
Tidak terasa sudah lewat dua minggu Lisa dan Sakti menjalani rumah tangga. Belum ada perubahan dalam hubungan keduanya. Lisa masih bersikap seperti biasanya. Dan Sakti juga tidak ingin memaksakan perasaan Lisa.
"Sayang, aku akan pergi ke Singapura selama dua minggu. Bagaimana kalau kau menginap di rumah Ibu saja?"
"Boleh," jawab Lisa sambil menyendok kan makanan ke mulutnya. Karena pagi ini mereka sedang menikmati sarapan bersama.
"Berangkat kapan, Mas?"
"Lusa,"
...Lisa hanya menganggukkan kepala. Selama menjadi pasangan suami istri, Lisa selalu menjalankan kewajiban nya. Mulai dari menyiapkan pakaian kerja Sakti, menyiapkan makanan. Tapi, hanya satu yang belum ia penuhi. Menjadi istri seutuhnya untuk Sakti....
***
Bagas menikmati semangkuk mie instan yang di beri telur dan sayuran. Entahlah, pagi ini Ia ingin sekali makan mie instan. Makanan yang selama ini sering Ia hindari. Satu kunyahan, dua kunyahan. Tiba-tiba terasa sulit untuk menelan mie instan berkuah tersebut.
Bagas ayo kita makan mie di warung Mak Narti?" ajak Lisa ke warung yang ada di gang samping kantornya.
__ADS_1
"Ngga, aku ngga suka mie instan," tolak Bagas.
"Yasudah, aku ke sana sendiri," Lisa meninggalkan Bagas yang masih fokus pada pekerjaan nya.
" Memang tidak bisa menolak permintaan cewek satu ini." Bagas bergumam sendiri, sambil berdiri, Ia segera mengejar Lisa yang sudah tidak terjangkau lagi oleh pandangan nya.
Setelah sampai di warung Mak Narti. Lisa langsung memesan dua mangkuk mie instan rasa soto. Satu untuknya dan satu lagi untuk Bagas.
" Makan! Dan jangan protes,"
Pikiran Bagas masih di penuhi dengan bayang-bayang Lisa. Waktu hampir enam tahun bukanlah waktu yang singkat. Apapun permintaan Lisa, Ia tidak pernah menolak. Saat suapan demi suapan mie yang masuk ke mulutnya, kenangan bersama Lisa muncul begitu saja. Lagi-lagi Ia memikirkan istri orang.
Cinta memang mampu mengubah semuanya. Mampu memberikan warna indah di hidupmu kalau cintamu berbalas. Dan mampu menjadikan kita patah dan hancur berkeping-keping kalau perasaan itu tidak berbalas. Dan yang lebih sakit dan hancur adalah saat saling mencintai tapi waktu tidak menyatukan mereka. Bukan satu hati yang patah, tapi keduanya yang merasakan cinta. Tapi, keadaan tidak berpihak kepada mereka. Ibarat terbang ke langit yang tinggi, dan saat itu juga jatuh di dasar samudra yang paling dalam. Terlalu sakit sehingga bisa membuat hati mati rasa.
Bagas menghentikan makannya. Ia berdiri dan meninggalkan mie instan di mangkuk begitu saja. Bukan Ia tidak lapar, tapi terlalu sulit untuk menelan mie tersebut. Bayangan Lisa selalu muncul di pikirannya.
Tidak ingin ambil pusing, Ia segera mengambil kunci mobil dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Ia harus lebih menyibukkan diri untuk segera melupakan Lisa.
__ADS_1
***
"Mas pergi dulu, ya?" ucap Sakti saat sudah berada di samping mobilnya. Ia berpamitan kepada istrinya sebelum berangkat kerja.
"Iya, hati-hati di jalan," saut Lisa sambil melambaikan tangan.
Lisa segera masuk ke dalam rumah saat mobil Sakti sudah tidak terjangkau lagi dari pandangannya.
Ia segera membereskan piring kotor di meja makan tadi. Ia mencuci piring tersebut. Tangannya yang sedang bergerak membersihkan piring tiba-tiba berhenti. Ia memikirkan pernikahan nya. Sakti sepertinya adalah laki-laki terbaik yang di pilihkan orang tuanya.
***Catatan author : Maaf ya baru up date 🙏
Terimakasih telah menyempatkan diri membaca karyaku 🙏🙏
Jangan lupa like dan komen ya...
Salam sayang dariku 🥰***
__ADS_1