Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
43 Sabar yang berbuah manis.


__ADS_3

Bukan hanya luka yang butuh waktu untuk menyembuhkannya. Tapi, cinta juga butuh waktu untuk menumbuhkan nya. Jadi, bersabarlah.


Sakti


Ternyata tidak perlu menunggu lama untuk Lisa menerima Sakti. Ia harus belajar mencintai suaminya. Beban di pundaknya seketika lenyap. Itulah yang di rasakan Lisa saat ini.


"Lanjut lah istirahat Mas?" ucap Lisa sambil berdiri dari tempat tidur.


"Kau mau kemana? disini saja, kita istirahat bersama." Sakti memegang pergelangan tangan Lisa.


"Eh, Aku akan memasak untuk makan siang kita Mas." Sambil melepas tangan Sakti.


"Memang bisa masak?" Sakti sedikit mengejek Lisa.


Lisa mengerucutkan bibir nya, suaminya ini sungguh menyebalkan sekali. Ia ingin masak malah Sakti mengejeknya.


"Aku bisa masak air, dan mie puas?" Ucap Lisa ketus dan berjalan meninggalkan kamar.


Sakti yang melihat istrinya merajuk merasa gemas. Ingin sekali Ia mencium bibir tipis berwarna merah jambu tersebut tapi Sakti harus menahan ya karena Ia takut Lisa akan lebih merajuk lagi.


" Tahan Sakti, baru baikan. Nanti marah lagi malah repot kan!" Sakti bicara sendiri. Ia berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Lisa sedang sibuk di dapur. Ia memasak spaghetti untuk suaminya. Karena inilah yang mudah menurut nya.


"Okay, selesai." Ucap Lisa senang karena masakan nya sudah matang.


"Kau masak apa sayang?" Sakti berjalan mendekat ke arah Lisa. Ia sudah berganti pakaian rumah. Dengan kaos bolong warna merah dan celana pendek selutut. Rambutnya yang sedikit basah menambah ketampanan Sakti.


"Masak spaghetti, Mas." Ia segera mengambil piring untuk Sakti.


"Sini Mas bantu?" Sakti mendekati Lisa ia ingin mengambil piring dari tangan Lisa.


Lisa spontan menjauhkan tangannya yang sedang memegang piring. "Tidak usah Mas, kau duduk lah, ini tinggal menghidangkan saja."


Seperti anak kecil, Sakti menurut apa yang di perintah oleh Lisa. Sakti menumpu kepalanya di atas kedua tangan. Ia tersenyum memandang istrinya. Sepertinya Ia adalah pria paling beruntung, walaupun Lisa anak tunggal tapi, Sakti tidak melihat sisi manja Lisa.


"Ayo kita makan!" Lisa meletakkan piring berisi spaghetti di depan Sakti. Dan Ia sendiri ikut duduk berhadapan dengan Sakti.


***


Sementara di tempat lain Bagas sedang bersantai sambil menonton tv. Ia hanya memencet remote asal, Ia ganti acara tv berulang-ulang. Pikirannya sedang berkelana entah kemana, Ia tidak fokus dengan apa yang sedang Ia lakukan.

__ADS_1


"Aku harus segera berangkat ke Bandung. Disini lama-lama hanya akan membuat ku semakin tidak bisa melupakan Lisa." Bagas segera bangkit dari duduknya. Ia bergegas ke kamar untuk berkemas.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih selama enam jam, akhirnya Bagas tiba di kota Bandung. Ia masuk rumah dengan langkah berat, lagi-lagi hanya kesunyian yang Ia rasakan.


" Tidak di Semarang atau di Bandung sama saja, selalu sendiri." Keluh Bagas.


Ia berjalan menuju dapur untuk segera mengisi perutnya yang lapar. Karena ini memang sudah waktunya makan malam.


"Ternyata aku belum belanja." Ucap Bagas kecewa, saat Ia melihat isi kulkas yang belum ada bahan makanan.


Bagas memutuskan untuk pergi ke supermarket terdekat untuk berbelanja keperluan nya. Tak butuh waktu lama Bagas sudah sampai di supermarket.


"Bruk, aw... Om kalau jalan hati-hati dong?" ucap seorang anak laki-laki sekitar umur lima tahun. Ia berlarian di supermarket dan tidak sengaja menabrak Bagas.


Bagas tersenyum menanggapi ucapan bocah tersebut. "Bukankah kau yang menabrak Om tadi?" Ia membantu anak kecil tersebut untuk berdiri.


