Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 77


__ADS_3

"Aku tengah serius melihat layar laptop, menyimpan beberapa data penting ketika ponselku berdering. Aku lihat nama papalah yang tertera di layar.


"Halo, ada apa, Pa?" sahutku.


"Kamu datang dulu ke ruangan, Papa."


"Oke, Pa." Aku menonaktifkan laptop dan bergegas ke ruangan Papa.


Setelah mengetuk pintu lebih dahulu, dan ada sahutan menyuruh masuk aku mendorong pintu. Kulihat Papa tengah asyik.berbincang dengan Dion di kursi tamu.


"Nah, itu Reny sudah datang," ucap Papa menyilahkan aku duduk. Dion melemparkan senyumannya padaku, yang kubalas dengan anggukan.


Begini, Reny, Papa ada tugas buat kamu."


"Tugas apaan, Pa?" tanyaku sedikit heran. Tak biasanya Papa memberi tugas lagi setelah aku memegang satu anak perusahaan papa.


"Besok, kamu pergi menghadiri undangan sebuah rumah sakit di luar kota. Selama ini papa adalah salah satu donaturnya. Kamu saja yang mewakilkan papa bersama Dion."


"Saya Om?" tanya Dion agak kaget.


"Iya, kamu. Apa kamu keberatan mengawal, Reny?"


"Gak, Om, takutnya Reny yang gak mau, aku kawal," seloroh Dion sambil mengerling nakal menggoda ku.


""Oh, ya? masak sih, putri saya menolak pangeran setampan kamu? Pasti ada yang gak beres ini," gurau papa, menyahut candaan Dion.


Aih, apa-apaan ini dengan papa, kok bisa-bisanya setali tiga uang dengan Dion.


"Tampan dari mananya, Pa. Biasa aja tuh, entah dari sudut pandang mana, Papa, melihat," sambutku sekalian. Bisa kegeeran tuh cowok, dipuji papa begitu.


"Dasar tukang sirik, diamini saja kenapa sih? Gitu aja pelit," tiba-tiba Dion mengucek lembut rambutku. seperti kebiasaannya pada Raisa. Deg! Apa gak nyadar Dion bertingkah begini, mana dihadapan papa lagi. Tapi anehnya aku gak marah, malah merasa senang seolah dimanjakan.


Papa juga sepertinya gak terganggu dengan kelatahan Dion, sebaliknya malah tersenyum menggodaku.


"Apaan sih, mengacaukan rambutku," protesku pura-pura sebal seraya merapikannya seolah udah berantak sakali. Yang sebenarnya aku salting dihadapan kedua pria dewasa ini.

__ADS_1


"Akunya malah merapikan, bukan mengacaukan," kelit Dion. Papa malah tertawa melihat tingkah kami. Lepas sekali tawanya, belum pernah aku mendengar tawa papa seperti itu sejak aku hidup bersamanya.


"Sudah, sudah. Kok malah berantam. Kalian membuat papa cemburu saja. Teringat masa muda dulu." kekeh papa. "Oh, ya Tara, jangan lupa mampir ditempat yang om ceritakan itu. semoga sukses disana," ucap papa lagi. Aku curiga dengan ucapan papa. Sepertinya ada rencana terselubung dibalik kepergian kami ke luar kota.


"Reny, kamu bersiap-siap saja. Biar sekretaris papa yang menghandle tugas kamu."


"Baiklah, Pa. Aku permisi dulu." Aku beranjak dari kursiku, diikuti Dion juga.


"Eh, Om, aku juga kayaknya beres-beres dulu, nih." seru Dion. Papa menyilahkan sambil senyum- senyum. Ada apa sih dengan papa, keknya bahagia kali. Entah apa saja yang mereka rencanakan dibelakangku.


Ah, peduli amatlah! Bagaimana bisa aku membaca benak mereka, mereka-reka apa yang akan Dion dan papa lakukan.


Perjalanan ke luar kota yang disebut papa, ternyata cukup melelahkan juga. Semalam suntuk aku harus terjaga. Tak bisa tertidur di mobil. Kami berangkat bertiga dengan supir. Pantasan Papa mengutusku menghadirinya. Tapi biasanya juga orang kercayaannyalah yang melakukan tugas ini.


Entah kenapa kali ini papa menyuruhku mewakilkannya. Alasannya, pemilik rumah sakit itu adalah sahabatnya. Jadi merasa tak enak, jika bawahannya yang lakukan.


Aku melirik Dion yang tengah memeriksa lalptopnya. Sudah lebih satu jam dia berkutet dengan laptop itu.Sepertinya dia mengusir jenuh atau apa. Namun dari ekspresinya aku liat tengah serius bekerja.


