Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 93


__ADS_3

"Gila kamu ya, Elis!" hentak papa meronta dari sekapan Luke saat melihat mama ditodong. Aku juga bergerak hendak menolong mama.


"Diam ditempatmu, Reny, atau benda ini akan meledakkan kepalamu!" ancam Bibi Elis penuh seringai. Aku melihat wajah mama yang pucat pasi karena ketakutan.


"Elis, tenang Elis. Oke, aku akan menuruti permintaanmu. Akan kutandatangani surat itu. Tapi, tolong jangan lukai keluargaku," akhirnya papa tak berdaya dan menyetujui permintaan Bibi Elis.


Bibi Elis, menyeringai senang. Lalu menjauhkan senjata itu dari wajah mama. Aku menarik napas lega, dan memeluk mama. Luke mendorong papa ke arah meja makan, untuk menandatangani surat yang di sodorkan Bibi Elis.


Entah bagaimana kejadiannya, saat itu dimamfaatkan Dion untuk merampas senjata api dari tangan Bibi Elis. Tarik menarik terjadi antara keduanya. Spontan aku menarik tubuh mama untuk rebah di lantai. Karena takut kena peluru nyasar.


Bibi Elis yang tidak menduga serangan Dion, berusaha mempertahankan senjata di tangannya dari rampasan, Dion. Tiba-tiba suara tembakan terdengar dua kali. Aku menjerit panik mendengar suara itu.Begitu juga dengan mama. Lalu hening mencekam meraja di dalam ruang makan keluarga. Keheningan yang mencekam terpecah oleh jeritan kesakitan Luke.


Entah bagaimana kejadiannya, peluru menembus dada Luke, dan ambruk di lantai dengan bersimbah darah. Ternyata tembakan itu nyasar ke tubuh Luke. Dion berhasil merampas senjata api itu, dan mengamankannya.


Lalu menelepon polisi dan petugas medis untuk menyelamatkan Luke.


"Luke!" jerit Bibi Elis menghampiri tubuh Luke. Aku melihat Bibi Elis meratapi tubuh Luke yang meregang nyawa.


"Maafkan Mama, Luke! Semua ini karena mama," jerit Bibi Elis penuh sesal. Ternyata nyawa Luke, melayang ditangan ibunya sendiri.


"Papa!" jeritku tertahan saat melihat dada papa juga berdarah. Aku berlari kearah papa dan memeriksa tubuhnya, ternyata darah itu adalah darahnya Luke


"Papa tidak apa-apa, ini adalah percikan darah Luke." ucap papa dan berjalan ke arah mama. Keduanya berpelukan erat setelah tadi dikejutkan insiden yang cukup menegangkan.


Tidak berapa lama suasana ramai menguasai keadaan rumah kami. Bunyi mobil sirene ambulans dan mobil polisi meraung-raung memecah keheningan malam yang belum larut.


Tetangga kanan kiri berdatangan dan ingin tau apa sebenarnya yang terjadi di rumah karena adanya suara tembakan.


Tubuh kaku Luke telah dimasukkan ke kantong jenazah oleh tim inafis. Polisi juga telah memborgol tangan Bi Elis untuk dibawa kekantor polisi untuk dimintai keterangan.


Aku terdiam seolah tidak percaya apa yang telah terjadi barusan. Tidak kusangka Bibi Elis senekad itu apalagi sampai memiliki senjata api. Entah apa rencananya sampai memiliki senjata itu dan membawanya ke rumah.


Apakah pengakuannya telah menghabisi nyawa Arby, benar? Bila hal itu memang benar terjadi, alangkah kejam dan sadisnya Bibi Elis.


Sekarang dia telah kehilangan kedua anaknya. Hal yang seharusnya tak terjadi, tapi karena keserakahannya, dua nyawa mati tersia-sia.

__ADS_1


Semoga polisi nantinya mampu menyelidiki kasus ini, agar bisa menemukan dimana jasad Arby, kalau memang benar dia sudah meninggal seperti pengakuan Bibi Elis.


Setelah dilakukan penyelidikan, ternyata memang benar Arby telah meninggal dan jasad dibuang di laut seperti pengakuan Luke. Saat itu Arby sudah berada di kapal penyeberangan di Bakauheni bersama rombongan mereka hendak transit ke Jakarta. Saat Arby berada di dek kapal, berjalan-jalan menikmati matahari senja. Saat itulah Luke memukul kepala Arby bagian belakang.