"Yang jatuh siapa Om?" Tanya anak kecil tersebut sambil meletakkan kedua tangannya di atas pinggang. Seolah sedang menantang Bagas.


"Yang jatuh itu kamu, karena tubuhmu lebih kecil dari Om."


"Berarti yang salah Om kan?" Anak laki-laki tersebut tetap ngotot kalau dia tidak salah dan tidak mau di salahkan.


"Dika! Kau tidak mendengarkan Mama. Dari tadi Mama mencari mu, ayo minta maaf sama Om nya?" Wanita tersebut menggandeng tangan Dika sambil menundukkan kepala kepada Bagas.


"Maaf Om." Ucap Dika sambil menunduk.


"Iya, lain kali hati-hati ya?" Bagas mengacak rambut Dika.


"Maafkan anak saya ya?" ucap wanita terhebat sambil membungkukkan badan.


"Ngga apa-apa Mba, namanya juga anak kecil."


"Iya, sekali lagi saya minta maaf, permisi ya Mas." Wanita tersebut berbalik dan pergi meninggalkan Bagas sambil menggandeng anak kecil tersebut.


Bagas hanya tersenyum sambil melambaikan tangan kepada Dika. Ia kembali memilih beberapa bahan makanan.


***


Lisa segera mengambil piring kotor. Ia berjalan menuju wastafel untuk mencuci piring tersebut. Sakti mengikuti Lisa dari belakang.


"Biar mas yang mencuci!" Sakti segera mengambil menuangkan sabun cair ke dalam tempat sabun, Ia mulai membersihkan satu persatu piring kotor tersebut. Lisa hanya diam sambil memandang Sakti dengan kagum.

__ADS_1


"Kau duduk lah sayang! Mas saja yang selesaikan ini."


"Kita kerjakan bersama saja, biar cepat selesai." Lisa membantu membilas piring tersebut.


Senyum tidak surut dari bibir Sakti. Ia tidak menyangka kalau Lisa begitu cepat akan menerima dirinya. Walaupun belum sepenuhnya.


"Sayang, terimakasih."


"Untuk?" Lisa merasa heran terhadap Sakti. Ia merasa tidak memberikan apapun untuk suaminya tersebut, tapi kenapa suaminya bilang terimakasih.


Sakti berbisik di telinga Lisa. "Terimakasih karena sudah mau menerima Mas."


Lisa menganggukkan kepala. Hembusan napas Sakti di telinganya membuat jantung nya berdebar lebih cepat. Ia spontan menutup mata.


Sakti menjauhkan wajahnya. Ia lihat Lisa yang sedang menutup mata. "Kau kenapa tutup mata sayang?"


"Eh... A-ku..." Lisa segera membuka mata. Ia menggelengkan kepala dengan cepat.


"Tidak apa-apa, aku mau menonton tv saja." Lisa segera meninggalkan Sakti dan berjalan menuju ruang keluarga.


Sakti tertawa melihat tingkah istrinya yang malu-malu. "Sayang! Kalau kau menginginkan sebuah ciuman dari ku bilang saja. Aku akan dengan senang hati memberikannya padamu." Teriak Sakti kepada Lisa yang berjalan semakin menjauh darinya.


"Jangan berpikiran macam-macam ya, Mas!" Suara Lisa tidak kalah keras dari Sakti. Ia sedikit berteriak karena jarak ruang keluarga dan dapur sedikit jauh. Ia mengambil remote tv dan mencari acara yang Ia suka.


Sakti mendudukkan tubuhnya di samping Lisa. Ia melihat wajah cantik istrinya." Hanya satu macam boleh kan? kita sudah sah juga jadi pasangan suami istri kan? malah kalau diantara kita tidak memenuhi tanggung jawab malah jadi dosa kan?"


Lisa membenarkan ucapan Sakti. "Tapi aku belum..."


"Iya, belum siap kan? Mas tidak memaksamu. Kau ini, Mas hanya bercanda sayang."


"Maafkan aku mas?"


"Kau ini kenapa minta maaf terus. Lebaran kan sudah lewat sayang. Jadi sudahi maaf-maaf nya ya?" Sakti tersenyum sambil memegang pipi Lisa.


Halo guys... maaf ya baru update 🙏


libur nulis sehari dua hari jadi keterusan berhari-hari 😔


Jangan lupa like dan komen ya, biar aku semangat, terima kasih 🙏🙏


Salam sayang dariku 🥰.

__ADS_1


__ADS_2