
Agina dan Ezwar saling menatap satu sama lain. Tidak ada yang memulai pembicaraan setelah kalimat yang di ucapkan Agina.
Tepukan di bahu menyadarkan Agina.
"Kalian berdua kenapa?" tanya Lidya.
Agina menggeleng sebagai jawaban. Lidya mengeryit, di tatapnya Ezwar mencoba bertanya melalui mata.
"Ada yang ingin kami bahas," tutur Ezwar. Agina mengangguk.
"Tentang Agra?"
"Aku ingin meminta bantuan pada Ezwar," jelas Agina.
Lidya tampak berpikir. "Baiklah, kalian ingin membahasnya di mana?"
"Bagaimana dengan cafe?" tanya Agina menoleh ke arah Ezwar.
"Oke,"
"Kenapa tidak membicarakan di sini?" Lidya berkacak pinggang.
"Ezwar ingin menanyakan sesuatu kepadaku, dan kau sudah mengetahuinya,"
Lidya mengangguk. "Baiklah,"
"Kami pergi dulu, katakan tentangku pada FTN," ujar Agina. Lidya memeluk Agina, ia masih merindukan teman seperjuangannya ini.
Agina melepaskannya. "Kita akan bertemu lagi,"
Ezwar maju ke depan, membuat Agina menggeser.
"Kau kenapa?" Lidya menatap bingung dengan laki - laki di hadapannya ini.
Ezwar merentangkan tangannya. "Kau tidak ingin memelukkku?"
Lidya mengeryit. "Untuk apa aku memelukmu?"
"Kau memeluk Agina dan sekarang giliranku,"
"Tidak mau!" Lidya mengulurkan lidahnya.
"Cih, dasar singa betina!" pekik Ezwar.
Mata Lidya membulat. "Kau..." Ezwar sudah hilang di tempat.
Agina menggeleng kepalanya melihat dua insan tersebut. Mereka sepertinya akan selalu bertengkar saat bertemu.
"Kak, aku pergi dulu," ucap Agina.
"Hati - hati!" teriak Lidya karena Agina sudah hampir keluar.
......................
Kini dua orang berbeda gender itu sedang berada di cafe. Duduk berhadapan dengan raut wajah yang serius. Keduanya menunggu pesanan dalam diam.
Pelayan yang bertugas menyajikan pesanan mereka, dengan gemetar ia meletakkan makanan dan minuman. Aura dingin yang terpancar membuat semua orang memperhatikan mereka dengan lirikan.
"Bisa kau jelaskan tentang vidio itu?" Ezwar memulai pembicaraan saat pelayan pergi.
Agina menyeruput jus jeruknya santai. "Apa yang ingin kau dengar?" Bertanya balik. Sepertinya Agina tidak ingin menyelesaikan ini dengan mudah.
__ADS_1
"Semuanya," Penuh penekanan.
Agina tersenyum miring melihat Ezwar yang mulai kesal dengan sikap santainya.
"Seperti yang kau lihat, Johan Dreandara yaitu sahabat terbaiknya paman Rangga, menyewa orang untuk membunuh tuan Agra. Apa kesimpulan itu sudah cukup?" Agina mengkatup tangannya di atas meja. Kakinya ikut di silangkan.
Mata Ezwar membulat mendengar perutunutan gadis di hadapannya. Tidak mungkin orang yang sangat di percayai oleh keluarga Pratama melakukan itu.
"Ta-tapi bagaimana mungkin?"
"Uang! Semua orang bisa menjadi buta karena kertas itu,"
"Lebih detail!"
"Setelah kejadian delapan tahun lalu, Olivia Dreandara menjadi kekasih Agra sampai sekarang. Tapi selama ini tidak ada tanda - tanda bahwa Agra mencintai Olivia dan berniat menikahinya. Karena itulah Johan Dreandara melakukan ini," jelas Agina.
"Untuk apa? Meskipun tuan Agra mati, harta keluarga Pratama tidak akan di warisi kepadanya,"
"Tentu saja akan di warisi kepada adiknya Agra. Lalu, apakah anda tau siapa orang yang sedang berusaha mendekati adiknya itu?"
Ezwar tampak berpikir, namun beberapa detik kemudian dia mengebrak meja.
"Askar Dreandara!" pekiknya. Agina tampak tenang karena sudah menduga reaksi Ezwar.
"Jika Agra mati, seluruh harta keluarga Pratama akan di warisi kepada adiknya. Dan Askar Dreandara akan berusaha menikahinya,"
Ezwar terdiam. Memang semua yang di jelaskan Agina masuk akan baginya.
"Aku ingin meminta bantuanmu untuk membongkar semuanya," ujar Agina.
Ezwar mendongak. "Bantuan apa yang kau butuhkan?"
"Aku ingin kau memancing Agra ke club,"
"Kau ingin gelas ini mendarat di kepalamu?" Agina geram dengan jawaban yang di berikan Ezwar.
