Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 65


__ADS_3

Terkadang kita lalai oleh satu hal, ketakpedulian kita pada seseorang akan mengguratkan luka. Ketika kita menyadarinya, semua itu telah sia-sia."


Pesta ulang tahun Raisa di rayakan di kediaman Dion. Dihadiri beberapa orang tamu saja. Tamu yang diundang adalah rekan dekat Dion.


Aku hadir bersama ke dua anakku, diantar oleh Brian. Kedatangan kami di sambut riang oleh Raisayang didampingi papanya, Dion.


Raisa langsung akrab dengan Devan dan Mitha. Padahal ini adalah pertemuan mereka yang kedua setelah di taman kemarin.


Mitha dan Devan langsung diajaknya bermain di taman dalam rumah itu, sebelum acara di mulai. Ketiganya bermain bersama, seolah sudah kenal lama dan akrab.


Aku memandang ke tiganya dari sudut ruangan. Terkadang aku tersenyum melihat tingkah polah mereka.


"Dia belum pernah sebahagia ini, saat perayaan ultahnya," tiba-tiba sebuah suara menyapa disampingku. Aku menoleh, ternyata Dion. Entah sejak kapan dia berdiri di sisiku memeperhatikan ketiganya.


"Seiring waktu, dia lebih mengerti dan menikmati kebahagiannya," ucapku.


"Bisa jadi, tapi aku melihatnya lebih dari itu. Sejak bertemu kamu, dia tak henti mengoceh. Selalu ingin tau tentang kamu,"


"Ah, Masa sih," aku mendelik.


"Katanya dia sangat menyukaimu. Dia juga sangat suka pilihanmu atas gaun itu. Kalau mama masih hidup, dia pasti seperti tante Reny, itu katanya," ucap Dion tak lampias.


Aku terdiam mendengar ucapan Dion. Gadis kecil itu memang sangat kritis dalam mengungkapkan isi hatinya.


Akhirnya, pesta pun di mulai. ucapan demi ucapan mengalir untuk Raisa, mendoakan yang terbaik untuknya di masa depan.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun ya, Raisa, doa terbaik untukmu. Ayo, Mitha, berikan kadonya," ucapku.


Mitha menyerahkan kado boneka Bear warna pink.


"Makasih ya, Tante, kadonya. Juga pilihan gaunnya," ucap Raisa berbisik di telingaku.


"Sama-sama, kamu sangat cantik malam ini."


"Tante juga. Mata papaku tak berkedip saat melihat Tante datang."


"Untung saja mata papanya gak kelilipan," kekehku. Dalam hati aku berguman, anak sama Bapak sama aja, suka bikin baper.


"Tante, suka gak sama papa Raisa?" bisik Raisa lagi.


Deg! ini anak ngomong apaan sih, bisik hatiku.


"Hem, kalau tante suka sama papa, biar aku minta supaya tante yang jadi mama, Raisa. Tante mau 'kan?" ucapnya penuh harap. Sementara aku kelimpungan bagaimana menjawab pertanyaan gadis kecil ini.


"Eh, Raisa, gimana ya tante mau jawabnya. Jika, hanya karena Raisa pengen panggil tante, mama, tante tidak harus suka sama papanya Raisa. Raisa boleh kok, manggil tante, mama," jawabku diplomatis.


"Benarkakh? Tante, mau Icha panggil mama,?" tanyanya dengan polos. Aku mengangguk tulus dan memeluk tubuh gadis kecil itu. Raisa membalas pelukanku dan setelah beberapa saat dia melepas pelukanku dan berlari ke arah papanya, yang kebetulan sedsng bicara serius dengan seorang rekannya.


mereka berbisik sebentar, lalu Dion mengusap kepala Raisa.


Devan dan Mitha menatapku heran, penuh tanda tanya. Aku tersenyum dan berbisik pada mereka.

__ADS_1


"Dek Raisa sudah tak punya, mama, sejak kecil. Jadi tidak apa-apa 'kan di hari istimewanya ini, dia panggil mama, sama mama,"


"Mama Raisa pergi ke mana, ma?"


"Ke surga," jawabku .


"Oh, jadi gak bisa ketemu Raisa lagi, dong?" seru Mitha sedih. Lalu tiba-tiba memelukku. Aku heran akan sikapnya.


"Mama, jangan pergi ke sana ya. Nanti, Mitha tak bisa ketemu, mama." ucapan polosnya membuat Devan tertawa.


"Gaklah, Dek. Pergi ke surga itu harus meninggal," jelas Devan.


"Iya, karena itu, Mitha tidak ingin kehilangan, mama."


"Siapa juga yang mau kehilangan, mama, Dek."


"Sudah, jangan bicara itu lagi. Mama akan tetap bersama kalian, samappi dewasa. Ayo, kita ambil makanan. Sudah waktunya makan ," ucapku mengiringi ke dua anakku mengambil makanan.


Percakapan mereka barusan, mau tak mau memengaruhi pikiranku juga. Aku tidak bisa membayangkan bila sesuatu terjadi padaku, sementara kedua anakku masih kecil dan butuh perhatian.


Seperti yang dialami Raisa, gadis yang sudah kehilangan Ibunya saat masih kecil. sehingga dia tidak merasakan kasih sayang seorang ibu. Karenanya dia selalu merindukan dan butuh belaian seorang ibu. Dan keinginanya itu telah ia ungkapkan padaku.


Hatinya yang polos, tentu belum mengerti bagaimana dia harus memiliki seorang ibu. Dia hanya bisa mengungkapkannya dengan pikiran lugunya.


Dia ingin aku menjadi mamanya. Tentu, bukan hal sulit, jika itu hanya sebatas panggilan, tidak ada ada salahnya menerima permintaannya. Bahkan jika dia butuh perhatianku sekalipun, aku bisa berikan itu. Mengasihinya, karena memang dia butuh kasih sayang.

__ADS_1


Namun lucunya, dia memintaku seolah itu adalah hadiah untuknya. Sementara meskipun aku butuh seorang ayah untuk kedua anakku juga rasanya itu masih terlalu dini. Mungkin waktu yang akan bicara, dan biarlah semua berjalan apa adanya.***


__ADS_2