
Aku menatap upacara penguburan mantan ibu mertua dari kejauhan. Selain karena merasa asing saja, karena beliau dikuburkan di daerah tempat tinggal Sarah. Toh, rumah ibu sudah di jual. Aku juga juga enggan berbaur dengan keluarga mantan ibu mertua.
Kulihat Bram, meraung di atas makam ibu. Dia dapat ijin keluar dari lapas, untuk melihaht ibu dan memberi penghormatan terakhir pada ibu.
Sejuta sesal mungkin telah berlabuh dalaalm hatinya, yang dia tumpahkan di pusara ibu. Aku menatap semua itu dalam diam.
"Kamu tidak apa-apa, Reny?" ucap Dion yang sedari tadi juga diam di sisiku.
"Kita pulang, yuk!" ajakku, karena orang-orang mulai bubar satu persatu. Aku tidak ingin berpapasan dengan, Bram.
"Baiklah," tanpa banyak tanya, Dion menuruti keinginanku untuk segera meninggalkan tempat pemakaman itu.
"Cuaca hari ini lumayan panas, ya." Keluhku seraya mengipaskan tanganku, kewajahku.
"Iya, musin kemarau tahun ini sangat panjang," sahut Dion. "Bagaimana kalau kita mampir dulu, disuatu tempat. Aku yakin bisa menghilangkan penat dan rasa gerah akibat udara panas," ucap Dion memberi ide.
"Layak dicoba," gurauku mengiyakan.
"Oke, siap meluncur," sambungnya sambil bersiul.
Tidak sampai 15 menit, kami telah sampai di tempat yang di tuju. Lokasinya yang agak naik ke bukit di tumbuhi pepohonan rindang, benar- benar adem di tengah teriknya matahari siang hari.
__ADS_1
Dion membukakan pintu mobil untukku, lengan kekarnya menahan di atas kepalaku agar kepalaku tidak terantuk ke kap mobil. Aroma mint tubuhnya menguar menerpa indra penciumanku. Terasa segar.
Dion membawaku ke salah satu cottage. Mataku serasa disugguhi panorama indah di bawah sana. sebuah danau buatan di tengah hamparan sawah yang mulai berbulir. Beberapa orang naik sampan, mengitari danau buatan itu lebih mirip kolam ikan tempat memancing.
Setiap sisi danau di tumbuhi pohon rindang sehingga nampak asri dan teduh.
"Mau pesan minuman apa?" ucapan Dion mengalihkan pandanganku dari danau buatan itu.
"Terserah, apa saja yang menyegarkan," ucapku.
"Oke," Dion melambaikan tangannya memanggil pelayan. Dion memesan makanan dan minuman. Aku kembali asyik memandangi sekitarnya. Aku bahkan beranjak dari kursiku untuk lebih menyatu dengan alam.
"Tamannya sangat asri, membuat betah tinggal di sini," suara Dion mengagetkan. Ternyata dia telah berdiri di belakangku. Aku menoleh dan tersenyum.
"Katanya haus dan lapar, masih sempat juga nyasar ke sini," ucapnya.
"Mataku jauh lebih lapar dari perut, makanya gak sadar kesasar di sini," kekehku.
"Yuk, pesanan kita udah datang. Ngisi bensin dulu, biar ada tenaga bertualang."
"Emangnya aku si bolang," protesku. Dion terbahak mendengar ucapanku.
__ADS_1
"Ayo, kita bertualang dulu, mengulang masa kecil," tantangnya penuh gairah.
"Siapa takut," sahutku pongah.
"Emang masih sanggup?" ucapnya meremehkan.
"Kenapa tidak. Emak-emak jangan dilawan," tukasku tandas. Membuat senyum dan tawa Dion makin melebar.
"Oke, yang kalah harus diberi sanksi,"
"Hem, aku terima tantangannya," sahutku tanpa pikir panjang.
"Kamu siap?"
"Kasih tau dulu apa tantangannya."
"Siapa yang duluan turun dan sampai ke kolam sana. Akan dapat hadiah,"
"Cuma, itu. gampanglah," sahutku anggap remeh.
Dion tersenyum melihat gayaku. Aku baru tersadar, kalau lokasi daerah ini belum aku kenal. Semudah itu menerima tantangan, Dion. Tanpa pikir panjang. *****
__ADS_1