pura tidur. Karena rasa tegang kembali merayapi segenap hatiku. Dion memakai kimononya dan naik ke tempat tidur. Karena berat tubuhnya, ranjang bergoyang.
Aku semakin menutp mataku, saat aku merasakan hembusan napas menerpa leherku.
"Kamu sudah tidur, ya?" tanyanya. Seraya membalikan tubuhku menghadap padanya.
"Sudah selesai mandinya?" tanyaku pura-pura mengucek mataku.
"Belum," candanya.
"Lama amat sih, mandinya. Kek mandi perempuan saja," ejekku.
"Emang kenapa? Dah gak sabar, ya?" ucapnya salah paham.
"Eh, bukan itu," seruku malu karena dia salah paham. Maksudku memang, dia mandinya lama sekali. Sedang aku perempuan gak sampai sepuluh menit dah selesai.
Pantasan tubuhnya wangi sekali, entah apa saja yang dia pakai. Aromanya begitu menyegarkan.
Tiba-tiba Dion menundukkan kepalanya ke arahku. Pandangan matanya begitu sayu. Aku menegang, deru napasku terdengar berpacu. Saat wajah Dion tinggal beberapa inci dari wajahku.
Aku memejamkan mataku, saat aku merasakan mu*** Dion menindih bib****. Perlahan mulai melu**tku, memberi sensasi luar biasa. Napasku terengah, saat ciu*** itu begitu dalam menuntut.
Perlahan aku mulai terangsang dan membalas pagut*****. Juga ketika tangan nakalnya mulai bergerilya menelusuri setiap lekuk tubuhku.
Malam itu kami menyatu, dan terhempas dalam lautan g**rah. Berpacu dan berpacu hingga tiba di puncak kenik*****.
Rasaku yang hilang selama ini, seolah kembali lagi. Sebuah rasa yang ingin kunikmati. Mengecap kembali rasa bahagia yang pernah hilang dalam hidupku.
Yah, ingin kunikmati kembali rasa bahagia ini, selamanya. Tamat.
__ADS_1