Dion mungkin mengira aku tengah tidur. Padahal meski mataku terpejam, aku sama sekali tidak bisa tidur.


"Gak bisa tidur ya, Reny?" tanya Dion tiba-tiba. Kupikir dia tidak memperhatikanku. Kulihat dia menutup.laptopnya.


Dalam hati aku respek atas kepeduliannya itu. Tidak asyik sendiri dengan benda elektronik itu.


"Aku masih bingung, kira-kira sedekat apa papa dengan pemilik rumah sakit itu, sampai kita bela- belain ke sana," gerutuku.


"Sangat dekat," Dion mendekatkan jari jempol dan telunjuknya hampir bersentuhan. Sambil tersenyum menatapku.


"Masih kurang dekat," dengusku, karena jawaban Dion penuh dengan simbolik.


"Apa harus di sini," jawabnya seraya menangkupkan telapak tangannya di dadanya yang bidang. Senyumnya masih saja melekat, seolah menyindirku.


"Huh! Makin jauh malah," dengusku. Dion mendelik dengan sorot matanya setajam mata elang. Seakan hendak menerkamku bulat-bulat.


" Kok, makin jauh bukannya makin dekat," ucapnya.

__ADS_1


"Ya, makin jauhlah jaraknya, dari yang segini," aku menirukan yang dia peragakan dengan jarinya. "Dari pada yang ke sini," lanjutku dengan menepuk dadaku. Dion terpingkal keras, mendengar ucapanku. Sampai supir kami menoleh kebelakang, mungkin kaget mendengar suara tawanya.


"Oalah, Reny, Reny. Iya, deh kali ini kamu menang. Lain kali kamu akan aku balas," ledeknya masih dengan sisa tawanya.


Apa yang salah dengan ucapanku. Bukannya aku ngomong yang benar? Ih, aneh-aneh saja Dion , malah mau balas dendam segala denganku gimana, sih? Salahku di mana coba?


"Wajah kamu itu lo, Reny, masih saja ngeles pengen di tampok aja," kelakar Dion lagi karena katanya aku serius banget menanggapi candaannya. Wajahku langsung memerah seperti kepiting rebus.


" Aku juga 'kan bercanda. Situ aja yang yang baper," sindirku. Alhasil kejadian kemarin terulang lagi. Dion kembali mau mengacaukan rambutku. kali ini aku mencoba berkelit, tapi terlambat. Tangan kekarnya telah lebih dulu menjangkau kepalaku. Mengusapnya gemas, dan menariknya ke sisi bahunya menyandarkan kepalaku.


...Lagi-lagi hatiku menggeletar atas perlakuannya. Tangannya masih terus menahan kepalaku di bahunya, sepertinya akupun merasa nyaman dan lupa protes atau menolak. ...


"Cobalah untuk tidur, perjalanan kita masih jauh," ucapnya perlahan. Seperti anak kecil, aku menurut saja. Kupejamkan mataku yang sudah terasa berat sejak tadi. Entah, sudah berapa lama aku tertidur rasanya badanku terasa kaku.


Saat aku buka mataku, ternyata posisi tubuhku tidur telah berubah. Kalau tadinya posisiku duduk dan bersandar ke bahu Dion, kini aku mendapaptkan tubuhku terbaring dan kepalaku berbantal pahanya.


Aku hendak duduk, tapi urung saat melihat Dion yang tertidur dengan.posisi duduk. Aku takut, akan mengganggu tidurnya. Pelan, aku menggeliat, berharap Dion tidak terbangun.


"Selamat pagi, Reny," ucapnya mengagetkan aku. Sampai tubuhku terlojak karena kebetulan jalan bergelombang, hingga kepalaku jatuh kembali kepangkuannya.


Spontan, Dion menyangga kepalaku agar tak terantuk ke sandaran kursi di depanku.


Hampir saja aku.mengumpat, tapi sudah keduluan, Dion.


"Kenapa, Adit?"


"Ada kucing nyeberang, Pak!"


"Ya, udah hati-hati dan tetap fokus."


"Iya, Pak. Maaf."


"Ya, udah."


"Kamu tidak apa-apa Reny?" Dion mengalihkan matanya kearahku yang sudah kembali duduk di sisinya.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak apa-apa, kok." sahutku jengah karena terperangkalp beberapa saat dalam netranya. "Sebentar lagi kita sampai. Karena acaranya siang, kita masih punya waktu beberapa jam untuk istrirahat. Kita mampir dulu di hotel untuk istirhat."


Dion memerintahkan untuk berhenti di sebuah hotel yang sudah ia reservasi sebelumnya. *****


__ADS_2