
Setelah mendapat nasihat dari sang ayah, Lisa segera menghubungi Sakti. Tapi belum ada jawaban dari sang suami walaupun Lisa sudah beberapa kali melakukan panggilan. Ada perasaan bersalah di hati Lisa, dari semalam ia mendiamkan Sakti hanya karena sebuah ciuman. Sungguh aneh, sudah halal tapi di cium suami saja marah.
"Yah, aku pulang dulu ya? Mas Sakti tidak bisa di hubungi dari tadi." Lisa merasa tidak tenang karena memikirkan Sakti.
"Iya, pulang lah pasti Sakti menunggumu di rumah kalian."
"Ayah tahu kalau Mas Sakti membeli rumah?"
"Tentu saja tahu, kalian akan pindah satu minggu lagi bukan?" Ucap Yoga pada putrinya.
"Ayah dan Ibu tidak keberatan?" Lisa memastikan lagi kepada ayahnya.
"Tentu saja tidak, kalian butuh waktu bersama agar lebih saling mengenal."
"Baiklah Lisa pergi dulu ya yah?" Ia berdiri mengambil tas miliknya yang terletak di sofa. Ia segera keluar dari ruangan sang ayah sambil berlari karena ojek online pesanan nya sudah menunggu di depan.
Lisa berjalan menuju ke lantai dua. Ia buka pelan pintu kamar. Benar saja, suaminya sedang terlelap di ranjang king size milik mereka. Lisa ikut membaringkan tubuhnya di samping Sakti. "Aku tidak akan menolak mu lagi mas?" bisik Lisa di telinga Sakti.
__ADS_1
"Hemm..." Sakti menggeliat, tidurnya merasa terusik dengan bisikan Lisa. Samar-samar ia mendengar suara.
Sakti membuka pelan matanya. Ada tangan yang melingkar di perutnya. Mungkinkah ini mimpi? Bukankah Lisa masih di restoran. Ia buka matanya di lihat nya Lisa sedang memeluk dirinya.
"Kamu sudah pulang?" tanya Sakti.
"Iya Mas."
"Kenapa tidak telepon, Mas bisa jemput." Ucap Sakti bangkit dari tempat tidurnya dan ingin melepas pelukan tangan Lisa.
"Mas! Maafkan aku?" Suaranya tertahan, dan buliran bening lolos dari kedua sudut matanya yang indah. Air mata penyesalan dari seorang istri yang mengabaikan suami sebaik Sakti.
"Duduklah!" Sakti membantu Lisa untuk duduk bersandar di headboard ranjang.
"Aku minta maaf Mas? aku salah, aku istri tidak tahu malu. A-ku..." Ucapan Lisa terhenti saat Sakti mengarahkan telunjuknya di bibir Lisa.
"Kau ini kenapa? bicaralah pelan-pelan. Dan aku rasa, tidak ada yang harus minta maaf dan tidak ada pula yang harus di maafkan Lisa."
__ADS_1
"Soal yang tadi malam, aku tidak bermaksud mendiamkan mu Mas, aku hanya belum bisa menerima semua ini. A-ku..." Lisa tidak bisa melanjutkan ucapannya. Sebagai pria dewasa tentu Sakti mengerti arah pembicaraan sang istri.
"Aku sudah bilang kan, akan menunggumu. Kapan pun, kau buka hatimu." Sakti menggenggam tangan Lisa lalu mencium nya.
"Baiklah buat aku cinta padamu mas? agar aku bisa..." Lagi-lagi Lisa tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Sakti membuang napas kasar, apakah istrinya akan mengungkapkan rasa cinta nya masih untuk pria lain. Dan miris nya lagi, ini baru dua hari mereka sebagai suami istri.
" Agar bisa apa?" Sakti sengaja memancing sang istri. Akankah Lisa jujur? walaupun ia sendiri tahu apa yang akan di ungkapkan sang istri. Tapi kejujuran yang menyakitkan lebih baik dari pada kebohongan bukan? Sakti sudah tahu semuanya dan ia hanya ingin menguji sang istri setidaknya hanya untuk sekali ini.
Lisa memejamkan mata ia remas seprai dengan kuat agar bisa mengurangi rasa gugup nya. "Agar aku bisa melupakan dia mas. Maafkan aku? tapi aku tidak pernah berhubungan dengan nya, tapi aku dan dia saling menyukai. Tapi aku tidak pernah berbuat macam-macam dengan dia ataupun pria manapun. Jadi, tolong..." Air mata Lisa semakin deras mengalir. Berkali-kali ia menghalau cairan bening itu, tapi sial nya tetap turun tanpa permisi.
Sakti tersenyum, Ia tidak menyangka istrinya akan mengakui semuanya. Ia hapus air mata yang membasahi pipi Lisa.
" Aku akan memberimu banyak cinta, kau hanya tinggal menerimanya." Ucap Sakti tegas kepada Lisa.
Maaf baru up 🙏🙏
__ADS_1
Terimakasih sudah menyempatkan membaca karyaku 🙏
Jangan lupa like dan komen ya