
Kaget juga aku mendengar kisah kematian istri Dion, yang cukup tragis. Pantas saja, Dion begitu tertutup kepada wanita setelah kematian istrinya. Tentu, rasa bersalah itu akan terus membayangi.
Terutama, karena Dion yang memberi ijin pada ibu mertua dan adik iparnya untuk tinggal sementara di rumah mereka. Padahal Cindy telah menolaknya, tapi Dion terlalu percaya pada mertuanya. Cindy, juga telah mengingatkan hubungan buruk antara dia dan ibu serta adik tirinya.
Bisa saja mereka telah merencanakan niat jahat mereka itu, untuk mencelakai, Cindy, istrinya. Walau motifnya belum jelas apa, tapi karena barang-barang istrinya banyak yang hilang, mungkinkah mereka sengaja datang hanya untuk mencuri?
Lantas, apa maksud mereka menumpahkan minyak di setiap titik, yang kemungkinan akan dilalui Cindy? Hingga di usia Raisa yang ke 7 kabar mertua Dion dan Mely tidak di ketahui.
"Hai, Raisa, bagaimana kabarmu, sayang?" sapaku saat membezuk Raisa di lain hari. Tubuhnya yang masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Sakit typus yang dideritanya membuat demamnya sering naik turun
"Halo, Tante Reny. Hai, kak Devan kak Mitha!" seru Raisa riang melihat kedatangan kami. Hari ini aku sengaja mengajak kedua anakku untuk membezuk Raisa di rumah sakit. Kebetulan hari libur, jadi tidak mengganggu jadwal sekolah mereka.
Kedua anakku bahkan sudah tak sabar, untuk membezuk Raisa saat aku kasih tau mereka, kalau Raisa sakit dan dirawat di rumah sakit.
"Hai dek, Raisa, cepat sembuh ya," ucap Devan dan merasa ngeri melihat selang infus di lengan Raisa. "Kasian dek Raisa, Ma," bisiknya padaku. Devan memang perasàn lebih halus, beda dengan Mitha yang tidak mudah memperlihatkan emosinya.
Ketiganya lalu terlibat omongan seputar sekolah, teman, bahkan cerita film kesukaan dan hobby mereka. Aku dan Dion menatap polah mereka, yang mengabaikan kami.
Raisa nampak senang sekali, malah dia yang lebih banyak cerita. Sepertinya dia lupa kalau dialah yang sakit, Ceritanya lucu dan konyol. Memang sih, darah usil Dion papanya mengalir deras di tubuhnya.
"Makasih ya, Reny, telah mengajak Devan dan Mitha ke sini. Raisa sangat terhibur dan lupa kalau sedang sakit," ucap Dion, saat kami sama- sama dicuekin ketiganya. Kami duduk bersebelah di sofa. Sementara Devan dan Mitha malah naik ke ranjang Raisa, karena ranjangnya ukuran untuk orang dewasa. Jadinya mereka cukup leluasa duduk di atas tempat tidur itu.
Ditengah aku dan Dion asyik berbincang juga, tiba-tiba Raisa nyeletuk.
__ADS_1
"Aih, Papa dan Tante Reny pacaran." Devan dan Mitha, menatap kearahku sambil senyum-senyum. Tuh, mata bocil-bocil nakal sekali menggoda.
Aku dan Dion kaget mendengar ucapan, Raisa. Padahal jarak aku duduk dengan Dion ada setengah meter. Hanya karena kami begitu serius ngobrol, ketiganya kompak menggoda kami.
"Emang, boleh? Papa pacaran sama Tante Reny?" balik tanya Dion, sehingga aku mencubit pinggangnya atas ucapan konyolnya itu. Dion mengaduh kesakitan. Membuat gelak tawa ketiganya makin membahana.
"Boleh, boleh, boleh," celoteh Raisa menirukan gaya Upin Ipin, film kesukaannya. Diamini Devan dan Mitha.
Aku jadi terbahak, melihat sikap polos mereka.
"Bagaimana, Reny, bersediakah kamu jadi pacarku?" ucap Dion gokil persis kayak orang lagi ngelamar. Aku makin terbahak, merasa lucu.