Niatnya memang hanya untuk membuat Arby tidak sadarkan diri. Tapi naas, tubuh Arby jatuh ke laut. Tidak ada saksi yang melihat kejadian itu. Hanya Luke dan Bibi Elis. Itulah pengakuan Bibi Elis setelah diperiksa polisi secara marathon.


Pengakuan Bibi Elis yang berbelit-belit sempat membuat petugas kewalahan. Tapi berkat kejelian petugas, kasus itu berhasil disingkap. Bibi Elis terancam hukuman seumur hidup.


Hans yang turut bekerja sama dengan Bibi Elis untuk melakukan aksi penipuan terhadaap Papa, juga dinyatakan turut bersalah. Dari hasil penyelidikan polisi, tersingkap kalau Hans telah sering melakukan kejahatan yang sama dengan modus serupa.


Sehingga terbongkaralah semua aksi kejahatannya selama ini. Apalagi para korbannya melaporkannya ke pihak berwajib. Hans, didakwa dengan tuntutan berlapis dan hukumannya juga terancam seumur hidup.


*****


Ombak memecah di pantai pagi ini. Raisa dan Devan juga Mitha, berlarian di tepi pantai. Mengikuti alurnya ombak. Berkejaran, bermain pasir, tertawa riang sepuasnya. Terkadang mereka saling siram dan lempar pasir.


Mengisi liburan kali ini akudan Dion mengajak anak- anak berlibur di pantai.


Aku hanya tersenyum melihat polah mereka yang bermain dengan girangnya. Sambil mengawasi mereka, tak lupa aku abadikan moment bermain mereka dengan merekamnya dalam vidio.


Lelah, merekam ketiganya aku kembali ke pondok yang tersedia di tepi pantai. Segelas air putih, tandas kuminum saking hausnya.


Dasar bocil, hari panas begini tak mengurungkan niat mereka untuk bermain pasir.


Kukibaskan pasir yang menempel di ujung jinsku. Lalu kuangkat kakiku ke dalam pondok. Dari jauh aku terurs mengawasi ketiganya.


Hampir saja aku terkantuk, ketika sebuah suara tiba-tiba mengagetkanku. Ternyata Dion, yang datang. Dion tadi pergi memesan makanan untuk kami berlima. Lumayan juga lamanya.


"Ketiduran ya?" ucap Dion saat melihat mataku yang sayu.


"Huum, kok lama kali?"


"Banyak yang antri. Ini aja hasil curang," gelaknya.


"Curang?"

__ADS_1


"Aku main mata sama penjualnya. Sesekali gak papa'kan ketampananku dimamfaatin," kekehnya.


"Huuh, dasar," cebikku.


"Cemburu, ya?" godanya.


"Amit-amit, dah," gelakku.


"Oh, ya. Anak-anak masih asyik main. Apa belum lapar, dah waktunya makan siang," Dion bergegas ke arah anak- anak. Meneriakkan satu persatu nama mereka dengan lantang.


Dalam tempo singkat, ketiga bocil itu berlari ke arah pondok. Ketiganya menyerbu makanan yang di pesan Dion. Mereka begitu menikmati makanan itu.


"Pa, enak makanannya," ucap Raisa sambil menikmati kepiting goreng.


"Iya, Om. Udang bakarnya juga mantul," timpal Devan mengacungkan kedua jempolnya.


Aku hanya bisa tertawa melihat tingkah mereka menikmati hidangan itu.


"Hem....Segar," ucap Mitha saat menyeruput es kelapa muda.


Aku juga tengah menikmati es kelapa muda. Sangat menyegarkan seperti kata Mitha. Rasa dahagaku langsung hilang. Aku mengerok daging kelapa yang terasa lembek dan kenyal. Semakin nikmat saja, apalagi disaat panas begini.


"Aku juga mau ma, es kelapanya," rajuk Devan. Aku menyodorkan ke depannya sebuah kelapa.


"Raisa mau?" tawarku pada Raisa.


"Mau tante," ucap Raisa .


"Aku juga mau,lo. Masak gak ditawari," protes Dion. Membuat anak-anak tertawa.


"Is, papa sok manja, aja," gelak Raisa meledek Dion, papanya.


"Emang gak boleh?" tanyanya gokil.


"Boleh, boleh, boleh," ucap Raisa mengangguk cepat. Kami semua tertawa mendengar ucapan Raisa.*****

__ADS_1


__ADS_2