
Aku bergegas berlari, meninggalkan area kantor Arby. Segera kumatikan ponselku. Aku memasuki sebuah ruangan dan bersembunyi di balik pintu. Aku yakin Bibi Elis dan Luke curiga saat mendengar dering ponselku. Mereka pasti mengira ada yang telah mendengar percakapan mereka.
"Sepertinya gak ada siapa-siapa, Luke. Mungkin itu hanya dari karyawan lain," ucap bibi Elis, meretas kecurigaan Arby. "Nah, pasti orang itu, dia lagi berjalan sambil menelepon."
"Sebaiknya mama segera pergi. Jangan pernah lagi datang kemari. Aku yang akan menemui mama. Satu hal lagi, mama jangan memanggil nama asliku," ucap Luke memperingatkan mamanya.
"Baiklah, mama akan segera pergi. Jangan lupa transfer segera uang yang mama minta itu."
"Iya, Ma." ucap Luke tapi tiba-tiba aku mendengar suara gaduh. Seperti Bibi Elis di seret paksa. "Itu om, Handoko. Mama harus segera sembunyi," terdengar suara panik Luke. Luke mendorong ibunya ke ruangan tempat aku bersembunyi. Otomatis aku juga ikutan panik. Aku berlari ke arah jendela dan melompati jendela yang kebetulan rendah dan tidak pakai jerejak. Untunglah aku bisa keluar tepat pada waktunya.
Aku menarik napas lega setelah berada diluar, tapi seseorang menegurku membuatku kaget blingsatan.
"Kamu, ngapain di situ, Ren?" sapaan Dion mengagetkanku. Buru-buru aku meletakkan jari telunjukku di depan bibirku, menyuruhnya diam agar keberadaanku tidak diketahui Luke atau Bi Elis. Kuhampiri Dion dengan napas ngos-ngosan. Apa yang barusan kucuri dengar itu membuatku shock.
"Kamu kenapa?" selidik Dion menatapku curiga.
"Nanti saja aku cerita. Saat ini aku hanya butuh segelas air putih, untuk menenangkanku," ucapku terbata. Tenggorokanku serasa kering, untuk menelan salivaku sendiri rasanya sulit sekali.
"Ayo, kekantin," Dion menarik lenganku ke arah kantin. Meminta sebotol air mineral membuka tutupnya dan mengangsurkannya papdaku.
Terlihat sangat jelas kalau Dion mencemaskanku. Matanya tak henti berkedip karena tak sabar menunggu penjelasan dariku, apa yang telah terjadi sesungguhnya.
Aku meminum air minenral itu hingga separuh. Leherku kini terasa basah dan bisa menarik napas dengan lega.
"Terimakasih," ucapku singkat.
"Sekarang ayo cerita, apa yang telah terjadi sampai kamu keluar dari jendela." ungkap Dion menatapku lekat.
"Sepertinya ini bukan tempat yang aman untuk bercerita," jawabku karena suasana di kantin agak ramai.
"Baiklah aku menunggu kapan kamu siap saja."
"Iya, ayo kita pergi, sebelum papa curiga kenapa kamu menghilang,"
"Aku, menghilang? Aku tidak datang bersamaan dengan Om. Bahkan, om belum tau kalau aku sudah pulang." kernyit Dion heran dengan ucapanku.
"Tapi papa akan curiga padaku, pastinya papa mengira aku di ruangannya. Karena mobilku ada di tempat parkir."
__ADS_1
"Kamu ada janji dengan Om, ya?"
"Gak, juga. Cuma ada hal yang hendak kusampaikan pada papa."
"Oke, kita sama-sama saja." Aku dan Dion keluar dari kantin, setelah lebih dulu membayar air mineral.
Sesampai di ruangan papa, aku melihat Arby alias Luke tengah asyik berbincang. Sepertinya pembicaraan mereka serius. Aku berusaha manahan emosiku mengingat siapa Arby yang sebenarnya. Namun aku berusaha setenang mungkin, seolah tidak terjadi apa-apa. Aku inhin melihat sampai sejauh mana Arby akan bertindak.
"Siang, Pa, By, " ucapku.
"Eh, kamu Reny, dari mana saja. Papa melihat mobilmu di area parkir. Papa kira kamu sudah di ruangan papa." seru papa begitu melihat kemunculanku bersama Dion.
Kulihat, mata Arby mengernyit heran, sepertinya dia curiga sesuatu.
"Reny mampir ke kantin, Pa, soalnya haus. Dan berpapasan dengan Dion. Iya, kan?" ucapku menowel lengan Dion. Dion mengangguk seolah paham saja maksudku. Matanya menyorot bingung padaku, tapi aku acuhkan saja.
"Kapan kamu pulang, Pak Tara? Bukannya lusa baru pulang?"
"Iya, Pak. Urusan saya diluar dugaan cepat selesai, jadinya langsung pulang saja."
"Oh, baguslah. Saya, tunggu laporan kamu besok,"
"Oh, Reny, Papa minta maaf. Soal tender yang kemarin papa bicarakan dengan kamu, sebaiknya papa tarik lagi. Papa berikan saja pada Arby, biar adikmu saja yang memegangnya," ucap papa mengagetkanku. Dion juga menatapku heran.
"Kok, diubah, Pa?" protesku tak suka. Terngiang ucapan Bi Elis agar Arby menyingkirkan aku. Kedua jemariku meremas saling bertautan. Dadaku serasa sesak, ingin kubongkar saja kebusukan Arby dan siapa dia yang sebenarnya. Namun, aku berusaha bertahan. Aku ingin bermain cantik, agar bisa melihat sepak terjang Arby selanjutnya.
Aku harus bisa mengumpulkan bukti-bukti untuk kutujukkan pada papa. Tanpa bukti, tentu papa akan sulit mempercayai semua ucapanku.