"Udah, ah gak lucu," sahutku sambil memegangi perutku yang kejang. Aku jadi teringat masa di sekolah dulu, saat Dion melakukan itu di depan kelas. Membuat semua temanku bersorak menyemangati Dion. Membuat aku malu dan marah besar pada Dion.
Dion juga malah latah, membuatku seakan terperogok. Antara mengikuti alur yang dia ciptakan atau mengalihkannya.
"Oke, aku bersedia," ucapku dengan gaya selucu mungkin. Aku memutuskan mengikuti alurnya saja. Toh, ini hanya semata untuk menghibur, Raisa. Siapapun tau, ini hanya candaan.
Namun, di saat Dion berdiri mendekatiku yang ada dalam pikiranku dia hendak melakukan hal lucu lainnya. Aku tidak curiga, kalau dia hendak membisikkan sesuatu.
"Ucapanku adalah serius, Reny, tidak ada hubungannya dengan candaan anak-anak. Aku memintamu jadi seorang istri, bukan jadi pacar," bisiknya lembut.
Seketika aku terhipnotis atas ucapan itu, aku tidak bisa mencernanya dengan baik. Satu hal yang membuat pikiran warasku segera pulih, saat kulihat ketiga bocil itu tidak lagi memperhatikan kami.
__ADS_1
Aku tidak menjawab perkataan Dion, aku malah pura-pura membenahi tas ransel Mitha yang teronggok di lantai.
"Tak perlu dijawab sekarang, Ren," ucapnya lagi.
Aih, ada apa dengan diriku. Seperti anak remaja saja, aku merasa kedua pipiku memerah, malu. Aku tak menanggapi serius ucapan Dion, tapi tak bisa kupungkiri kalau aku tidak kagum akan sosoknya. Lebih gila lagi, kenapa hatiku berdesir seperti kena banjir bandang? Sungguh memalukan sekali. Diusiaku yang sudah tiga puluh tahun ini, masih juga sor-soran urusan beginian. Jangan sampai Dion melihat itu di mataku.
Apa katanya nanti kalau aku menanggapi serius tiap ucapannya. Walaupun aku merasa dialah yang sering memancing perasaanku, dengan sikap manisnya. Namun tetap saja aku yang akan terpojok sendiri, mana statusku yang janda cerai hidup beranak dua. Orang akan mengira aku kegatelan. Duh, berat juga beban sebagai seorang janda. Merasa serba salah.
Sikap Dion akhir-akhir ini memang semakin lembut padaku. Tak jarang aku memergokinya tengah menatapku diam-diam, sehingga membuatku jengah. Bila kami sedang tugas di lapangan ketara sekali dia melindungiku.
Semua perlakuan dan perhatiannya itu bukan tak jarang membuatku goyah. Sebagai wanita dewasa aku tentu butuh perhatian lembut dari lawan jenisku. Berharap jika di suatu hari nanti akan ada pria yang mampu membuka hati ini, mau menerima segala kekurangan dan kelebihanku.
Pantaskah aku melambungkan harapanku itu pada sosok, Dion? Lelaki yang pernah ku kenal di masa laluku dulu. Lelaki, yang pernah membuatku merindu setengah mati karena terpisah tanpa kabar apapun.
Dia yang membuatku benci sekaligus cinta pada akhirnya.
Berharap di setiap malam akan bertemu kembali dengannya entah kapapun. Bila akhirnya harapan itu terwujud, kami bersua lagi. Seiring perjalanan waktu dan karena berbagai hal pula, ternyata rasa yang dulunya begitu bergelora, kini riaknya pecah
di pantai. Berbaur dengan berbagai rasa .
Perasaan itu pula kini, dihadapkan padaku untuk membuat keputusan. Apakah aku akan memilih atau tidak.
Rasanya sangat sulit melakukannya, aku dilema. Apakah akan membuka hatiku untuk Dion. Memantaskan dirinya jadi kepunyaanku, sementara hati masih gamang karena ini bukan hanya berbicara tentang hatiku dan keinginanku saja. Ada dua hati, yang tentunya belum begitu paham kenapa mamanya berpisah dengan papanya. Untuk seseorang yang masih asing bagi mereka.*****
__ADS_1