
"Janinnya baik- baik saja. Sudah memasuki 10 minggu. Ibu harus banyak istirahat, komsumsi makanan bergizi, vitamin." ucap dokter Satrio memberi nasehat.
Aku terkejut, saat mengetahui kehamilanku sudah 10 minggu. Kupikir darah haidku tidak datang, karena memang biasa seperti itu. Jadi tidak kepikiran olehku kalau aku sudah hamil.
"Dokter, saat kami pulang nanti, apa tidak berbahaya pada janinnya, kalau naik pesawat." cetus Dion menguraikan kekhawatirannya.
"Tidak apa-apa, rahim istri bapak kuat. Tapi harus tetap hati- hati, ya. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan, sebaiknya kepulangan bapak dan ibu diundur saja. Kalau memang tidak ada hal yang penting," ungkap dr Satrio.
"Bapak dan Ibu sedang berbulan madu, ya? Diperpanjang saja, pak, bulan madunya," kelakar sang dokter.
"Tidak masalah sih, pak. Hanya saja keluarga nanti jadi heran," ucap Dion menanggapi dokter Satrio.
"Tunggu beberapa minggu lagi, pak. Kita lihat perkembangan janinnya dulu. Kalau tidak ada masalah, bapak dan ibu boleh segera pulang."
Setelah dokter Satrio selesai memberi wejangan seputar kehamilan, aku dan Dion menanyakan kebenaran, soal Arby. Dokter Satrio menjelaskan dengan gamblang, bahwa amnesia yang di derita Arby, akibat benturan benda tumpul di belakang kepalanya. Bukan akibat tabrakan itu.
__ADS_1
"Amnesia yang dideritanya, sifatnya hanya sementara. Butuh proses untuk mengembalikan ingatannya itu. Akan lebih baik pula, jika dia berada ditengah- tengah orang yang mencintainya. Misalnya sahabat atau keluarganya. Dia di bawa ketempat yang suka dia datangi, untuk membuka memorinya.
Hanya saja, karena kami tidak tau asal usulnya, kami membawanya kemari, waktu itu."
"Ini, bukti-bukti kalau dia adalah Arby adik saya, dokter," aku menunjukkan ponselku. Membuka foto-foto di galeri, tentang kebersamaan keluarga kami.
"Saya bukannya tak percaya, bu. Hanya saja kita perlu waktu, terutama Devan, eh maaf, maksud saya Arby. Apakah bisa menerima semua ini. Kita tidak bisa memaksakan."
"Karena itulah pak dokter, kami mohon bantuan dokter, untuk mendekatkan kami, agar adik saya tidak kebingungan."
"Trimakasih dokter, berkat dokter adik saya masih bisa kami temukan."
"Sebenarnya, Arby itu sudah menjadi menantu saya. Mereka saling mencintai. Karena saya melihat Arby orangnya baik saya merestui pernikahan mereka. Maaf, kalau saya tau siapa keluarganya tentu hal ini akan kami beritahu."
"Tidak apa-apa dokter, berkat kebaikan dokter menolong adik saya, kami masih bisa melihatnya. Padahal kami yakin dia sudah meninggal. Tuhan, memang maha baik. Secara tak sengaja mempertemukan kami dengan dokter, sehingga semuanya terkuak," ucapku lirih penuh haru.
__ADS_1
Sungguh suatu mukzizat, aku dipertemukan kembali dengan adikku, Arby. Setelah pengakuan bibi Elis yang mengatakan klaau Arby telah mati, dan mayatnya dibuang ke laut. Sesuatu hal yang sangat mengwrikan, mengingat bibi Elis adalah ibu kandungnya.
Karena terobsesi dengan harta papa, bibi Elis tega membuang Arby sejak masih bayi merah. Bibi Elis kecewa karena Arby tidak mau menurutinya untuk memoroti harta papa.
Sehingga bibi Elis kesal dan menyusun rencana jahatnya. Mengikuti Arby, hingga ke kapal fery, saat Arby hendak ke Papua dalam satu misi aksi sosial.
Arby, yang ternyata punya saudara kembar, Luke, menggantikannya sebagai, Arby.
Kami sekeluarga sempat terkecoh, dan mengira Arby pulang dari Papua karena tidak betah, dan berubah rencana. Dengan mudahnya mengambil simpati, papa. Papa, memberi kepercayaan penuh padanya. Untuk mengelola perusahaan dan bisnis papa lainnya.
Dan semua rencana itu gagal, karena tanpa sengaja aku mendengar rencana jahat mereka itu. Rahasia bibi Elis terbongkar, yang berujung dengan kematian Luke, dan bibi mendekam di penjara.
Sekilas cerita itulah yang aku sampaikan pada dokter Satrio, tentang hidup Arby dan kronologi yang mengawali kejadian yang menimpanya.
Semua itu aku ceritakan, agar dokter Satrio dan Sisca bisa menggiring Arby untuk menapak tilas kehidupannya di masa lalu.
__ADS_1
"Kisah hidupnya cukup tragis, juga. Sudah dibuang waktu masih bayi, setelah dewasa mau dibunuh pula. Semoga menantu saya lekas sembuh, sehingga dia bisa mengingat dirinya kembali.***