"Bagaimana, Reny, kamu setuju gak? Papa akan berikan tender selanjutnya saja," ucap papa menatapku dengan penuh harap.
"Baiklah, Pa. Sepertinya Reny kesulitan juga dengan beberapa hal dalam berkas itu," ucapku mencoba tersenyum santai. Aku tidak ingin Papa atau Arby melihat kekecewaan di hatiku. Namun, sepasang mata yang sedari tadi diam melihat dan tidak mencampuri jelas melihat kekecewaan di manik mataku.
Hal itu terungkap saat perjalanan pulang. Dion menghiburku, agar aku tidak terlalu kecewa dengan putusan papa. Sebenarnya aku tidak kecewa akan.putusan papa, seandainya aku tidak mendengar percakapan Arby dan bibi Elis.
Juga, kalau tidak mjengetahui rencana jahat mereka. Dan siapa Arby yang sebenarnya.
"Sudah, jangan terlalu diambil hati. Toh, Arby adalah saudara kamu juga," ucap Dion membuka topik, saat melihatku sibuk dengan pikiranku sendiri.
__ADS_1
"Aku tidak masalah dengan tender itu. Aku hanya heran bagaimana, papa semudah itu, menarik ucapannya tanpa konfirmasi lebih dulu denganku. Bahkan ada masalah yang lebih besar dari sekedar tender itu," ucapku menumpahkan rasa kecewaku.
"Aku juga heran, itu bukan seperti pak Handoko yang kukenal selama ini. Beliau selalu memegang ucapannya, untuk hal sekecil apapun."
"Nah, itu. Setauku juga papa bukan orang yang mudah menarik ulur ucapannya. Apa papa kena pengaruh sesuatu? Apakah kecurigaanku terlalu berlebihan?" tanyaku memandang Dion.
"Maksud kamu itu apa? Sepertinya kamu tau sesuatu hal. Apa maksudmu ada masalah yang lebih besar itu," Dion menatapku lekat. Dia menepikan mobilnya agar kami leluasa bicara.
Aku balas menatap Dion, mereka-reka apakah Dion layak untuk kuberitahu kejadian siang tadi. Aku tidak memiliki sesiapa selain, Dion, untuk tempatku curhat. Dion satu-satunya yang kupercaya untuk berbagi, sebelum aku berterus terang pada Papa dan mama.
"Kamu meragukanku, ya?" tebak Dion saat melihatku terdiam cukup lama.
"Bukan!" sanggahku. "Aku hanya tidak tau harus memulai dari mana. Semua ini serasa mimpi saja. Aku sendiri masih bingung dan tidak.percaya."
"Kamu bicara tentang siapa, Reny? Cobalah untuk rileks dulu," Dion menyuruhku menarik napas perlahan dan melepasnya perlahan juga. Aku mengikuti arahannya, memang terasa agak lapang sekarang.
"Nah, sekarang kamu coba untuk cerita, secara perlahan. Apa sebenarnya yang mengganjal di hatimu," Dion menatapku lembut, senyumnya itu cukup menghipnotisku untuk memulai cerita itu padanya.
"Ini soal Arby, ternyata dia bukan Arby yang selama ini jadi anak papa dan mama. Dia adalah Luke saudara kembar Arby, yang selama ini di asuh bibi Elis." akhirnya meluncur juga ucapanku membuka tabir rahasia Arby.
"Maksud kamu apa, aku tidak mengerti?" Sahut Dion kebingungan. Aku menceritakan apa yang kucuri dengar dari percakapan Bibi Elis dan Luke tadi siang. Juga soal rahasia Arby yang ternyata adalah anak kandung Bibi Elis. Ternyata Arby punya saudara kembar, Luke.
"Jadi, Arby adalah anak kandung bibi Elis, saudara kandung pak Handoko?" beliak Dion kaget mendengar ceritaku.
"Iya, bi Elis sengaja membuangnya di teras rumah papa dan mama waktu itu. Setelah aku hilang, agar papa dan mama mengadopsinya menggantikanku. Aku curiga, jangan-jangan bi Elis juga terlibat atas penculikanku. Papa juga tidak pernah akur dengan bi Elis selama ini. Itulah sebabnya Arby benci pada bi Elis dan lebih memilih pergi ke Papua, hanya untuk menghindari bi Elis. Aku sempat curiga, saat Arby bilang mau pulang dan ingin membantu papa mengelola perusahaan. Sesuatu yang dia elakkan selama ini. Tak taunya semua ini adalah rencana jahat, bibi Elis," ucapku mengakhiri cerita.
"Aku juga sempat curiga, tapi aku tepiskan. Siapa tau Arby memang telah berubah. Bagaimana bisa mereka begitu mirip. Sehingga semua orang terkecoh," ucap Dion.
"Aku juga sama sekali tidak bisa membedakan mereka. Bahkan papa dan mama yang sudah puluhan tahun mengenalnya. Aku yakin papa dan mama akan shock saat tau semua ini,"
"Lalu Arby bagaimana? Apa kamu tau khabarnya," tanya Dion.
"Aku sudah mencoba meneleponnya tadi, tapi tidak aktif. Mungkin dia sibuk atau terjadi sesuatu padanya. Aku benar-benar mencemaskannya," ucapku.
"Kamu tidak usah khawatir. Serahkan semua ini padaku. Aku akan menyuruh seseorang menyelidiki keberadaan Arby dan Luke," Dion mencoba menghibur dan menyakinkanku.
"Trimakasih, ya. Aku tidak akan tau apa yang terjadi kalau kamu tidak ada," ucapku terisak. Aku sangat khawatir sekali.
__ADS_1
"Sudah, kita perbanyak doa saja, semoga semua baik-baik." *****