
"*Singkapkanlah tabir itu, agar kamu bisa melihat apa yang tersimpan di baliknya. Raihlah mimpimu, tunjukkan siapa kamu yang sebenarnya!"
Hari* pertama aku masuk bekerja di perusahaan papa. Meskipun aku telah dibekali belajar selama kurang lebih enam bulan ini, tetap tidak bisa menumbuhkan rasa percaya diriku. Sebab ini pengalaman pertamaku masuk kerja kantoran. Pekerjaan terakhir yang pernah kugeluti adalal sebagai kasir, di sebuah toko swalayan.
Aku yang minim ilmu dan pengalaman, jelas grogi untuk memulai pekerjaanku. Walaupun aku sudah belajar cukup keras untuk itu. Soalnya teori dan praktek itu pasti jauh berbeda.
"Semua orang pasti merasa kesulitan saat pertama kali bekerja, Nak. santai saja, jangan mikirin yang gak-gak," nasehat mama sangat membantu mensupport aku.
"Rileks, Reny. Semua orang butuh proses belajar," ucsp papa juga mendukungku.
"Makasih Pa, Ma, atas dukungannya."
"Untuk sementara ini, kamu akan didampingi seseorang. Biar kamu tau tugas-tugas kamu,"
"Iya, Pa. Ma, gimana udah pas gak, ini."ujarku seraya mematut diri di depan mama. Sedari tadi aku gak pd dengan pakaian yang aku kenakan. karena belum terbiasa.
"Sudah, kok. Pantas dan cantik sekali," puji mama, tapi tetap saja aku grogi. Papa sampai tertawa melihat tingkahku.
__ADS_1
"Kamu, seperti mau digiring saja ke tukang jagal. Itu kantor milik papa. Jadi gak usah nervous berlebihan. Emang ada yang mau makan kamu di sana?" kekeh papa mengejek.
"Justru karena itulah, Pa. Aku terbebani. Mentang-mentang punya orangtuanya, mau seenaknya saja, gitu."
"Itukan, hanya perasaanmu saja. Belum tentu mereka berpikir seperti itu. Lagian, belum mulai saja, kamu sudah berpikir negatif. Ribet amat," mama menepuk bahuku, seraya mengiringi langkah kami ke teras. Aku menyalam serta mencium punggung tangan mama sebelum masuk ke dalam mobil. 15 menit kemudian kami telah sampai di perusahaan papa. Beberapa orang yang berpapasan dengan kami, mengangguk hormat.
"Ayo, Reny. Ini adalah pusat kantor, Papa. semua kegiatan bisnis papa dikendalikan dari sini. Memang ada beberapa kantor cabang di luar kota. O, ya, ruanganmu ada dilantai 3. Ayo, papa ajak kamu berkeliling, sekalian memperkenalkanmu pada karyawan di sini." ucap papa lalu mengajakku berkeliling. Gedung berlantai 4 itu nampak megah, dibanding kantor di sekitarnya.
Aku menyimak semua ucapapn papa, sesekalai aku bertanya hal yang tidak aku mengerti. Lalu aku diajak papa ke lantai tiga.
"Nah, ini ruang kerjamu. Papa ada di lantai 4. Sri, tolong kamu beri penjelasan papda Reny, sistem kerja kita. Mulai hari ini, dia akan bekerja di sini." ucap papa pada seorang wanita, mungkin dia sekretaris papa.
"Nanti kalau sudah selesai, tolong antar, Reny ke ruangan bapak."
"Baik, Pak," sahut Sri.
Sri, menjelaskan beberapa hal penting dan menyerahkan sebuah map coklat padaku.
__ADS_1
"Map ini berisi beberapa catatan, Bu, tentang perusahaan ini." Aku menyimak sekilas catatan itu, lalu menutupnya kembali. Sebaiknya nanti saja kuperiksa. Karena masih harus ke ruangan papa. Sri, mengantar aku ke ruangan papa, setelah mengetuk pintu, terdengar suara papa menyuruh masuk
"Masuklah, Reny." Aku mendorong pintu dan melihat papa tengah duduk di kursi kebesarannya. Papa bangkit dari kursi, menuju kursi tamu yang tertata apik .
"Bagaimana, kamu pasti betah bekerja di sini 'kan?" tanya Papa dengan senyum lebar.
"Iya, Pa," anggukku.
"Bagus, Papa memang berharap kamu bisa menyesuaikan diri, bekerja di sini. Perlahan saja, sambil belajar. Nanti kamu akan paham dengan sendirinya." Papa menghenyakkan tubuhnya di kursi tamu empuk.
"Aku akan berusaha, Pa."
"Oh, ya, buat sementara Papa, menyuruh seseorang untuk mendampingimu secara khusus. Jika ada hal-hal yang tidak kamu mengerti, tanyakan saja padanya. Sebentar lagi dia datang, Papa sudah menghubunginya tadi." Baru lagi papa selesai bicara, terdengar ketukan di pintu. Papa, menyuruh masuk.
Seketika, aku terkejut saat melihat sesosok tubuh jangkung, berdiri di pintu. Dion? Sentak hatiku kaget. Sejak sidang perceraianku, inilah pertama kalinya kami bertemu lagi. Kesibukannya yang luar biasa, membuat kami tak terhubung lagi.
"Silahkan duduk, Pak Tara," ucap Papa ramah. Aku beringsut dari sofa pindah ke dekat Papa, memberi ruang untuk Dion.
__ADS_1
"Hai, Reny, apa khabar?" sapanya begitu duduk berhadapan denganku.
"Khabar baik," ujarku. Aku mendadak merasa canggung terlebih karena di depan Papa. Semoga saja bukan Dion, orang yang dimaksud papa menjadi pembimbingku.***