"Maaf, maaf. Lalu untuk apa?"
Agina mendorong ponselnya ke hadapan Ezwar. Ezwar menatapnya bingung.
"Silahkan," ucapnya.
Dengan rasa penasaran yang tinggi, Ezwar menekan putar. Betapa terkejutnya saat melihat vidio yang di tampilkan. Dengan gerakan cepat ia mendorong kembali ponsel Agina. Mata polosnya sudah ternodai sekarang.
"Apa-apaan kau ini! Kenapa menyuruhku melihat foto itu?!" sentak Ezwar.
"Matamu masih perjaka rupanya, aku pikir enggak," balasnya santai.
"Tapi sekarang udah gak lagi!" Ezwar histeris.
"Udah, jangan bahas itu lagi. Yang jadi pertanyaannya sekarang, apa kau tau siapa yang ada di vidio itu?"
"Entah, aku hanya melihat sekilas," Mengangkat bahu dan menjawab santai.
Agina menghembus napasnya kasar, tampak sekali kalau ia sedang menahan emosi. Ezwar terdiam menyadari kesalahannya.
Agina mendorong kembali ponselnya ke hadapan Ezwar. Kali ini foto bukan vidio, jadi aman untuk di lihat.
"Sudah kuduga," Ezwar menghela napas.
Agina tidak percaya dengan yang di dengarnya. "Kau sudah menduganya, tapi tidak pernah menyelidikinya. Bukankah itu sama saja bodoh!"
__ADS_1
"Tuan Agra percaya pada Olivia, karena tuan yakin keluarga dan saudara tidak akan berkhianat," jelas Ezwar. "Aku hanya mengikuti perintahnya," lanjutnya.
"Tapi setelah mengetahui semuanya, kau harus melanggar perintah demi keselamatan tuan Agra. Kau mengerti maksudku 'kan?"
"Aku mengerti, katakan saja apa tugasku?"
"Pancing tuan Agra ke club agar dia melihat kelakuan kekasihnya,"
"Tuan Agra tidak mencintai Olivia jadi tidak akan sakit hati. Yang tuan Agra tau, dirinya harus menikahi Olivia sebagai tanda balas budi keluarga Dreandara,"
"Tapi sekarang dia punya alasan untuk memutuskan hubungan itu 'kan,"
Ezwar tersenyum lebar. IQ Agina memang di atas rata - rata. Dirinya bahkan tidak memikirkan sampai sejauh itu.
"Tuan Agra sangat membenci tempat itu, bagaimana cara memancingnya?"
"Apa aku juga yang harus memikirkannya?" sahut Agina malas. Ezwar mengangguk dengan wajah tak bersalah. Jarang - jarang bisa membuat manusia irit bicara ini menjelaskan panjang lebar.
"Aturkan jadwal pertemuan dengan klien di club,"
"Itu tidak mungkin, tuan Agra tidak akan menyetujuinya. Karena semua pembisnis tau, jika ingin bekerja sama dengan perusahaan Pratama Group, jangan memaksa pertemuan di club," tutur Ezwar.
Memijit dahinya "Apa julukan keluarga Hardian yang memiliki iq di atas rata - rata itu benar adanya," Agina menghela napas. "Atau mungkin kau hanya anak pungut, buktinya paman Ilham sangat pintar,"
"Kau jangan bicara sembarangan, tentu saja aku anaknya," Kesal.
"Saat ini tuan Agra sedang mencariku, kau katakan saja aku ada di club,"
"Tapi kita juga harus memastikan bahwa malam itu, Olivia juga berada di sana,"
"Tidak perlu khawatir soal itu, kau urus saja bagianmu,"
"Baiklah, akan aku lakukan,"
Agina tersenyum miring.
"Karena tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, aku pergi dulu," ucapnya seraya berdiri dan mengambil ponselnya.
"Bagaimana dengan makanan ini?"
"Aku hanya memesan jus, kau yang bayar ya?"
Ezwar tidak menjawab melainkan membeku di tempat. Agina mengeryit namun hanya sesaat saat merasakan aura kegelapan. Segera dia berbalik badan.
"Kau berbohong padaku Ezwar," Menekan setiap kata.
Ezwar memilih menutup mulut. Sedangkan Agina tetap dengan wajah datarnya.
"Lembur sebulan!"
Ezwar terhenyak. Lembur sebulan, kata - kata itu terus berputar di kepalanya.
Agra segera menarik tangan Agina, meninggalkan cafe yang sunyi akibat kedatangan seorang Agra.
......................
Akhirnya bisa up juga setelah beberapa hari kuota habis.
...TERIMA KASIH TETAP SETIA MEMBACA KARYA RECEH RAIN INI....
...LIKE, KOMEN, HADIAH DAN VOTE KALAU BOLEH....
__ADS_1
SEE YOU♡