
Wajah bibi Elis dan Luke langsung berpaling ke arahku. Mata mereka menyorot sinis sekaligus panik.
"Maksud kamu apa, Reny? Ucap bi Elis sejenak setelah bisa menguasai keadaan. Aku salut luar biasa melihat aktingnya. Senyumnya, begitu renyah dengan ekspresi antara bingung dan heran.
"Reny kira, bibi cukup paham apa yang aku katakan. Bibi tidak usah berpura- pura lagi."
"Kamu jangan ikut campur, urusan orang tua Reny," kecam Bibi Elis mengintimidasi. Aku tidak peduli.
"Katakan saja yang sejujurnya, Elis. Kamu itu terlalu berbelit-belit. Jadi benar, Arby, punya saudara kembar? Dan yang bersama kita sekarang ini adalah saudara kembarnya, Arby, namanya Luke. Iya' kan?" ternyata kesabaran papa telah habis.
Tanpa basa-basi lagi papa langsung membuka kedok mereka. Netra bibi Elis langsung membulat, Luke juga panik. Tapi sekejap kemudian Bibi Elis tertawa lepas. Seolah perkataan papa adalah lelucon yang menggelikan.
"Kamu dapat dari mana kabar murahan itu, Handoko. Tidak kusangka kamu itu suka juga bergosip," kekeh Bibi Elis, sungguh bebal dan membuatku kesal.
"Ini bukan sekedar gosip, Bibi. Aku mendengar sendiri pembicaraan Bibi dan Luke, saat Bibi mendatanginya ke kantor . Dan soal rencana jahat Bibi, yang bekerja sama dengan lelaki bernama Hans, aku juga punya bukti." dengusku gusar.
"Arby tidak punya saudara kembar. Dia adalah Arby, bagaimana bisa kalian lebih tau dari aku!" sentak bi Elis.
"Bibi, bohong! Dia adalah Luke, karena kemiripan mereka yang hampir sempurna, Bibi mamfaatkan itu untuk menipu, Papa. Bibi pasti telah menculik Arby dan menyekapnya, karena Arby tidak pernah sampai di Papua. Lalu Bibi mengatur skenario, menyuruh Luke berpura-pura jadi Arby. Seolah Arby ingin membantu papa berbisnis. Yang membuat Arby pergi ke Papua adalah untuk menghindari, Bibi. Dan satu hal lagi, Arby selalu memakai tangan kirinya setiap beaktivitas," jelasku panjang lebar.
"Cukup, Reny! Kamu jangan kurang ajar ya, menuduh orang sembarangan!" hardik Bibi Elis. Sementara Luke, matanya nanar karena merasa tertangkap basah.
"Ini buktinya, Bi. Persekongkolan bibi dengan Hans!" Aku memperlihatkan rekaman vidio itu. Wajah Bibi Elis sontak pucat pias. Mulutnya seolah terkunci tak bisa bicara apapun lagi.
"Bagaimana? Kamu masih mau mengelak juga, Elis? Entah apa yang merasuki jiwamu, tak pernah berhenti balas dendam padaku," ucap papa penuh tekanan. Bibi Elis, membuang muka, ketegangan semakin meraja diantara kami semua.
Sepertinya Bi Elis masih berusaha berkelit, menghindar dari tuduhan. Mulut Bi Elis komat kamit tak jelas, berusaha berbicara.
"Luke, sekarang kamu jawab yang sejujurnya. Apa benar semua tuduhan itu? Kamu menyaru sebagai Arby, untuk menipu Paman. Benar kalian berkonspirasi untuk menghancurkan paman?"
__ADS_1
Luke menatap sekilas pada Bi Elis, jelas dia merasa terjepit. Antara mau jujur dan membela ibunya, sebuah pilihan yang sulit dilakukan. Bibi Elis melotot, memainkan bola matanya. Sebuah isyarat mungkin agar Luke menutup mulut.
"Semua itu tidak benar, Pa. Saya adalah Arby, masak papa tidak bisa mengenali saya, sih." ucap Arby masih mencoba meyakinkan papa.
"Cukup! Aku tidak ingin dengar apa-apa lagi dari kalian. Sejak malam ini, semua fasilitas yang telah aku berikan, aku tarik kembali. Mulai besok, kamu tidak usah masuk kantor lagi, sampai penyelidikan selesai." papa memberi ultimatum. Luke, benar-benar panik mendengarnya.
Tiba-tiba Luke melompat ke arah papa, dan mengambil garpu dari piring papa.
Kami semua tak menduga tindakan nekad, Luke. Luke, menaruh garpu itu di leher papa, dan mengancam kami.
"Benar, saya memang bukan Arby. Arby, sudah mati, aku buang ke laut. Dia tidak pernah sampai ke Papua." Luke, menyeret papa dari meja makan. Papa masih berusaha tenang. Dion, bergerak hendak menolong papa.
