Rasa Yang Hilang

Rasa Yang Hilang
Bab 73


__ADS_3

"Bu, bangun Bu?" Sarah terus mengguncang tubuh ibu mertuanya. Panik campur kesal silih berganti menggerogoti pikirannya. Panik, bila terjadi sesuatu pada ibu mertuanya. Meninggal misalnya, mereka tidak punnya sanak saudara di tempat mereka tinggal.


Kesal, jika ibu harus berurusan dengan rumah sakit. Perawatan rumah sakit sangat mahal, belum lagi mikirin siapa yang akan jaga nanti jika harus dirawat inap di sana.


"Aduh, Bu, bangun dong. Ngapain sih pake acara pingsan segala, bikin susah tau," sentak Sarah seraya menciprat wajah mertuanya dengan air. Ibu Henny tetap diam saja, tak merespon tindakan Sarah.


Huuh! Sarah menggerutu panjang pendek. Tak ada cara lain, di malam selarut ini, Sarah harus ke rumah bidan Vivi. Mana rumahnya jauh lagi, siapa yang harus jaga ibu? Sarah bergegas ke kamar anaknya, membangunkan kedua bocil itu.


"Martin, Vickky, ayo bangun." keduanya susah sekali di bangunkan membuat emosi Sarah makin tak terkendali. "Ayo, Tin, bangun nak, cepetan, nenek lagi pingsan. Mama mau jemput bidan Vivi," sentak Sarah menarik selimut yang membalut tubuh anaknya.


"Apaan sih, bangunin Martin, malam-malam begini?" usap Martin pada matanya yang terasa berat. Bocil itu masih setengah sadar, menguapff panjang dan berusaha mengumpulkan kesadarannya.


"Ayo dong, Tin, lekas jangan malasan lagi. ini darurat," pekik Sarah saat melihat anaknya masih enggan bangkit dari tempat tidur. Seketika, Martin terlonjak dan menghambur dari ranjang.


"Iya, ma, ada apa!" serunya panik.


"Nenek jatuh pingsan, kamu tungguin nenek dulu, mama mau jemput Bidan Vivi," ucapku.


"Tapi, Ma. Ini udah tengah malam, mana rumahnya jauh lagi."


"Mau bagaimana lagi, nanti nenek kenapa-napa gimana? Udah, mama pergi dulu, kunci pintunya dari dalam. Jangan buka kalau bukan mama yang datang." Sarah bergegas mengambil kunci kontak dan helem. Ditengah malam dia membelah dinginnya malam menuju rumah Bidan Vivi. Giginya gemeletuk menahan angin yang menusuk.


Jika tau akan begini merepotkannya Ibu mertuanya, mending gak usah dia ajak tinggal di rumahnya.Akhir-akhir ini dia selalu gampang sakit. Sikit-sikit ngeluh sakit dan ini puncaknya jatuh pingsan.


"Bu, Bidan....," Sarah menggedor pintu gerbang rumah Bidan Vivi, berkali-kali. Suara pagar besi yang beradu memecah keheningan malam. Dalam rumah itu sudah nampak gelap gulita, pertanda penghuninya sudah lelap.


Sarah merasa putus asa. Rasa takut, cemas dan panik, makin melilit segenap perasaannya, berbaur menjadi satu membuat lemas seluruh persendiannya.

__ADS_1


Sarah berbalik, memutar arah untuk kembali, ketika dia melihat lampu di ruang tamu Bidan Vivi menyala. Suara anak kunci diputar dan handel pintu ditarik sehingga pintu rumah terbuka.


Bidan Vivi dan suaminya muncul diambang pintu. Menatap keluar rumah dengan kesadaran yang belum pulih sepenuhnya.


Sarah bergegas turun dari motornya, menghampiri pintu pagar besi.


"Bidan Vivi, tolong saya, Bu Bidan," teriak Sarah, sebelum Bidan Vivi berbalik arah, karena tak melihat tamu di luar.


Bidan Vivi melihat keberadaan Sarah di luar pintu gerbang. Bidan Vivi menghampiri pintu pagar.


"Ada apa, Bu?"


"Tolong saya, Bu Bidan, mertua saya pingsan di rumah."


"Tunggu sebentar, aku ambil dulu peralatanku." Bidan Vivi bergegas masuk lagi ke rumah dan kembali keluar bersama suaminya,


Setiba di rumah, Bidan Vivi langsung menangani pasien. Dia memeriksa urat nadi Bu Henny yang lemah.


