
"Iya, ternyata papa, masih ingat." sahut mama.
"Bibi Elis, kenapa keguguran, Ma?" tanyaku yang sedari tadi cuma menyimak.
"Entahlah, Mama gak tau cerita yang sebenarnya. Soalnya papa marah besar ke Bibi Elis, karena hamil di luar nikah. Pacarnya, malah nikah sama perempuan lain. Bibi Elis itu sama Papa selalu bentrok, gak mau dengar nasehat papamu. Hingga terjadi kejadian itu. Sebenarnya mama juga kasian saat itu, tapi papa terlalu keras."
Aku memandang Arby, membaca ekspresi wajahnya. Namun jelas aku lihat kalau dia berusaha menjaga sikap, agar cerita mama tidak mempengaruhinya.
"Papa terpaksa waktu itu, semua adalah untuk kebaikan Bibimu. Setiap kali dinasehati, selalu membantah. Akhirnya papa lepas tangan, tak peduli lagi apa yang mau dia lakukan. Kenapa, By? Apakah kamu berpikir kalau kamu ada hubungan dengan bibimu itu? Apa seseorang mengancammu?" cecar papa menatap Arby penuh selidik. Sebuah naluri yang tajam, andai Arby masih bocah ingusan, tak menunggu dua kali pasti mengaku.
"Tidak pa, aku hanya berandai saja," seperti dugaanku Arby dengan cepat membantah. Berkelit dari kecurigaan papa.
Namun, tak disangka! Entah dari mana dan sejak kapan dia menguping pembicaraan kami, tiba- tiba sebuah suara menghentakan ruangan.
"Yah, benar! Dia ada hubungan dengan ku. Dia adalah anakku, keponakan kamu sendiri Handoko!"
Kalaulah petir menyambar malam itu, kami semua tidak akan kaget, tapi saat mendengar kata itu, kami semua yang ada di ruangan terkejut seperti kena sambar petir.
Terlebih Papa, beliau sampai berdiri dan menatap Bibi Elis dengan tatapan menghujam.
"Kamu kaget ya, Kak. Ternyata, anak yang kau kecam keberadaannya di rahimku, ternyata kakak yang mengasuhnya hingga dewasa." Dengan enteng bibi Elis bicara dan menghampiri kami. Aku melirik ke arah Arby, wajahnya berubah-ubah antara pucat dan kemerahan.
Ruangan yang tadinya hangat kini terasa dingin mencekam, seperti baru terjadi pembantaian. Aroma, mesiu kemaraha mulai tercium, tersulut dari percikan api yang dinyalakan, Bibi Elis.
Dua pria berbeda generasi, dengan satu ekspresi, menahan amarah, mendarat lekat di wajah Bibi Elis.
"Apa maksudmu? Lancang sekali kamu menginjak rumahku seolah rumah ini adalah diskotik," ucap Papa geram.
"Persetan dengan segala tata krama. Aku datang ke sini hanya berurusan dengan Arby."
__ADS_1
"Arby adalah anak kami, ada urusan apa kamu dengannya," ucap mama lantang.
"Kakak ipar, tak usah turut campur urusan keluarga kami."
"Jika itu menyangkut anak-anakku dan keluargaku, kamu tak berhak melarangku," sergah mama. Aku segera mengusap lengan mama. berusaha menenangkannya.
"Bibi, bicaralah baik-baik. Ada maksud apa bibi datang malam-malam begini," timpalku.
"Cukup! Tutup mulutmu, Reny. Semua orang bisa kau tipu, tapi aku tidak akan pernah bisa menerima kehadiranmu di rumah ini."
"Jangan mengalihkan topik, Lis. urusan Reny adalah urusan keluargaku. Bukan ranahmu berargumen apakah dia pantas di rumah ini atau tidak. Apa maksud kamu menyatakan Arby anakmu. Secara hukum dia adalah anak kami." ucap papa tegas.
"Ayo, Bibi , kita keluar." Mendadak Arby menyeret lengan Bibi Elis keluar dari ruangan, tapi dihalangi papa.
"Arby, tunggu! Biarkan dulu Bibimu menjelaskan apa maksud semua ucapannya." Bibi Elis menepiskan pegangan Arby pada lengannya. Arby hanya bungkam saja, sepertinya dia tak berniat protes. Mungkinkah dia melihat situasi dulu baru bicara.?