"Cukup, sampai disitu, Dion. Selangkah lagi, kamu maju garpu ini akan akan menembus leher calon mertuamu!"
"Luke, apa-apaan kamu!" teriak Bi Elis, panik. Mungkin tak menyangka Luke akan senekad itu.
"Apa yang hendak kamu lakukan, Arby? Tolong lepaskan papa, kenapa kamu jadi seperti ini, nak?" seru mama, yang belum percaya kalau Luke bukanlah Arby.
"Aku bukan, Arby! Aku adalah Luke," hardik Luke tajam. Mama melongo tak percaya.
"Tidak! Kamu adalah Arby, anak yang kuasuh selama ini. Kenapa kamu tiba- tiba berubah seperti ini? Elis, apa yang telah kamu lakukan kepada anak-anakmu. Bagaiamana kamu begitu tega, mengorbankan anakmu demi ambisimu itu. Ibu macam apa kamu ini!" teriak mama pada Bi Elis.
"Aku ingin menghancurkan hidup kalian. Seperti kalian telah menghancurkan hidupku dulu," kecam Bi Elis.
"Aku justru hendak menyelamatkan hidupmu dari laki-laki itu, Elis. Buktinya dia menelantarkan kamu. Dan lebih memilih uang dari pada kamu dan anakmu. Kamu saja yang bodoh, sampai sekarang tak percaya kalau Dito itu laki-laki berengsek!"
"Tidak! Kamulah yang membuat dia pergi meninggalkan aku. Kalau saja kamu tidak turut campur dalam hidupku, aku tidak akan menderita dan menyimpan dendam padamu!"
"Dito, tidak pernah mencintai kamu, Elis. Dia hanya inginkan uangmu." ungkap papa. Aku terkejut ternyata dendam Bi Elis pada papa karena berlatar masalah asmara.
__ADS_1
"Kalau memang Dito, mencintaimu dia tidak akan menerima tawaran uang itu. Padahal aku hanya hendak mengujinya saja waktu itu. Dia sudah beristri dan memiliki anak. Dito hanya ingin memamfaatkan kamu," lanjut papa.
"Tidak! Aku tidak percaya dengan semua kebohonganmu."
"Terserah kamu, Elis. Aku sudah lama menyelidiki kehidupan Dito. Agar aku tidak gegabah membuat keputusan. Kamu saja yang terlalu buta, sampai sekarang kamu salah paham dengan semuanya."
"Terlambat untuk semua penjelasanmu, aku sudah bertemu Dito. Kamulah yang membuat dia pergi meninggalkan aku. Kamu tawarkan dia sejumlah uang. Jika tidak kamu akan membunuhnya. Karena itulah aku bekerja sama dengan anaknya, Hans. Kamu akan hancur Handoko, semua hartamu kini akan beralih padaku. Hahaha...." teriak Bi Elis seraya tertawa.
"Kamu memang bodoh, Elis. Kamu pikir aku sebodoh itu, mau menyerahkan semua hasil kerja kerasku."
"Kamu tidak punya pilihan, Han. Jika aku bisa menyingkirkan Arby dengan mudah, meski dia adalah darah dagingku sendiri. Menyingkirkan kalian juga, bukanlah hal sulit untuk kulakukan.
Luke, bawa kesini lelaki tua itu," Bibi Elis mengeluarkan senjata api dari tasnya. Menodongkannya kearah papa.
Kami semua terkejut melihat tindakan Bi Elis.
"Bi Elis, jangan main- main dengan senjata itu," teriak Dion, berusaha menenangkan Bi Elis.
"Tergantung sikap kalian. Jika kalian macam-macam senjata ini tidak akan segan- segan berbicara. Ayo, Handoko, kamu tanda tangani surat ini. Bahwa kamu menyerahkan semua harta dan perusahaan kamu menjadi milikku."
Luke, menyeret papa dan dibawah todongan senjata Bibi Elis memaksa papa untuk menandatangani seberkas surat.
"Tidak! Kamu pikir akan bisa bebas begitu saja, Elis?"
"Ayo, Handoko! Apa perlu aku memaksamu. Menghabisi satu persatu keluargamu. Oke, aku akan lakukan membantai keluargamu. Pertama, istri cantikmu ini. Aku akan menghabisinya secepat mungkin, tanpa rasa sakit." Bi Elis menodongkan senjata ke arah mama. Mama sangat ketakutan.
"Kamu jahat, Elis! Sebenarnya apa maumu, apa belum cukup dengan nyawa, Arby? Anak yang kau buang sejak kecil?" ucap mama.
"Hem, jangan ingatkan aku soal masa lalu itu. Karena malam ini juga kamu akan menyusulnya," Bibi Elis tanpa ragu menodongkan senjata itu kearah mama.*****
__ADS_1