"Beliau harus segera dibawa ke rumah sakit. Peralatanku tidak memadai untuk merawat beliau," desah Bidan Vivi, menghela napas panjang.


"Memang mertua saya kenapa, Bu Bidan?" tanya Sarah.


"Sakit beliau sangat parah, saya takut beliau tidak hisa bertahan. Jadi kita harus bertindak cepat. Ayo, Pa kita bawa ke rumah sakit." Bidan Vivi bertindak dan membereskan peralatannya.


"Tapi, Bu, saya tidak punya biaya kalo ibu mertua harus dirawat di rumah sakit. Apa tidak bisa dirawat di rumah saja." Ungkap Sarah mengutarakan keberatannya.


"Perlatan saya kurang memadai, Bu, kalau beliau dirawat di rumah. Masalah biaya, ibu bisa mengurus BPJS. Ayo, beliau harus mendapat perawatan segera, sebelum terlambat." Bidan Vivi mengikuti langkah suaminya yang telah memindahkan Bu Henny ke dalam mobil. Mau tak mau Sarah harus menurut.

__ADS_1


Dalam hati dia ngedumel panjang pendek. Sudah kebayang di benaknya betapa repot mengurus ibu mertuanya nanti setelah di rawat di rumah sakit. Belum lagi akan biaya perwatannya yang jumlahnya nanti tidak sedikit. Sarah memutar otak, bagaimana caranya nanti menutupi biaya perobatan ibu mertuanya.


Memang sih, dia masih punya simpanan uang ibu, hasil penjualan rumah beliau. Namun, kalau uang itu dipakai dan jumlahnya banyak, bisa gagal nanti rencananya untuk memiliki mobil


Sekarang saja, uangnya masih kurang. Kalau dipakai untuk biaya perobatan ibu, duh makin berkuranglah itu. Sarah, terus memutar otaknya, bagaimana cara mendapatkan bia6a perawatan ibu mertuanya, tanpa harus mengobok-obok isi tabungannya.


Tiba-tiba, Sarah, mendapat ide. Dia akan menghubungi adik iparnya, Doly dan Rio. Tentunya mereka itu tidak akan tinggal diam, kalau mendengar kabar sakitnya ibu. Pasti mereka akan mengirim biaya pengobatan ibu. Bisa saja, mereka malah akan merujuk ibu ke rumah sakit yang lebih besar, dan mereka yang gantian merawat. Aku bisa terlepas nanti, dari tanggung jawab merawat ibu. Monolog hati Sarah terputus ketika mereka tiba di rumah sakit Tentara.


Bu Henny langsunga dibawa ke ICU, untuk pemeriksaan lebih lanjut. .


"Ibu, yang sabar ya, semoga beliau kuat dan tidak apa-apa," ucap Bidan Vivi menyemangati Sarah.


"Makasih, Bu," sahut Sarah dengan wajah memelas. Berpura-pura sedih untuk mendapatkan simpati. " Maaf ya, telah merepotkan, Bu Bidan."


"Tidak apa-apa, itu sudah sumpah jabatan kami.Kami harus memberi pelayanan kepada yang membutuhkan."


"Saya, mau telepon adik ipar dulu, Bu. Soal keadaan ibu mertua."


"Oh, silahkan, Bu."


Sarah meninggalkan Bidan Vivi di ruang tunggu.Lalu menelepon Doly dan Rio.Lama sekali mereka baru terhubung, karena memang sudah tengah malam. Waktunya orang sedang istrirahat.


"Halo, Kak Sarah, ada apa telepon tengah malam begini," sahut Doly di seberang dengan suara agak ketus, karena merasa terganggu.


"Ibu, masuk rumah sakit, barusan masuk ruang ICU. Ibu terjatuh dan pingsan, sampai sekarang belum sadarkan diri," tutur Sarah dengan suara dibuat sesedih mungkin. Bahkan terdengar isaknya oleh Doly.


Doly tersentak kaget mendengar kabar itu.Lantas menanyakan beberapa hal secara detail, soal perawatan ibunya. Biarpun masih kesal akan ulah ibunya, tapi saat mendengar ibunya sakit, hatinya sangat mencemaskan keadaan ibunya yang belum sadarkan diri.

__ADS_1


Doly akan akan datang segera katanya, begitu juga dengan Rio. Sarah, tersenyum puas karena rencananya akan berjalan lancar. Terhindar dari merawat ibu mertuanya. Akal bulus Sarah memang licik. ***


__ADS_2