"Ya, Arby adalah anakku. Aku sengaja meletakkannya di teras malam itu. Agar kalian mengadopsinya," beber Bi Elis tenang. "Malam itu, setelah dua minggu aku melahirkannya, aku meletakkannya di teras rumah kakak. Karena bagaimanapun, aku belum ingin direpotkan oleh seorang bayi. Dan kalianpun telah kehilangan anak kalian, tidakkah lebih baik kalian mengadopsi anakku saja," ucap Bibi Elis tanpa beban.
"Lalu, sekarang apa maksudmu memberitahu kami semua ini. Kenapa tidak sedari dulu kamu bicara? Dasar ibu berhati Iblis! dengan bangganya kamu mengakui perbuatanmu seolah kamu jualan jengkol. Tidak kamu pertimbangkan seperti apa perasaan Arby, jika benar dia adalah anakmu!" umpat papa dengan geram.
"Dia memang anakku!"
"Lalu, kenapa kamu buang dia selama ini! Kenapa baru sekarang kamu mengakuinya!" ucap papa menggelegar. "Ku pikir setelah kamu lakukan satu kesalahan, kamu akan belajar dari kesalahan itu. Nyatanya kamu malah berkubang di sana."
"Papa, sabar. Ingat jantungmu," ucap mama khawatir. Takut sesuatu akan terjadi kalau papa terlalu emosi. "Elis, kamu kenapa sih, selalu saja membuat rusuh di rumah ini. Kenapa baru sekarang kamu mengaku-ngaku sebagai ibunya Arby. Jika dia sudah kamu buang dulu, kenapa baru sekarang kamu menyesalinya. Eits, jangan bilang kamu menyesal, aku kenal tabiat burukmu.
Pasti kamu telah menghasut Arby selama ini, sehingga dia menjadi anak yang urakan. Tidak memikirkan masa depannya. Tapi, itu tak akan mengurangi cinta kami padanya."
"Kamu sangat terlalu, Elis," tiba-tiba napas papa tersenggal. Aku dan Arby bergegas menghampiri papa, yang menekan dadanya di sebelah kiri. Mama langsung panik melihat kondisi papa.
__ADS_1
"Sekarang Bibi puas, ya! Ini yang Bibi mau 'kan. Bibi mau menghancurkan keluarga ini. Sekarang juga, pergi dari sini. Pergi!" ucap Arby kasar. Mama segera mengambil obat papa dan meminumkannya. Setelah beberapa detik, reaksi obat membuat papa tenang kembali.
"Sejak kapan kamu tau kalau, bibimu itu adalah ibu kandungmu, By," tanya papa setelah merasa tenang kembali.
"Belum lama, Pa."
"Lalu, kenapa kamu tak pernah cerita soal ini. Apakah ibumu memeras kamu, sampai kau bicara serius tadi?" selidik papa. Arby hanya terdiam tapi aku yakin saat ini Arby tidak sedang baik- baik saja.
"Arby, satu hal yang perlu kamu tau, siapapun orang tua kamu, itu tidak akan mengubah kasih sayang kami padamu. Tapi soal Elis, lain pula perkaranya. Papa tidak akan pernah mengubah sikap selagi dia terus berulah dan tidak minta maaf." ucap papa lagi.
"Papa, terimakasih telah tetap menyayangi, Arby. Tadi Arby bermaksud pamit sama papa dan mama, juga Kak Reny. Aku sudah membuat keputusan, untuk pergi sementara waktu. Dengan begitu aku berharap Bibi Elis akan berhenti berulah karena aku telah pergi dari sini. Tapi sebelum itu, biarlah aku penuhi permintaannya dulu. Untuk itu aku minta bantuan papa."
"Bantuan apa?"
"Aku butuh uang 500 juta, Pa."
"500 juta? Untuk Elis atau untukmu?"
"Untuk, Bibi Elis."
"Hem, dia benar-benar berhati iblis! Beraninya memeras anaknya sendiri. Oke, kamu penuhi saja keinginannya. Aku ingin lihat sampai di mana kekuatan uang itu di tangannya. Tentang rencanamu papa setuju saja. Lakukan apa yang terbaik menurutmu. Apapun itu, papa akan siap mendukungmu"
"Aku masih harus membicarakannya dengan teman-temanku. Nanti setelah semuanya rampung, aku akan beritahu papa."
"Kamu yakin dengan rencanamu itu, By. Tidakkah lebih baik kamu membantu papamu bekerja di perusahaan papa. Bersama dengan kakakmu, Reny,"
"Bukan Arby tidak mau, Ma. Tapi, Arby, ingin memulai dari dasar. Berjuang dari nol," ucap Arby sungguh-sungguh.
"Baiklah, mama percaya kamu pasti bisa melakukan itu. Doa mama dan papa akan menyertai kalian. ***
__ADS_1